ArenaLTE.com – Jika saatnya nanti kereta MRT (Mass Rapid Tansport) di Jakarta telah beroperasi, yang sebagian melayani jalur kereta bawah tanah (subway), maka yang harus dipikirkan kemudian adalah tersedianya koneksi seluler di sepanjang jalur underground tersebut. Tanpa tersedianya jaringan seluler terutama layanan 4G LTE di jalur kereta bawah tanah yang memadai, maka penumpang nantinya akan dibuat sulit berkomunikasi karena tidak ada sinyal.

Nah, baru-baru ini, operator seluler Australia, yakni Optus menggelar layanan 3G dan 4G LTE di jalur kereta bawah tanah di kota Melbourne. Meski Optus membangun jaringan, namun dalam perjanjian dengan otoritas kereta api, pihak operator harus bersedia menyewakan jaringannya kepada operator seluler lain. Dalam tahap awal, coverage 3G dan 4G LTE di jalur kereta bawah tanah disiapkan sepanjang rute 12 km, mencakup stasiun Flagstaff, Melbourne Central hingga stasiun di gedung parlemen.

Sebelumnya pemerintahan Liberal di Negara Bagian Victoria telah mengumumkan kesepakatan untuk penyediaan coverage di jalur kereta metropolitan pada bulan Juni 2014. Menteri Transportasi Australia Jacinta Allen mengatakan, ”Kini telah berakhir era frustasi bagi penumpang kereta bawah tanah, percakapan tidak akan tiba-tiba putus saat memasuki terowongan.”
BacaMiFi LTE Advanced Cat 11 Pertama di Dunia Bisa Ngebut Hingga 600 Mbps

Secara teknologi, ada beberapa solusi untuk menghadirkan koneksi seluler baik 3G maupun 4G LTE di jalur kereta bawah tanah. Di New York, AS, ada Terowongan bernama Lincoln Tunnel menghubungkan Manhattan ke New Jersey itu memiliki panjang 2,4 km dan “dibalut” oleh dinding dengan cincin besi seberat 19.000 kilogram, belum lagi ia berada di kedalaman 30 meter di bawah permukaan sungai Hudson. Nah, dalam terowongan itu, bagaimana agar tetap ada sinyal telepon seluler? Seperti dilaporkan oleh The Verge, masalah itu rupanya sudah dipikirkan sejak 20 tahun lalu oleh otoritas yang bersangkutan, yaitu New York & New Jersey Porth Authority.

Dengan menggandeng operator utama saat itu, AT&T, otoritas tersebut memasang sebuah sistem bernama “leaky coax”, sederhananya bisa diterjemahkan sebagai “kabel bocor”. Sistem ini dipasang sepanjang 2,4 km terowongan itu di setiap jalur terowongan, yang terdapat total tiga jalur di terowongan itu. Nama “kabel bocor” memang menggambarkan teknologinya, yaitu kabel yang permukaannya memiliki banyak lubang. Dari lubang-lubang itulah sinyal seluler akan dibocorkan ke luar.

Namun, masalahnya adalah loss signal alias hilang sinyal yang terjadi akan sangat besar. Maka mereka memasang BTS pada kedua gedung ventilasi yang digunakan untuk memompa udara segar dari luar terowongan. Hal ini “membagi” terowongan dalam ruas-ruas 600 meter yang jauh lebih mudah diatur dari sisi loss-nya.

Kenapa tidak memasang antena saja di dalam terowongan? Jawaban pertama adalah, antena bisa rusak oleh alat pembersih yang digunakan di terowongan tersebut. Jawaban kedua, jika menggunakan antena maka harus di-upgrade setiap kali ad teknologi baru. Sedangkan dengan sistem “kabel bocor” ini, yang perlu diupgrade hanya 2 BTS yang ada di gedung ventilasi. Artinya, meski dipasang sejak 20 tahun lalu, teknologi “kabel bocor” ini sukses bertahan melalui era 2G, 3G, hingga kini di era 4G, dan mungkin hingga era 5G nanti. Saking efektifnya, teknologi ini kabarnya juga akan digunakan untuk menyediakan sinyal di jalur kereta bawah tanah tertentu. Terutama jalur yang berbelok-belok.

Sumber: Cellular-news
Foto: Shutterstock