ArenaLTE.com – Kerja sama Project Loon Google dengan tiga operator seluler Indonesia (XL, Indosat, dan Telkomsel) menuai kontroversi. Menurut Heru Sutadi, pakar telekomunikasi sekaligus mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), adopsi Project Loon Google di Indonesia adalah sesuatu hal yang salah. Karena kerja sama tersebut bisa membahayakan kebocoran data, dan rentan ancaman terhadap keamanan negara.

“Hal ini sangat disayangkan, mengapa? Karena keputusan ini terlalu prematur. Tidak didahului dengan kajian teknis, bisnis, dan legal, serta pertimbangkan untung ruginya. Yang sudah-sudah, uji teknis sementara kemudian menjadi setahun atau permanen,” jelas Heru Sutadi, saat dihubungi ArenaLTE.com via WhatsApp, Kamis (29/20/2015).
Baca: Gulirkan Project Loon di Indonesia, Google Alphabet Gandeng Tiga Operator Seluler

Ia menuturkan, Google adalah pihak asing alias perusahaan luar yang tidak memiliki ijin sebagai penyelenggara telekomunikasi di Indonesia. Selain itu, kerja sama Project Loon Google ini juga sudah menyimpang jauh dari rencana pembangunan pita lebar Indonesia, yang digadangkan Pemerintah.

“Kerjasama ini telah menyimpang dari rencana semula, yang mana nantinya dengan balon Google dianggapnya akses internet wilayah terpencil selesai. Padahal, harusnya tetap disambungkan dengan serat optik atau broadband  dengan kapasitas yang lebih dan stabil,” tambah Heru.

Proyek Loon Google yang merancang akan memancarkan koneksi Internet melalui jalur WiFi dengan balon udara, mampu menjangkau jarak hingga radius 40 KM. Teknologi serupa kabarnya juga akan dituangkan dalam pelaksanaan ujicoba proyek ini di Indonesia. Dalam penerapan teknologi balon internet ini, rencananya akan menggunakan frekuensi standar ISM 2.4GHz dan 5.8GHz.

Heru menjelaskan, meski teknologi Project Loon Google yang digunakan lebih efektif dan efisien dalam menjangkau wilayah terpencil, namun adopsi teknologi lain sebenarnya masih bisa dijalankan. Sehingga tidak harus dipatok dengan teknologi dari perusahaan asing yang justru bisa menjadi ancaman.

“Meski teknologi yang digunakan Google terdepan, namun teknologi High Altitude Platform System (HAPS) lain masih banyak dan bisa digunakan. Apakah Google tidak punya kepentingan, sehingga mereka mau menyediakan balon itu? Ujung-ujung agar orang akan makin banyak pakai layanan Google Alphabet sehingga keuntungan diraih perusahaan tersebut lebih besar,” jelasnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa jika kerja sama tersebut hanya akan menguntungkan pihak Google Alphabet saja, sehingga layanannya makin banyak dipakai. Nantinya, hal itu bisa menjadi target iklan tanpa bayar pajak ke negeri ini dan merugikan.

“Lalu, apakah yakin Google tidak mengolah atau menyadap informasi yang ada di republik ini nantinya? Harusnya ini didiskusikan dahulu, jangan tiba-tiba MOU saja. Padahal kita (Indonesia) tidak terburu-buru juga kok dengan hal ini,” jelasnya.

Heru yang juga sekaligus sebagai pengamat telekomunikasi Tanah Air, menjelaskan bahwa baiknya sebelum perjanjian atau MOU dibuat ada diskusi yang dilakukan semua pihak. Baik mengajak tim ahli teknologi HAPS dari kalangan akademis untuk transfer teknologi, maupun semua operator telekomunikasi, penyedia jasa internet, bahkan ahli IT untuk melihat potensi penyadapannya.