Biaya Interkoneksi Telekomunikasi Harus Diwaspadai Konsumen

ArenaLTE.com - ArenaLTE.com – Polemik aturan biaya interkoneksi telekomunikasi yang akan ditetapkan Pemerintah kepada operator Tanah Air kian panjang. Menurut pengamat telekomunikasi Heru Sutadi, masyarakat selaku konsumen diharapkan lebih aware dan memantau perkembangan ini. Pasalnya, imbas dari penurunan biaya interkoneksi akan berdampak langsung ke pengguna, bukan kepada pihak penyedia layanan atau operator.

“Masyarakat harus sama-sama pantau dan bersuara lewat media sosial atau datangi DPR, termasuk KPPU juga jangan diam saja, sebab ini juga terkait dengan kompetisi,” jelas Heru Sutadi, yang saat ini menjabat sebagai Executive Director Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute.

Dirinya menjelaskan perihal biaya interkoneksi telekomunikasi yang bisa dihitung dari data industri oleh konsultan. “Dulu awalnya konsultan yang ditunjuk dan dipilih oleh para operator, namun kemudian konsultan dibiayai oleh negara agar lebih fair dan independen,” jelas Heru.

penurunan biaya interkoneksiIa menuturkan bahwa tidak ada kerugian jika biaya interkoneksi telekomunikasi diturunkan. Pasalnya, jika hal tersebut pun telah diputuskan, hal yang paling langsung berdampak adalah masyarakat sebagai konsumen telekomunikasi. “Kalau interkoneksi mobile IDR204, maka wajarnya tarif ke masyarakat sekitar IDR600 saja, bukan IDR1.000 atau hingga IDR1.500,” tutur Heru.

Baca :

Biaya Interkoneksi adalah Jantung Kompetisi yang Bermanfaat Bagi Masyarakat
Dianggap Pro Asing, Kebijakan Biaya Interkoneksi Minta Dikaji Ulang



Heru juga berharap bahwa masyarakat harus bisa pantau dan bersuara langsung, baik lewat media sosial atau langsung bertandang ke DPR. Bahkan, dirinya menyarankan bisa ke KPPU (Komisi Pengawas Persaingan usaha), jangan hanya berdiam saja terlebih ini soal kompetisi yang berdampak langsung kepada penggunanya.

“ Ya ini akan menyangkut tarif retail. Masyarakat harus waspada. Jika ada kenaikan interkoneksi, maka tarif retail juga akan naik. Semua harus memantau dan bersuara. Karena tarif telekomunikasi harusnya bisa lebih murah daripada saat ini. Wong pakai WA (whatsApp) kan telepon dan kirim pesan gratis tidak berbayar,” tungkasnya.

Ia juga berharap bahwa masyarakat perlu dicerdaskan dari kondisi yang ada ini, terkait biaya interkoneksi telekomunikasi yang menjadi jantung kompetisi. Heru menjelaskan bahwa telekomunikasi bukan lagi sekedar kebutuhan tambahan, sebab saat ini telekomunikasi telah menjadi kebutuhan 3 besar. ”Orang boleh tidak beli pakaian, tetapi pulsa tetap jalan,” pungkasnya.

Leave a Comment