ArenaLTE.com – Samsung, vendor smartphone asal Korea Selatan sepertinya harus terus berjuang keras menjaga eksistensinya di pasar. Profit Samsung diprediksi akan tetap berada di bawah ekspektasi pasar di Q3 2015. Usut punya usut, divisi mobile perusahaan ini yang disalahkan dan dituding menjadi penyebab penurunan performa Samsung.

Sumber dan analis dari Korea Selatan memprediksi jika performa dan profit Samsung pada Q3 melempem, jauh di bawah ekspektasi. Secara keseluruhan, menurut 22 perusahaan pialang, laba operasional Samsung sepanjang Q3 diperkirakan sekitar 65,68 miliar dolar AS per 17 September 2015. Jatuh sekitar 6,4 persen dari bulan sebelumnya..

Sementara jika dihitung secara total, Samsung disinyalir bisa membukukan penjualan triwulanan sekitar 50,17 triliun won (43,14 miliar dolar AS) pada Q3. Sehingga berujung pada keuntungan bersih sekitar 5,4 triliun won (sekitar 4,64 miliar dolar AS).

Jika hitung-hitungan tersebut akurat, berarti Samsung berhasil menjaring pendapatan lebih besar dari Q2 2015, tapi keuntungan bersihnya atau profit Samsung lebih rendah. Salah satu faktor penyebabnya antara lain peluncuran Samsung Galaxy Note 5 dan Samsung Galaxy S6 Edge+ yang masih belum bisa membawa langkah perusahaan menuju jalur yang sesuai harapan.

Patut dicatat jika jika pengapalan Samsung cenderung mengalami peningkatan pada Q3. Tapi di sisi lain ternyata malah terjadi penurunan profit. Hal tersebut dipicu oleh rendahnya permintaan terhadap smartphone high end Samsung. Bisa dibilang margin yang bisa dibukukan lewat penjualan smartphone high end cukup tinggi, sehingga berdampak pada profit Samsung.

Jika perhatian mengerucut pada divisi mobile, unit ini dilaporkan meraih keuntungan 2,34 miliar dolar AS sepanjang Q1. Sementara pada Q2 perusahaan meraup profit 2,36 miliar dolar AS. Dan, kuartal Q3 tahun ini kemungkinan profit tak akan mengalami kenaikan berarti hanya di kisaran 1,72 dolar AS.

“Laba operasional divisi mobile Samsung akan bertahan di angka 2 triliun won (1,72 dolar AS), atau mengalami penurunan 12 persen dari ekspektasi awal,” tandas Lee Jae-yoon, analis dari Yuanta Securities.