REVIEW NOKIA 4.2: BUAT KAUM MUDA DENGAN KAMERA SEADANYA

Plus

  • Tampilan cukup stylish
  • Ada Google Assistant
  • Facelock dan finger print

Minus

  • Kurang bagus dalam lowlight (kamera)
  • Bezel mempersempit layar
  • Mic untuk rekam video kurang bagus

Score: 6.8

DESAIN
7
LAYAR
6
KAMERA
7
MULTIMEDIA
7
PERFORMA
7
VALUE FOR MONEY
7
ArenaLTE.com - Satu lagi seri baru yang dikeluarkan HMD Global. Nokia 4.2, sebuah smartphone yang dari harga dan spesifikasi masuk kelas menengah bawah. Seperti seri-seri lain yang sudah dikeluarkan HMD Global, pihak yang kini berstatus pemilik Nokia, seri ini dijadikan senjata andalan untuk mengerek kembali bendera Nokia –yang dahulu pernah berkibar di pucuk paling tinggi.
 
Nokia 4.2 ini hadir seperti smartphone Android pada umumnya. Tak lagi ada ciri khas Nokia yang disandangnya, kecuali jingle khas Nokia tatkala ponsel dihidupkan. Dahulu, Nokia terkenal dengan desain dan rancangan nyeleneh, yang membuatnya mudah dikenali. Tapi kini tidak lagi. Sebab, susah juga hadir dengan desain out of the box, dengan batasan tuntutan pengguna sekarang yang butuh layar lebar.
 
Yang perlu disadari adalah, pasar menengah bawah ini adalah kolam yang sudah penuh sesak dengan penghuni. Butuh “sesuatu” yang istimewa untuk membedakan dengan competitor, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pengguna. Mengandalkan brand Nokia sendiri, jelas tidak cukup, karena pengguna sekarang lebih rasional –tak lagi fanatic pada satu merek.
 
Lantas, apa yang  menjadi andalan Nokia 4.2 ini untuk bertarung di pasar yang sumpek ini? Apakah punya fitur yang istimewa? Desain yang rancak bana? Harga yang menggoda? Atau paduan dari semua itu? Untuk mengetahuinya, simak review redaksi pada jagoan Nokia di pasar menengah bawah ini:
 

DESAIN

Ukuran             : 148.95 x 71.30 mm
Tebal                : 8.39 mm
Bobot               : 161 gram
Platform           : Unibody


 
Satu yang kalau boleh dibilang unsur pembeda smartphone Nokia dengan yang lain. Yakni, rerata memiliki ukuran yang di bawah smartphone kebanyakan. Nokia 4.2 ini juga begitu, ukurannya termasuk langsing, meskipun agak tebal. Ukuran yang langsing ini membuatnya enak digenggam dan dikantongi. Terasa agak berat memang, tetapi tak begitu mengganggu. Lekukan pada bagian sisi membantu memberi kenyamanan dan menambah grip ketika menggenggam ponsel ini.
 
Soal penampilan, sepintas mirip-mirip smartphone jebolan AS dengan logo apel tergigit itu, terutama tampak depannya. Sementara tampilan bagian belakangnya dibuat glossy dengan lapisan kaca –lapisan yang sama dengan bagian depan. Yang menarik dari bagian belakang ini adalah, penempatan lubang kamera, tombol finger print dan logo Nokia vertikal, tepat di tengah. Komposisi penempatan unsur-unsur itu memberi sentuhan stylish –dan juga memberi sedikit perbedaan karena pada umumnya, lubang kamera ditempatkan di pojok atas back cover.
 
Secara keseluruhan, aspek desain Nokia 4.2 cukup memberi penyegaran. Meskipun notabene merupakan smartphone menengah bawah, namun aspek tampilannya mampu memberikan kesan stylish dan lumayan berkelas.
 

DISPLAY

Jenis                            : IPS LCD capacitive touchscreen, 16M colors
Ukuran                         : 5.71 inches, 81.4 cm2 
Resolusi                       : 720 x 1520 pixels
Rasio Tampilan            : 19 : 9


 
Ukurannya yang di bawah rata-rata, pada akhirnya memang membawa konsekuensi layar yang di bawah rata-rata pula. Ketika banyak smartphone sekelas –dan juga kelas di atasnya—rerata memakai layar lebar di atas enam inchi, Nokia 4.2 ini malah punya layar di bawah itu. Tepatnya 5.7 inchi. Tetapi sepertinya Nokia memang cenderung memakai layar berukuran di bawah 6 inchi untuk lini produknya.
 
