ArenaLTE.com - Perusahaan teknologi kinerja pemasaran Criteo hari ini merilis Q3 2016 State of Mobile Commerce Report. Laporan ini memberikan wawasan mengenai kebiasaan konsumen dalam berbelanja dan prediksi untuk perdagangan melalui perangkat mobile di kawasan Asia Pasifik.

Pada laporan tersebut, menggarisbawahi perangkat mobile mulai mendominasi lanskap perdagangan online, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Dengan pembelian melalui perangkat mobile mencapai masing-masing 68 persen dan 60 persen dari semua transaksi eCommerce di Indonesia dan Taiwan, peritel regional yang dapat memanfaatkan tren ini akan berhasil meningkatkan jumlah transaksi di musim belanja yang akan datang.

Untuk pertama kalinya, aplikasi mobile menikmati nilai pemesanan yang lebih tinggi daripada desktop dan mobile web. Dengan rata-rata US$127 dibelanjakan melalui aplikasi dibandingkan US$100 melalui desktop dan US$91 melalui mobile web.aplikasi bukalapak

Yvonne Chang, Executive Managing Director Criteo wilayah Asia Pasifik mengatakan kawasan Asia Pasifik telah menjadi pusat kekuatan mobile commerce selama beberapa tahun terakhir, yang didorong oleh kepemilikan beberapa perangkat mobile oleh konsumen secara perorangan di negara-negara maju seperti Hong Kong, Jepang, Singapura dan Taiwan.

"Kemudian diikuti oleh negara-negara “mobile-first” atau “mobile-only” yang berkembang pesat seperti India, Indonesia, Malaysia dan Vietnam. Dengan meningkatnya kemakmuran dan infrastruktur teknologi yang memungkinkan lebih banyak orang untuk memiliki ponsel atau pun terhubung secara online, maka hanya masalah waktu sebelum wilayah ini mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin global dalam transaksi mobile commerce, "kata Yvonne Chang.

Menurutnya Mobile commerce telah mencapai titik krusialnya dan melebihi pembelian melalui desktop ketika peritel regional terus berinvestasi di platform mobile shopping. Namun, para peritel harus selangkah lebih maju dan menciptakan pengalaman mobile dan pengalaman lintas-perangkat yang tanpa kendala sehingga pengguna merasa nyaman selama proses pembelian melalui jalur digital. "Brand yang menguasai tren mobile akan mengungguli para pesaingnya, serta meraih momentum untuk menjadi yang terdepan dalam musim belanja selanjutnya," tambah Chang.

Penelitian Criteo menunjukkan bahwa brand tidak bisa lagi mengabaikan platform mobile sebagai kebutuhan utama untuk mendorong penjualan eCommerce. Meskipun kemajuan teknologi telah memudahkan aktivitas belanja melalui perangkat mobile, pemasar dihadapkan oleh tantangan untuk menyasar konsumen di setiap kesempatan saat konsumen melakukan proses pembeliannnya.

Untuk meningkatkan pendapatan, peritel harus menggabungkan kekuatan mobile web dan ketersediaan aplikasi dengan strategi penyasaran mobile yang lebih personal untuk berinteraksi dengan pembeli di mana pun dan kapan pun mereka mencari informasi secara online dan melalukan proses pembelian.
 

Baca juga:
Ini Catatan ShopBack Dari Ajang Harbolnas 2016
Komitmen Lima eCommerce Tanah Air Lawan Pembajakan
8 Tips Aman Menggunakan Internet Banking


Poin-Poin Penting dalam Laporan:

Data menunjukkan pembelian melalui perangkat mobile lebih tinggi dibandingkan pembelian melalui saluran digital konvensional. Peritel yang telah mengoptimalkan pengalaman belanja mobile mereka secara baik (baik itu melalui aplikasi maupun melalui perangkat mobile) jauh meninggalkan para pesaingnya dan terus melihat traksi yang kuat dari konsumen:

Indonesia muncul sebagai pemimpin regional, dengan penjualan mobile sekarang mencapai 68 persen dari seluruh transaksi eCommerce untuk para peritel teratas.

Pada Semester pertama 2016, peritel teratas di Asia Tenggara menikmati pertumbuhan penjualan online sebesar 37 persen secara tahunan, dan sekarang menguasai 54 persen dari seluruh transaksi eCommerce.

Di semua peritel Asia Tenggara, pangsa mobile transaksi eCommerce meningkat 19 persen secara tahunan.

Pembeli Berbasis Smartphone: Smartphone kian populer sebagai perangkat pilihan untuk berbelanja secara online, terutama karena ketersediaan fitur seperti pemindai sidik jari memudahkan proses transaksi, sementara pembelian melalui tablet terus mengalami penurunan. Semua peritel harus memastikan mereka memiliki strategi pemasaran mobile-centric yang melalui aplikasi maupun mobile web untuk memenuhi kebutuhan konsumen berbasis smartphone. Untuk kawasan Asia Pasifik, data spesifik wilayah menunjukkan bahwa peritel harus berfokus pada optimasi mobile untuk perangkat dengan ukuran layar yang lebih kecil dan membuat aplikasi mereka tersedia di Google Play, dan bukan hanya Apple App Store.

Untuk pertama kalinya, pembelian melalui smartphone mencetak angka tertinggi pada sebagian besar transaksi mobile di setiap pasar utama di dunia, dengan kawasan Asia Pasifik – Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan - berada di garis depan.

Smartphone terus mendominasi pangsa transaksi ritel melalui perangkat mobile di Asia Pasifik, dengan lebih dari 80 persen transaksi dilakukan melalui smartphone (dibandingkan dengan tablet) di Jepang, Asia Tenggara, Korea Selatan dan Taiwan, jauh melampaui AS dan Inggris, di mana setidaknya 30 persen dari transaksi mobile ritel dilakukan melalui tablet .
Aplikasi Canggih Mendorong Konsumen untuk Berbelanja: Peritel teratas sedang mengembangkan aplikasi yang cerdas, intuitif dan berguna yang memberikan kenyamanan kepada konsumen untuk berbelanja melalui perangkat mobile. Kemampuan seperti ketersediaan home screen, pemuatan konten secara instan, konten offline, notifikasi yang sering kali muncul secara otomatis, personalisasi dan akses terhadap fungsionalitas bawaan menciptakan pengalaman berbelanja mobile yang lebih kaya dan lebih mendalam bagi konsumen. Brand yang dapat memberikan lingkungan yang kaya fitur seperti ini dan menciptakan pengalaman terpadu, konsisten dan relevan untuk pembeli terlepas dari perangkat yang digunakan akan berhasil dalam mendorong tingkat retensi dan konversi:

Peritel dengan aplikasi seluler canggih melihat bahwa hingga 54 persen dari transaksi mobile mereka dihasilkan melalui pembelian melalui aplikasi di kuartak kedua 2016, meningkat dari 2015 yang hanya sebesar 47 persen. Pemimpin dalam aplikasi mobile mendorong konversi 90 persen lebih tinggi dibandingkan peritel baru. Aplikasi menghasilkan lebih banyak pembelian di bandingkan perangkat belanja online lainnya dan dan menkonversi tiga kali lebih banyak pembeli dari mobile web.