ArenaLTE.com – Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, baru – baru ini menggelar sebuah acara Roundtable Discussion dengan topik “Network and Frequency Sharing For The Best Usage of The Spectrum To Support The Best Quality Of Services in Indonesian Telecom and Broadcasting Business (Challenges & Opportunities) (16/5/2016). Acara insiatif dari MASTEL ini bertujuan membahas tentang solusi network sharing antar operator di Indonesia

Acara diskusi yang juga yang melibatkan stakeholder dari industri Telco dan Broadcast ini juga salah satu wujud kepedulian MASTEL terkait Perpres Rencana Pitalebar Indonesia tahun 2014 yang telah berjalan 1,5 tahun tanpa ada implementasi yang signifikan. Dalam Keynote-nya, Menkominfo Rudiantara menyampaikan pentingnya melakukan network sharing diantara operator guna mendukung penetrasi broadband jangka panjang.

Walaupun demikian Menkominfo mengatakan tidak akan memaksa operator untuk melaksanakan network sharing. Network sharing ini merupakan solusi antara, karena kedepan arahnya tetap konsolidasi. Lebih lanjut Menkominfo menyampaikan bahwa dalam upaya mendukung kegiatan Network Sharing ini, Kemenkominfo akan mengubah aturan lisensi yang ada, seperti lisensi untuk pengadaan BTS secara kuantitas menjadi pengadaan BTS tingkat coverage dan kualitas pelayanan.

network sharing (1)Bentuk kerjasama Network Sharing Operator

Pada kesempatan yang sama, Markus Fessler selaku Head of LTE Business Development Nokia Networks menjelaskan bahwa strategi network sharing sudah terbukti efektif meningkatkan performa layanan sekaligus mengurangi biaya investasi operator. Network sharing antar operator ini bisa dilakukan untuk berbagai jaringan dan frekuensi baik itu 2G, 3G dan 4G LTE dengan berbagai skema kolaborasi.

Diantaranya yaitu Unilateral Service Provision dimana pihak operator A menawarkan layanannya untuk Operator B sebagai penerima layanan. Selanjutnya Mutual Service Provision with asset split dimana kedua belak pihak operator saling memberikan dan menerima layanan dari masing-masing operator. Berikutnya Joint Venture/NetCo dimana kedua operator sepakat untuk membentuk sebuah perusahaan patungan dan layanan yang akan digunakan berasalh dari perusahaan gabungan tersebut dan bentuk kerjasama lainnya yaitu  memanfaatkan layanan Network Provider dimana operator lainnya juga bisa menikmati layanan yang sama.

Menanggapi tentang Network Sharing sebagai solusi efisien untuk meningkatkan layanannya, CEO XL Axiata Dian Siswarini berharap regulator dapat mengedepankan fair treatment dalam pemberian spektrum sehingga operator dapat memperoleh long term sustainability bisnis.

perusahaan patungan indosat XLXL Axiata sendiri telah melakukan kerjasama network sharing 4G LTE dengan Indosat ooredoo dengan membentuk sebuah perusahaan patungan (Joint Venture) PT. One Indonesia Synergy. Kedua operator ini akan menggunakan jaringan 4G LTE yang sama di beberapa kota seperti banyumas, Surakarta, batam, dan Banjarmasin. Kedua operator telekomunikasi ini pun akan mendukung agenda ekonomi digital di Indonesia dengan berencana memperluas kerjasama untuk beberapa kota lainnya.

Pandangan berikutnya yang berasal dari operator disampaikan oleh Telkomsel. Menurut Ivan, Telkomsel sepakat dengan arahan Menkominfo bahwa network sharing harus dilakukan secara sukarela. Namun pelaku network sharing harus berkomitmen tidak mengurangi investasi dan tetap mempercepat penggelaran jaringan ke seluruh Indonesia. Telkomsel hingga akhir 2015 lalu telah menuntaskan ekspansi 4G di 14 kota dan rencananya di tahun 2016 ini ada 16 kota lainnya yang akan menikmati layanan 4G LTE dari Telkomsel.

Namun sejatinya Telkomsel sendiri sudah melakukan sharing backbone dan backhaul dengan Telkom, dan hasilnya pun sudah terlihat Telkomsel menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi yang paling sehat. Hal ini pernah diungkapkan oleh Chairman MASTEL Institute (MI) Bapak Nonot Harsono awal tahun lalu ketika ide network sharing mulai dibicarakan sebagai solusi efisien peningatan layanan di jaringan 4G LTE.

Lebih jauh Nonot Harsono juga mengungkapkan jika Backbone dan Backhaul milik Telkom sebenarnya dapat dijadikan network sharing platform bagi seluruh operator seluler agar terbentuk jaringan pita lebar Indonesia yang terpadu. Dan diharapkan pihak regulator dapat mengeluarkan kebijakan yang bersandar pada sifat alamiah teknologi dan bisnis-teknologi (management of technology), yang mana perkembangan fitur teknologi tidak perlu dipertentangkan, melainkan dimanfaatkan semaksimal mungkin. “Utilisasi jaringan akan meningkat pesat, operator seluler juga turut menjadi efisien dan pada ujungnya, masyarakat akan menikmati layanan berkualitas tinggi”, pungkasnya.