Ukuran yang lebih kecil dari smartphone kebanyakan, memang bisa menjadi ciri khas pembeda, yang membuatnya langsung dikenali sebagai ponsel Nokia. Tetapi, dalam era di mana segala sesuatunya dilakukan melalui layar, maka ukuran yang kecil ini agak merepotkan juga. Misal, tampilan keyad virtual dan tombol-tombolnya tentu jadi lebih kecil juga. Sajian laman web, aplikasi, video, game, pastinya juga lebih kecil. Tak masalah bagi mereka yang punya jemari langsing, dan mata yang masih awas. Tetapi yang tidak? Pasti kurang nyaman.
 
Dan yang membuat luas layar seperti kurang optimal juga adalah, bezel yang membingkai layar terlihat masih tebal. Terutama pada bagian bawah, yang menghabiskan ruang sekitar 1 cm. Inilah yang membat layar menjadi terkesan lebih sempit, walau coba diakali dengan penempatan notch dew drop.
 
Kinerja layar sendiri cukup baik. Mampu menyajikan tampilan yang tajam, terang dan komposisi warna yang juga cerah. Performa layar sentuhnya juga baik, mampu merespon dengan cepat pada sentuhan jari, pergerakan antar layar yang juga mulus, serta mampu merespon lebih dari dua titik sentuh dengan baik pula –ini penting untuk gaming yang terkadang harus menekan sejumah tombol bersamaan.
 

KAMERA

Belakang          : Dual 13 MP, f/2.2, 1/3", 1.12µm, PDAF + 2 MP, depth sensor
Flash light        : LED Flash (belakang)
Video               : 1080p@30fps
Depan              : 8 MP, f/2.0, 1/4", 1.12µm
Video               : 1080 @30 fps
 


Sebagai smartphone kelas menengah, wajar jika Nokia 4.2 tak punya kamera dengan besaran resolusi aduhai. Besaran kamera yang dimilikinya, sudah oke untuk ukuran ponsel menengah bawah seperti ini. Apalagi, sudah dual lensa pula. Begitu pula dengan kamera selfie yang ada di depan, besaran 8 Mpix sudah cukuplah untuk mengakomodasi fungsi selfie ini.
 
Soal kinerja kamera dan hasil fotonya sendiri, belum bisa dibilang istimewa, cenderung biasa saja.Malah dalam beberapa hal terlihat kurang optimal. Pada pengujian foto dalam kondisi daylight, siang hari di luar ruang dengan cahaya matahari berlimpah, foto yang didapat terlihat cukup tajam, cerah, dengan saturasi warna yang memadai. Warna-warna terang nampak menonjol dengan bantuan siar matahari langsung yang jatuh pada obyek.


 
Hanya saja, faktor dynamic range terlihat kurang optimal.  Area di bawah bayang (shadowed) yang tak terkena cahaya cenderung terlihat agak gelap dengan detil yang kurang jelas. Kontras dengan area yang terkena sinar secara langsung. Bisa saja focus kamera dialihkan ke area shadowed, dengan cara men-tap pada view finder (layar). Namun jadinya, area shadowed terlihat lebih jelas sedikit, namun area highlight yang terkena sinar secara langsung, jadi terlihat over exposure, alias berlebihan cahaya.
 
Beda lagi hasilnya ketika memotret pada obyek yang keseluruhan berada di shadowed area, atau dalam suasana redup. Hasil foto masih nampak tajam, namun kecerahan dan saturasi warna jadi berkurang. Foto nampak pucat, malah cenderung kelebihan unsur magenta, yang memunculkan nuansa kemerahan –terutama pada obyek yang berwarna putih/terang.
 
Memotret di dalam ruang (indoor) dengan ketersediaan cahaya dari lampu dan juga cahaya matahari yang menerebos dari jendela, hasilnya lain lagi. Sensor kamera tampaknya tak begitu handal dalam menangkap cahaya, karena hasil foto terlihat agak gelap –brightness menurun. Foto taampak terkesan muram, tak secerah ketika memotret di luar ruang dengan cahaya berlimpah.


 
Hal lain, bila memotret menggunakan ponsel ini, sebaiknya hindari memotret dalam posisi backlight –obyek membelakangi (sumber) cahaya. Hasilnya tidak optimal. Anda bisa saja men-tap obyek untuk mendapatkan pencahayaan maksimal pada obyek, namun hasilnya adalah obyek yang masih kelihatan agak gelap, tapi latar belakangnya over exposure. Sebaliknya, mengarahkan focus pada latar belakang, maka obyek kelihatan gelap.


 
Sekarang memotret jarak dekat. Kameranya masih bisa diajak memotret dalam jarak maksimal sekitaran 5 cm. Obyek masih dapat tertangkap dengan baik, dan hasil foto juga menunjukkan gambar obyek yang cukup tajam. Tetapi ada catatannya, dalam memotret jarak dekat ini, kinerja focusing agak kelabakan. Fokus sering lari-lari dari obyek yang dikehendaki, meski sudah berkali-kali focus diarahkan ke obyek.


