ArenaLTE.com – Ada stigma yang berkembang di masyarakat bahwa smartphone lokal dianggap masih berkualitas rendah. Sehingga konsumen lebih banyak yang memilih ponsel buatan luar. Hal ini diungkapkan oleh Shannedy Ong, Country Director Qualcomm Indonesia saat ditemui ArenaLTE.com di Singapura (31/3/2016). “Selama ini, para produsen ponsel di Indonesia memang lebih suka bermain di kelas menengah dan ke bawah. Padahal ini juga mempengaruhi persepsi konsumen yang selalu menganggap brand Indonesia adalah brand murah dengan kualitas yang tidak bagus,” ujarnya.

Untuk itu, perusahaan semikonduktor yang bermarkas di San Diego, Amerika Serikat ini, ingin membantu meningkatkan level kualitas smartphone buatan dalam negeri. Mereka berupaya melakukan pendekatan dengan sejumlah perusahaan smartphone lokal. “Kerja sama ini merupakan kontribusi Qualcomm dalam pengembangan dan menumbuhkan industri teknologi ponsel pintar di Indonesia. Industri ponsel di Indonesia harus berkembang dan tidak semata menjalankan proses perakitan secara lokal saja,” kata Shannedy.

Shannedy Ong, Country Director Qualcomm Indonesia
Shannedy Ong, Country Director Qualcomm Indonesia

Ia menjelaskan, perakitan pabrik memang menyerap tenaga kerja. Tetapi otaknya adalah berada di riset dan pengembangan. Selain itu, pihaknya juga bermaksud untuk membantu para produsen lokal untuk memenuhi syarat TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri). “Untuk itu kami ingin menjalin kerja sama dengan para pemain lokal khususnya ODM (Original Design Manufacturer) supaya mereka bisa akses ke teknologi yang dimiliki Qualcomm dan bisa melakukan pengembangan di Indonesia,” ujarnya.

Shannedy mengungkapkan ada tiga perusahaan ODM lokal yang dibidik untuk diajak kerjasama menjadi licensed partner. Namun pihaknya belum bersedia mengungkapkan siapa saja mereka. “Yang pasti, Qualcomm berencana memberikan lisensi kepada ODM lokal supaya bisa mengakses teknologi langsung dari sumbernya. Tak hanya akses teknologi, tetapi semuanya termasuk layanan help desk. Jika berhasil, kerja sama ini juga akan menguntungkan pemerintah Indonesia karena industri ponsel pintar lokal bisa kian maju,” tambah Shannedy.

Ketika ditanya apakah ada rencana untuk membangun pusat riset (research centre) dengan membangunnya secara mandiri atau kerjasama dengan universitas, pria yang sebelumnya pernah berkarir di Ericsson ini mengatakan hingga saat ini masih belum ada rencana ke arah itu dari Qualcomm. Dari penelurusan di website resmi perusahaan, selain tersebar di beberapa kota di Amerika Serikat, Qualcomm saat ini juga memiliki kantor riset di luar negara asalnya yaitu Austria, India, China, dan Korea. Shannedy menjelaskan pihaknya masih fokus pada membantu produsen smartphone untuk mengembangkan kualitas produk dari teknologi yang dimilikinya.

Shannedy juga berharap, dengan dirilisnya chipset teranyar Snapdragon 820, smartphone lokal juga naik kelas. “Dengan mengadopsi Snapdragon 820, para vendor lokal bisa mengembangkan satu identitas yang bisa mengangkat brand mereka. Karena Snapdragon 820 adalah chipset flagship. Jika mereka pakai ini, secara tidak langsung akan mengangkat prestise mereka dengan memiliki smartphone premium berkualitas tinggi,” pungkasnya.