ArenaLTE.com – Rangkaian Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di kota Bandung resmi dimulai melalui tahapan pertama, Ignition. Sekitar 200 anak muda kreatif Bandung berkumpul di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) untuk mendapat ilmu dari pembicara kompeten di bidang startup digital, Sabtu (5/10).

Para pembicara tersebut antara lain Yansen Kamto, Chief Executive KIBAR; Alamanda Shantika, Chief Activist FemaleDev; Seterhen Akbar, CEO Labtek Indie; Bima Said, Managing Editor Goal.com; Arief Widhiyasa, CEO Agate Studio; Gibran Huzaifah, CEO eFishery; Ken Ratri, CEO Geekhunter; Stefanie Kurniadi, Founder CRP Group Nasgormafia, Warunk Upnormal; Tita Larasati, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Bandung, Wirjadi Lorens, Founder Oktagon; dan Adi Panuntun, Founder Sembilan Matahari.

Terdapat lima sesi yang menjadi fokus utama pada Ignition Bandung yaitu Entrepreneurial Mindset, Don’t Start a Business, Solve a Problem, Collaboration to Create Innovation, Innovating with Creativity, Notion of Innovation: Innovating with Creativity, dan How to Think like a Founder.

Kegiatan Ignition Bandung ini dibuka dengan paparan dari Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara yang mengaku optimistis dengan geliat startup digital di Bandung. Dikenal sebagai pusat kreativitas dan didukung oleh berbagai komunitas digital yang terus berkembang pesat, Bandung berpotensi untuk menjadi salah satu kiblat tech startup di Indonesia. “Saya memiliki keyakinan, dari sisi kreativitas Bandung menjadi salah satu yang terdepan di Indonesia,” ujar Rudiantara dalam sambutannya.

Rudiantara berharap dengan hadirnya Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dapat melahirkan banyak startup founder yang membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2020 mendatang. Saat ini Indonesia baru memiliki 1,5 persen pengusaha dari sekitar 252 juta penduduk Tanah Air. Indonesia masih membutuhkan sekitar 1,7 juta pengusaha untuk mencapai angka dua persen. Angka tersebut masih kalah dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Singapura yang memiliki jumlah entrepreneur sebanyak 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen. Tentu masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

“Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ini tidak hanya sekadar mengutak-atik teknologi saja. Tapi justru teknologi diharapkan mampu memberi nilai tambah untuk menjadi bisnis yang akhirnya menjadi kekuatan ekonomi Indonesia yang ditargetkan memiliki nilai 130 miliar dollar pada tahun 2020,” Rudiantara melanjutkan.

Optimisme Rudiantara juga disambut positif oleh Yansen Kamto, Chief Executive KIBAR dan penggagas Gerakan Nasional 1000 Startup Digital yang sangat mendukung anak muda Indonesia untuk selalu memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah.  “Indonesia memiliki populasi modern yang produktif dan teknologi dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia dalam membangun pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan meningkat, Indonesia dapat menjadi bangsa yang disegani. Tentunya hal ini dapat mendorong anak Indonesia yang memiliki potensi untuk bergerak melakukan sesuatu untuk negara kita tercinta,” tutur Yansen.

“Setiap tahun memang selalu ada evaluasi, satu diantaranya kota yang memakai design thinking untuk menguji kebijakan dan regulasi. Nanti dalam design thinking akan ada dari akademisi, bisnis, komunitas dan pemerintah berdiskusi untuk memecahkan problem kota, termasuk mengenai program berbasis digital,” Ketua Komite Kreatif Kota Bandung, Tita Larasati memaparkan.

Para peserta di Bandung sangat antusias mengikuti kegiatan yang akan berlangsung di 10 kota ini. Bahkan, ada seorang peserta yang pernah magang di bidang pariwisata di Malaysia rela kembali bergelut di bidang IT untuk mengikuti Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.

Setelah melewati tahap Ignition, peserta Bandung akan mengikuti networking session pada 12 November 2016, di kegiatan itu mereka harus membentuk tim yang terdiri dari hustler, hacker dan hipster. Setelah tim terbentuk, mereka akan berlanjut ke tahap Workshop untuk mendapat materi tentang design thinking, market validation dan business model dari trainer relevan.