 
Hal lainnya adalah, jeda antara ketika tombol shutter ditekan dengan kamera yang merekam gambar. Pada kondisi terang benderang, jeda waktu ini tak terasa. Tetapi makin redup suasana, makin panjang jeda waktu ini. Apalagi ketika dipakai memotret pada malam hari. Jadi yang perlu diperhatikan, jangan dulu menggerakkan kamera meski tombol shutter sudah ditekan. Biarkan terdengar nada klik tanda kamera sudah merekam gambar. Kalau tidak, foto akan blur karena efek gerakan.
 
Kamera Nokia 4.2 ini hanya punya bukaan diafragma (aperture) f/2.2, ukuran yang kurang memadai untuk dipakai memotret pada malam hari. Memang masih bisa digunakan untuk night photo, dengan beberapa catatan: Hasilnya kurang optimal, hanya obyek yang terkena atau yang memiliki cahaya saja yang terekam tajam. Lantas, itu tadi, agar optimal gunakan penyangga, entah tripod atau benda lain, untuk memantapkan dudukan kamera agar tak goyang. 


 
Fungsi video? Lumayanlah. Pada luar ruang, video dapat merekam dengan baik, tajam dan cukup cerah. Tetapi dalam ruang, meski ada cahaya lampu, hasil rekam cenderung agak gelap –sama seperti hasil foto dalam ruang. Yang juga kurang adalah, kemampuan rekam audionya. Hasil rekam gambar yang lumayan bagus, tak diimbangi dengan kinerja mic dalam mereka audio.
 
Secara keseluruhan, kinerja kamera Nokia 4.2 ini sudah memadai untuk sebuah smartphone kelas menengah bawah. Meski dari perbandingan dengan competitor sekelas, sepertinya kinerja kamera ponsel ini agak ketinggalan. Hanya saja, fitur Bothie yang jadi ciri khas Nokia, tak disertakan pada seri baru ini.
 

MULTIMEDIA



Karena menganut aliran Android murni, tak banyak aplikasi (bawaan) yang dibenamkan di ponsel ini. Termasuk yang tak dijumpai adalah aplikasi pemutar music dan video. Tapi masih bisa menyetel file music dan video –yang tersimpan di myfile. Hanya saja, tak ada fasilitas penyeimbang nada, playlist, dan sebagainya seperti yang biasa ada di aplikasi pemutar music. Jadi, Anda bisa mengunduh aplikasi semacam itu di toko aplikasi, atau berlangganan aplikasi penyedia music/video.
 
Kualitas audionya sendiri lumayan bagus. Speaker tunggal yang ditempatkan di sisi bawah bisa menyajikan audio yang lumayan enak didengar. Paket penjualan hape ini juga menyediakan headset bawaan, akan tetapi kualitasnya biasa saja –dengan ear bud yang kurang enak juga ketika ditempelkan di kuping. Kalau mau, Anda bisa memakai headset yang kualitasnya lebih bagus. Tersedia port jack 3.5 mm di bagian atas untuk memasang headset.
 
Pemutar videonya sudah mendukung untuk menikmati video-video full HD. Diimbangi dengan audio yang juga oke. Namun memang ukuran layar yang kecil membuat agak kurang nyaman menonton tayangan video. Juga kurang nyaman saat bermain game.
 

NETWORK & KONEKTIVITAS

Jaringan           : 2G/3G/4G LTE Cat 4
WiFI                  : Wi-Fi 802.11 b/g/n, hotspot
Bluetooth         : 4.2, A2DP, LE, aptX
SIM                   : dual nano simcard
USB                  : microUSB 2.0, USB On-The-Go
 


Sudah mendukung jaringan 4G LTE. Namun kapasitas teknologi LTE-nya hanya kategori 4 yang secara teori mampu melakukan transfer data maksimal 150 Mbps untuk download dan 50 Mbps untuk upload. Tidak terlalu besar, namun sudah cukup memadai untuk memenuhi keperluan koneksi data pengguna.
 
Hape ini dilengkapi dua slot simcard ukuran nano, jadi bisa menggunakan dua operator berbeda. Dan slot simcard ini bisa aktif dua-duanya bersamaan, meskipun untuk penggunaan akses data, harus memilih salah satu di antaranya. Di sebelah slot simcard, ada slot untuk kartu memori tipe microSD.
 
Keterhubungan dengan perangkat lain bisa menggunakan wi-fi dan Bluetooth, yang keduanya dalam pengujian mampu berfungsi dengan baik. Meskipun, teknologi Bluetooth yang digunakannya masih versi 4.2. Namun sudah cukup memadai untuk menunjang keterhubungan dengan perangkat lain.
 
