Layanan digital kini bukan hanya konsumsi masyarakat perkotaan saja. Namun merambah hingga pelosok daerah. Dengan akses yang merata, semua orang memiliki potensi yang sama untuk memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kemaslahatan. Hal ini dirasakan betul oleh Alfonso F Gorang, Rektor Universitas Tribuana Kalabahi, Alor, Nusa Tenggara Timur.

Memimpin institusi pendidikan di daerah perbatasan negara menjadi tantangan tersendiri baginya. Keterbatasan akses informasi menjadi kendala yang cukup berat dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar yang menyesuaikan dengan kebutuhan perkembangan jaman.

Untuk itu, ia merasa amat terbantu ketika jaringan Telkomsel masuk ke daerah ini. “Hadirnya Telkomsel harus diakui membuat kami di Alor bisa menyelenggarkan kegiatan perkuliahan yang tidak kalah dari daerah lain. Teknologi digital yang didukung jaringan berkualitas sangat bermanfaat bagi para mahasiswa. Saat ini Telkomsel lah satu-satnya yang bisa mendukung kami,” kata Alfonso, seperti ditirukan oleh Adita Irawati, VP Corpcomm Telkomsel pada akun media sosialnya.

BTS-Telkomsel-di-Papua
BTS Telkomsel di Papua (Foto: dok Telkomsel)

Hadirnya jaringan Telkomsel hingga wilayah perbatasan negara tak lain merupakan bentuk nyata komitmen untuk membuka akses telekomunikasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Hal ini ditegaskan oleh Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah, yang mengatakan penggelaran jaringan telekomunikasi yang menjangkau setiap jengkal wilayah Indonesia ini dilakukan untuk memerdekakan seluruh masyarakat di NKRI dari keterisolasian komunikasi.

“Akses telekomunikasi bagi masyarakat setempat juga diharapkan dapat mendorong pembangunan di daerah perbatasan, di antaranya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah, serta meningkatkan daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru,” ujarnya.

Secara nasional, saat ini Telkomsel telah mengoperasikan 627 BTS yang berlokasi di perbatasan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Timor Leste, Australia, Filipina, dan Papua Nugini. Dari 627 BTS yang berbatasan langsung dengan tujuh negara tetangga tersebut, 148 di antaranya merupakan BTS 3G yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam mengakses layanan data.

Dari 627 BTS yang berbatasan langsung dengan delapan negara tetangga tersebut, 148 di antaranya merupakan BTS 3G yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam mengakses layanan data. “Beroperasinya BTS 3G Telkomsel di perbatasan negara mempertegas komitmen kami dalam menyediakan layanan broadband yang merata, yang membuat masyarakat di wilayah perbatasan dapat menikmati internet dengan kualitas yang setara dengan masyarakat di kota besar sekalipun,” jelas Ririek.

Ke depannya, Telkomsel berupaya memperluas jangkauan jaringan di wilayah Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Secara nasional Telkomsel telah menggelar lebih dari 118.000 BTS hingga penjuru Tanah Air yang menjangkau hingga 95% wilayah populasi penduduk Indonesia.

drone elang nusa
drone elang nusa

Nah, untuk membuktikan kehandalan jaringan broadband tersebut, Telkomsel punya terobosan yang unik sekaligus kekinian. Anak perusahaan Telkom Group ini menggelar program Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) untuk menjelajahi keindahan Indonesia selama sebulan penuh pada 14 April hinga 14 Mei 2016 yang lalu.

Dalam ekspedisi ini Telkomsel mengajak masyarakat Indonesia bersama-sama menguji kehandalan jaringan broadband Telkomsel, melalui video streaming yang disiarkan dari dua buah drone berjenis UAV (Unmanned Aerial Vehicle) berukuran besar yang melintasi lebih dari 50 kota di Indonesia.

Elang Nusa diklaim sebagai ekspedisi terbesar dan pertama di angkasa Indonesia yang merupakan pembuktian atas keunggulan layanan broadband Telkomsel yang tersebar hingga ke berbagai lokasi di Indonesia. Jaringan broadband Telkomsel yang luas dan cepat mendukung ekspedisi ini, sehingga masyarakat dapat melihat keindahan Indonesia dari udara, hasil dari video yang ditangkap oleh drone yang diterbangkan.

Ekspedisi ini juga menjadi bagian dari uji jaringan yang dilakukan Telkomsel guna menjaga kualitas terbaik mobile broadband, baik 4G maupun 3G, bagi pelanggan di mana pun mereka berada. Layanan Internet cepat 4G LTE terus diperluas sebaran layanannya, dan kini telah hadir di lebih dari 100 kota kabupaten. Sejauh ini Telkomsel telah menggelar lebih dari 4.500 eNode B (BTS 4G).

Membangun Ekosistem Digital

 

telkomsel the nextdev

Tak hanya infrastruktur jaringan yang dibangun, namun operator yang identik dengan warna merah ini juga memiliki perhatian serius untuk membangun ekosistem sekaligus berkontribusi dalam sosial masyarakat. Salah satunya adalah dengan mengajak kawula muda menciptakan aplikasi seluler yang memberikan dampak sosial yang positif, terutama dalam hal pengembangan Kota Pintar (Smart City) dan daerah pedesaan lewat ajang The NextDev 2016.

