Kerugian Siber Di Indonesia Sudah Mencapai 3,7% Total PDB

ArenaLTE.com - Sebuah studi oleh Frost & Sullivan yang diprakarsai oleh Microsoft menunjukkan bahwa potensi kerugian ekonomi di Indonesia akibat insiden keamanan siber dapat mencapai angka USD34,2 miliar. Angka tersebut merupakan 3,7 persen dari total PDB Indonesia sebesar USD932 miliar. Sebagai ahli dalam bidang keamanan, peran Microsoft semakin rumit dan penting untuk keberlangsungan perusahaan kami. 

Tony Seno Hartono, National Technology Officer Microsoft Indonesia menyatakan: “Berapa banyak alat keamanan yang kita punya untuk melindungi lingkungan kita? Untuk menjawabnya tidaklah semudah yang kita harapkan. Namun ketika saya mengetahui perkiraan jumlahnya, ternyata sangat jelas kita berada dalam masalah, dan saya merupakan bagian dari masalah itu. Orang seperti saya sudah cukup lama berada di industri ini untuk menghadapi beragam masalah server dan aplikasi. Sekarang, kita sedang menghadapi permasalahan keamanan.”

Microsoft menganjurkan untuk melihat beberapa alasan mengapa setiap organisasi yang disurvei merasa perlu untuk memiliki strategi keamanan siber. Menurut studi tersebut, hanya 20% berpendapat bahwa keamanan siber merupakan penggerak transformasi digital dan kunci untuk pertumbuhan dan kesuksesan bisnis di masa depan. Sebaliknya, 40% menyatakan alasan tradisional dan taktis, seperti perlindugan dari serangan-serangan dan menjadi pembeda dari kompetitor. Banyak juga yang menyatakan bahwa mengenai proyek baru, masalah keamanan biasanya menjadi pertimbangan setelah pelaksanaan, bukan sebelumnya.

Mengenai hal ini, studi tersebut mendukung sebuah pertanyaan yang kurang menyenangkan yang banyak diketahui: Banyak pengambil kebijakan di wilayah kita masih bergantung pada cara-cara yang sudah kuno dalam menghadapi resiko, dan hal ini mengakibatkan kurangnya informasi dan kesiapan untuk menghadapi tantangan keamanan siber yang dapat secara signifikan menghambat prospek pertumbuhan bisnis mereka. Transformasi digital telah menimbulkan kebutuhan teknologi yang aman dan terpercaya, sebuah faktor terdepan dan inti bagi kesuksesan bisnis.

Namun masih terlalu banyak organisasi yang merasa bahwa keamanan merupakan sebuah tambahan, atau bahkan hal yang dipikirkan pada saat terakhir. Beberapa bisnis berpendapat bahwa mengatasi isu keamanan tidak diperlukan, bahkan disaat kejahatan siber semakin canggih dan di saat batasan TI tradisional semakin hilang dengan berbagai perangkat, aplikasi, dan data yang baru hadir di lingkungan kerja.

“Microsoft memberdayalan bisnis di Indonesia untuk mendapatkan manfaat transformasi digital dengan memberikan teknologi yang tersedia bagi mereka, secara aman melalui platformproduk yang aman, dipadukan dengan kecerdasan unik dan kemitraan industri yang luas. Di Indonesia, kami bekerja sama dengan lima penyedia pusat data lokal yaitu TelkomTelstra, CBN, VibiCloud, Visionet, dan Datacomm, untuk menyediakan platform awan hybrid yang aman yang memudahkan bisnis di Indonesia untuk mengoptimalkan operasi mereka serta memaksimalkan nilai mereka.”

Organisasi dengan solusi keamanan yang siap sedia dalam skala besar bisa saja sulit dan memerlukan biaya yang mahal untuk mendapatkan gambaran penuh seluruh lingkungannya. Hal tersebut kemudian berakibat pada deteksi dan respon yang tidak efektif. Hal tersebut juga mengakibatkan “postur pertahanan pasif” dimana kompleksitas mengalahkan kecepatan dan efektivitas.

Leave a Comment