ArenaLTE.com – Apa jadinya jika bus yang lalu lalang menjadi access point jaringan sehingga pengguna bisa terus menerus terhubung? Singapura sedang mengembangkan bus pintar berteknologi nirkabel. Adalah StarHub, operator seluler terkemuka di Singapura yang bekerjasama dengan National University of Singapore dan perusahaan penyewaan bus ComfortDelGro Bus serta Venian, penyedia solusi Internet of Things (IoT). Mereka telah sukses melakukan uji coba jaringan mesh network untuk proyek percontohan connected vehicles.

Uji cobanya sendiri dilangsungkan di kampus Universitas Kent Ridge menggunakan jenis kendaraan bus sebagai mobile WiFi (wireless fidelity). Berbeda dengan infrastruktur jaringan nirkabel konvensional, bus pintar ini menjadi access point yang saling terhubung antar hotspot dan fixed point yang berada di area gedung kampus. Sebagai jalur akses nirkabel memanfaatkan kombinasi jaringan 4G LTE (Long Term Evolutuion)dan WiFi yang dirancang sebagai penunjang teknologi short range communications (DSRC).

Adopsi DSRC digadang untuk memperluas cakupan (coverage) WiFi yang akan menyediakan konektivitas untuk sejumlah perangkat berbasis IoT. Dengan penyebaran jaringan ini, staf dan siswa NUS dapat mengakses Wi-Fi secara mulus saat bepergian di semua shuttle bus di area kampus. Pengembangan ini juga memungkinkan mitra komersial untuk memanfaatkan data anonim yang dihasilkan dari jaringan untuk menganalisis dan mengatasi tantangan logistik dan transportasi yang dihadapi perusahaan di Singapura.bus pintar 2

Professor Lawrence Wong, Deputy Director of IDMI who is leading the NUS Living Lab initiative, mengatakan dengan dikembangkannya bus pintar ini ada minat yang tumbuh dalam teknologi wireless mesh yang membuat pemerintah mendorong Smart Nation.

“Penyebaran teknologi wireless mesh pada kendaraan memungkinkan NUS untuk melakukan penelitian ke berbagai area seperti perangkat nirkabel jaringan mesh, Komuter dan tren mobilitas, serta teknologi lainnya yang akan mendorong kita untuk menjadi Smart Nation,” ujarnya.

Selain penelitian, data yang dihasilkan dari jaringan mesh nirkabel juga akan digunakan oleh NUS untuk lebih memahami tren komuter dan mobilitas di kampus, sehingga memberikan wawasan ke dalam manajemen operasi dan layanan kampus. Misalnya, dapat melacak persis di mana shuttle bus yang di kampus. Kemudian menentukan jumlah penumpang bus secara real-time. Sehingga akan berguna dalam penyulingan pengawasan armada kendaraan, penjadwalan dan manajemen, agar bus dapat digunakan sesuai dengan memenuhi permintaan.

Dalam jangka panjang, ‘start-up di NUS juga bisa memanfaatkan informasi yang dikumpulkan melalui teknologi untuk menghadirkan solusi dan membuat aplikasi yang akan menguntungkan baik komuter dan industri transportasi.

Platform mesh network yang diuji coba ini memungkinkan bagi StarHub untuk mengeksplorasi cara bagaimana perangkat dapat saling terkoneksi yang dihasilkan dari platform. Sebagai sasaran lain, solusi ini diharapkan dapat mendukung sektor logistik dan transportasi bagi perusahaan yang berperan sebagai provider. Ke depan pihak StarHub dan mitra akan menjajakan solusi ini untuk komersialisasi dan memperluas coverage ke bagian lain di wilayah Singapura.