Port USB yang digunakan adalah tipe micro USB versi 2.0. Bisa digunakan untuk charging, maupun kabel data. Pun port USB ini kompatibel pula dengan flash disk. Karenanya,  Anda bisa memindahkan data dari flash disk ke ruang penyimpanan ponsel, dan sebaliknya.
 

GOOGLE ASSISTANT



Smartphone menengah bawah ini sudah pula dibekali Google Assistant. Fitur bawaan Google ini berfungsi sebagai  asisten pribad, yang membantu banyak hal. Mulai dari menunjukkan jalan/rute, menjawab berbagai pertanyaan, mencarikan sesuatu dan sebagainya. Untuk mengaktifkan fitur ini, tersedia tombol di sisi kanan. Tekan sebentar, dan Anda bisa mengucapkan apa yang ingin Anda lakukan.  Untuk aspek pengamanan, hape ini punya lapisan pengamanan lengkap, mulai dari face unlock hingga PIN.
 

BATERAI

Jenis                : Lithium-Ion
Kapasitas        : 3.000 mAh
Tipe                  : Non-removable


 
Kapasitas baterainya termasuk sedang, kalau tak boleh dibilang kecil untuk ukuran smartphone keluaran anyar. Namun mengingat spesifikasinya juga yang tak terlalu tinggi, kapasitas seperti itu sudah cukup untuk menopang aktivitas seharian. Dalam keterangan, tak tercantum adanya fitur pengisian baterai dengan cepat. Namun dalam pengujian, pengisian baterai memakan waktu tak terlalu lama juga, dari 5% hingga penuh. Sekira dua jam setengah.
 

PERFORMA

OS                   : Android 9.0 (Pie); Android One
CPU                 : Octa-core (2x2.0 GHz Cortex-A53 & 6x1.45 GHz Cortex A53)
GPU                 : Adreno 505
Chipset            : Qualcomm SDM439 Snapdragon 439 (12 nm)
RAM                 : 3 GB
ROM                 : 32 GB
Ext Memory      : MicroSD hingga 400 GB
 
Sekali lagi, Anda tak bisa berharap hape satu ini dibekali dapur pacu yang mumpuni. Namanya juga kelas menengah bawah. Nah, untuk ukuran level menengah bawah ini, dapur pacu Nokia 4.2 sudah cukup memadai. Prosesornya sudah delapan inti, dan ditunjang dengan kapasitas memori yang cukupan juga (3 GB RAM). Sementara SoC, menggunakan chip kelas entry dari Qualcomm, seri 4.
 
Tentu saja, dengan kapasitas dapur pacu seperti itu, Nokia 4.2 tak bisa digeber melakukan pekerjaan maha berat secara simultan. Tapi tak bisa disalahkan juga, karena ponsel ini memang dirancang untuk kelas menengah bawah. Satu setrip di atas kelas entry level, dengan kata lain, lebih canggih sedikit dari kelas pemula.
 
Dalam kapasitasnya itu, kinerja ponsel ini lumayan oke. Nampak lancar dalam menjalankan aneka fungsi medium. Dipakai simultan bermain game juga tak nampak peningkatan suhu secara drastic. Tak dijumpai tanda-tanda lagging ketika menjalankan aneka aplikasi. Tampilan grafis juga lumayan mulus, dengan pergerakan antar layar yang bagus.
 
Seperti lini produk Nokia lainnya, Nokia 4.2 juga tak dibekali aplikasi dari pihak ketiga. Tujuannya, mengoptimalkan kinerja ponsel, agar tak terlalu banyak beban. Bagus juga sih tujuannya, tetapi ya Anda harus rela repot mengunduh aplikasi-aplikasi yang diinginkan –dan berarti harus korban kuota data bila taka da wifi tersedia.
 

VALUE FOR MONEY



Harga Nokia 4.2 di pasaran adalah Rp2.299 juta. Ini masuk range harga kelas menengah bawah, memang, dan masih dalam jangkauan kemampuan kantong kalangan muda sebenarnya. Masih sebanding antara harga dengan kelengkapan fitur dan kinerja. Namun persoalannya, dia harus bertarung dengan sejibun competitor sekelas yang harganya beda-beda tipis. Namun, beberapa di antaranya punya keunggulan komparatif dari sisi kinerja. Terutama kinerja kamera.
 
Masalahnya, kini Nokia tak bisa lagi mengandalkan kekuatan brand yang dulu pernah melegenda itu. Posisinya sekarang sama saja dengan yang lain. Apalagi, pengguna sekarang lebih rasional, tak fanatic pada brand, tapi lebih berorientasi pada keunggulan kinerja dan kelengkapan fitur, selain harga tentunya.
 

Leave a Comment