ArenaLTE.com – Xiaomi yang sedang dirumorkan mengalami kondisi buruk dan kemerosotan dalam industri, tetap nekat untuk terus bermain dan bertahan di wilayah pasar Amerika. Padahal negara ini diakuinya adalah negara besar dan kuat, bahkan begitu sulit untuk menumbangkan pesaingnya yang berasal dari dalam, yakni Apple.  Namun, menurut perusahaan asal Tirai Bambu ini akan ada strategi yang perlu dijalankan khusus di negera Adidaya tersebut.

Xiaomi memang telah mampu menggebrak pasar terutama di industri smartphone. Produsen diakui telah piawai memainkan pasar, terutama dalam menghadirkan produk dengan harga terjangkau. Bahkan, gebrakan dilakukannya dengan menghadirkan beragam perangkat lainnya, seperti gelang pintar, notebook, action cam, hingga rice cooker.

xiaomi redmi note 3
Banyak menghadirkan barang namun tidak memperluas pasaran, beberapa kalangan berpendapat yang dilakukan ini adalah sebuah hal yang sia-sia. Namun perusahaan meyakini, bahwa beragam produk terbaru besutannya ini akan dibawa juga ke pasar negara lainnya, baik berkembang maupun negara adidaya seperti Amerika. Namun, untuk negeri Paman Sam tersebut, perusahaan sepertinya akan mengatur beberapa strategi dan memasukinya dalam waktu dekat.

Dalam sebuah wawancara media Bloomberg, Wakil Presiden Internasional, Hugo Barra, mengungkapkan bahwa perusahaan memang tidak mampu lagi untuk keluar dari pasar AS. Karena wilayah pasar ini dianggap sangat penting bagi perusahaan, terutama untuk produk elektronik.

Hugo menjelaskan bahwa Xiaomi akan masuk ke negara Amerika dengan memanfaatkan media sosial, sebagai strategi perusahaan untuk mempromosikan smartphone dan produk lainnya. Dirinya juga mengungkapkan bahwa akan meluncurkan produk baru di AS, yang dipercaya akan dikeluarkan pada Oktober ini. Namun sayangnya, perusahaan tidak menjelaskan detail produk yang akan dihadirkan.

Kinerja Melempem

Sebagai informasi, Xiaomi saat ini disebutkan dalam keadaan ‘sakit’ karena prediksi kemajuan perusahaan diungkapkan jauh dari perkiraan. Nilai valuasi yang dikabarkan bernilai USD45 miliar pada 2014 silam, diindikasikan semakin merosot. Bahkan dikabarkan nilai tersebut kini hanya berada dikisarkan USD4 miliar.

Kemerosotan penjualan yang dilakukan Xiaomi pun terjadi di wilayah negeri asalnya sendiri, yakni China. Penjualan smartphone tidak mengalami peningkatan hingga kuartal II tahun 2016 ini.

Belum lagi ponsel pintar besutannya ini tidak bisa masuk pasar Amerika bahkan secara resmi di Indonesia sekalipun. Padahal beberapa aksesorinya sudah terlebih dahulu masuk, seperti power bank, headphone dan Mi Band melalui penjualan online di situs Mi.com. Di Indonesia, kendala utama yang dihadapi vendor ini adalah peraturan TKDN yang membuat banyak produk barunya tidak lolos sertifikasi Postel.