“Sebagai operator seluler terdepan di Tanah Air, Telkomsel memiliki tanggungjawab untuk memajukan Indonesia melalui teknologi informasi dan komunikasi. Kami mendukung pengembangan Smart City di seluruh Indonesia melalui teknologi yang tepat guna. Karena hal ini akan membantu mengatasi berbagai permasalahan perkotaan seperti kesehatan, pendidikan, transportasi dan lainnya. The NextDev hadir untuk mendorong kontribusi positif generasi muda, di mana aplikasi seluler yang dihasilkan akan mempermudah aktivitas seluruh elemen masyarakat,” jelas Ririek Adriansyah.

Lebih lanjut, Ririek menambahkan bahwa Melalui The NextDev, Telkomsel selaku perwakilan industri ingin mendorong developer (pengembang aplikasi) muda untuk memberikan kontribusi positif dalam memecahkan beragam permasalahan yang ada di kota dengan memanfaatkan teknologi informasi. “Telkomsel sangat yakin dengan potensi dan kemampuan para developer muda dalam negeri di dalam menciptakan sebuah Smart City Apps, dan oleh sebab itu mereka ditantang untuk menampilkan karya terbaiknya di ajang ini,” ujarnya.

Jika The NextDev lebih ditujukan kepada para pengembang aplikasi teknologi seluler, bagaimana dengan anak muda kreatif? Rupanya operator yang kini telah berusia 21 tahun itupun punya wadahnya yaitu Loop Kepo 2016. Vice President Marketing Communications Telkomsel, Nirwan Lesmana mengatakan bahwa generasi muda merupakan ujung tombak perkembangan Indonesia di era digital saat ini. “Melalui LOOP KePo, kami ingin memberikan wadah kepada mereka untuk mengekspresikan ide, passion, dan kreativitasnya sehingga kedepannya mereka siap mendukung Indonesia yang serba digital,” ujarnya.

Nirwan pun menambahkan bahwa melalui LOOP KePo yang sudah berlangsung sejak 2014, Telkomsel terus konsisten untuk mengajak dan mengedukasi para LOOPers di Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna, tapi juga mampu menjadi pencipta (kreator) berbagai konten digital, bahkan diharapkan karya mereka nantinya dapat menjadi sebuah produk komersil yang dapat mengangkat nama mereka.

Nah, untuk mencari para kreator muda yang berbakat tersebut, LOOP KePo 2016 menggelar roadshow di 400 sekolah di 50 kota dari barat hingga timur Indonesia seperti Banda Aceh, Medan, Jambi, Jakarta, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Purwokerto, Malang, Gorontalo, Kendari, Makassar, Palu, Palangkaraya, Banjarmasin, Ambon, Jayapura, Timika, dan lain-lain.

***

Menurut pakar pemasaran digital Yuswohady, ketika masyarakat terkoneksi satu sama lain dan berkomunikasi intens melalui platform digital seperti blog atau Facebook, energi positif meluap-luap pun begitu mudah terbebaskan. Mereka menjadi masyarakat yang terlibat, peduli, partisipatif, bertanggung jawab, dan selalu tergerak untuk berkontribusi dan mengubah dunia.

Namun tidak harus muluk-muluk menciptakan teknologi revolusioner. Kita pun bisa memulai dari hal kecil di lingkungan sekitar. Sebagai contoh, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang gampang dan murah seperti blog dan media sosial, kita bisa menggerakkan warganya untuk berpartisipasi aktif membangun desa. Seperti yang telah dilakukan oleh Kertamalip, Kepala Desa Karang Bajo di kaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Timur.

Di tingkat yang lebih besar lagi, ditambah dengan kemampuan teknis yang memadai, kita pun bisa menghubungkan aspirasi masyarakat sipil dengan pejabat publik. Sebagaimana yang berhasil dilakukan Rama Raditya dengan menciptakan aplikasi digital Qlue. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat melaporkan keluhannya mengenai tumpukan sampah, kemacetan, atau pungutan liar secara langsung. Para pejabat publik khususnya di Jakarta pun berlomba-lomba bekerja lebih baik dengan cara menindaklanjuti keluhan-keluhan masyarakat yang disalurkan lewat aplikasi ini.

Bahkan, sangat mungkin nantinya akan tumbuh banyak technopreneur lokal yang memberi dampak signifikan bagi ekonomi sosial di masyarakat luas. Di sini, kita bisa mengambil inspirasi dari Nadiem Makarim lewat platform transportasi online Go-jek, Ahmad Zacky yang mengembangkan platform marketplace e-commerce Bukalapak, dan sebagainya.

Seperti yang dikatakan oleh Yuswohady, mereka semua menggunakan keajaiban digital untuk mengubah Indonesia bahkan dunia. Bangsa ini membutuhkan ribuan, bahkan jutaan orang seperti mereka.

Dengan segala upaya yang telah dilakukan Telkomsel mengembangkan infrastruktur jaringan broadband hingga ke pelosok negeri serta membangun ekosistem digital di masyarakat, tentu kita patut memberi apresiasi. Karena telah membantu kita meretas jalan untuk mewujudkan mimpi membangun masyarakat Indonesia yang cerdas memanfaatkan teknologi digital untuk kemajuan bangsa.