ArenaLTE.com - Saat ini  dunia sedang menghadapi pandemi virus corona COVID-19 dengan serangkaian tantangan di sektor kesehatan, sosial, dan ekonomi. Opensignal tengah menganalisis perubahan perilaku pengguna seluler dan pengalaman jaringan yang terjadi selama krisis berlangsung. Kami berencana untuk berbagi data dan temuan untuk membantu para operator seluler, regulator telekomunikasi, dan pemerintah untuk mempersiapkan dan menanggapi tantangan yang ada dikarenakan kehadiran virus tersebut, pada masa-masa luar biasa ini. 

Banyak negara yang  sudah menerapkan pembatasan mobilisasi bagi warga negaranya untuk mengurangi penyebaran virus tersebut. Kita sedang berada dalam situasi yang tidak pasti dan berubah dengan cepat, sehingga banyak masyarakat yang menyesuaikan diri  dengan situasi ‘normal yang baru’ seperti ini  namun belum stabil.  Setiap negara berada pada tahap yang berbeda dalam proses transisinya. 

Indikator awal untuk mengenali perubahan yang terjadi adalah persentase waktu rata-rata yang dihabiskan pengguna smartphone untuk terhubung ke jaringan Wifi (Time on Wifi atau waktu penggunaan Wifi). Ketika orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Time on Wifi (waktu penggunaan Wifi) pun meningkat. Biasanya, orang lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk terhubung ke jaringan Wifi pada akhir pekan dan selama hari libur nasional – hal ini menunjukkan adanya peningkatan waktu yang dihabiskan dirumah. 

ASIA
Pada awalnya, terlihat persentase waktu yang dihabiskan untuk terhubung ke jaringan Wifi meningkat di Hong Kong, tetapi itu beberapa minggu sebelum adanya perubahan signifikan di sebagian besar wilayah Asia lainnya. Kami mengamati adanya lonjakan terhadap Time on Wifi (waktu pengunaan Wifi) dari minggu ke minggu di Filipina pada minggu ketiga Maret, yang dimulai pada 16 Maret,  dimana pulau utama negara tersebut sedang dalam masa karantina.
 
Dalam deteksi adanya sedikit peningkatan, namun masih signifikan, Time on Wifi (waktu penggunaan Wifi) dari minggu ke minggu di Filipina pada minggu kedua Maret,  Negara lain juga mengalami peningkatan yang signifikan pada minggu ketiga Maret, termasuk Malaysia dan Australia. Kami juga melihat adanya tanda-tanda peningkatan Time on Wifi (waktu  penggunaan Wifi) di Thailand. Namun, Time on Wifi (waktu penggunaan Wifi) menurun di Korea Selatan, kemungkinan dikarenakan berkurangnya kekhawatiran masyarakat setempat untuk sementara ini. 

EROPA
Banyak negara di Eropa yang melihat adanya peningkatan yang besar terhadap  persentase waktu yang dihabiskan pengguna smartphone untuk terhubung ke  jaringan Wifi pada minggu ketiga Maret. Sampai saat ini, lonjakan dari minggu ke minggu tertinggi dicatat oleh pengguna di Spanyol. Ini merupakan lockdown seminggu penuh pertamabagi Spanyol, dimana negara tersebut juga dinyatakan sebagai negara kedua terparah di Eropa yang dilanda wabah COVID-19. Italia melihat perubahan ini terjadi lebih awal, dengan peningkatan yang sudah dimulai pada minggu terakhir bulan Februari. 

AMERIKA UTARA
Di Amerika Utara, OpenSignal mendeteksi adanya peningkatan signifikan dalam persentase waktu yang dihabiskan pengguna smartphone untuk terhubung ke  jaringan Wifi pada minggu ketiga Maret, dimulai pada 16 Maret, dengan perubahan  terbesar yang terjadi di Kanada. Pada tanggal 15 Maret, Centers for Disease Control and Prevention (C.D.C) menyarankan untuk tidak melakukan pertemuan yang terdiri dari 50 orang atau lebih selama delapan minggu ke depan. Minggu ketiga Maret juga dimulai dengan adanya penutupan sejumlah bar, teater, dan bioskop di New York. 

AMERIKA SELATAN DAN TENGAH
Amerika Selatan juga menunjukkan peningkatan  persentase waktu yang dihabiskan pengguna smartphone untuk terhubung ke jaringan Wifi. Pengguna di Argentina, Brazil, dan Peru menghabiskan Time on Wifi (waktu  penggunaan Wifi) lebih banyak pada minggu ketiga Maret, dimulai pada 16 Maret, dimana sejauh ini, Peru  mengalami peningkatan dari minggu ke minggu terbesar. Ini adalah minggu dimana karantina 15 hari mulai diberlakukan di negara tersebut, bersamaan dengan aturan jam malam mulai pukul 20.00 hingga 05.00. Sebaliknya, negara bagian Brazil yang paling parah terkena dampak, São Paulo, tidak memberlakukan lockdown hingga 24 Maret.