ArenaLTE.com - ArenaLTE.com – HMD Global, perusahaan di balik kelahiran Nokia di industri smartphone telah resmi mengumumkan kehadiran produk perdananya yang membawa nama Nokia 6. Produk yang pertama kali diperkenalkan pada ajang acara MWC 2017 beberapa waktu lalu ini, sekaligus menjadi pertanda kelahiran kembalinya Nokia di industri ponsel setelah lama menghilang dan akuisisi Microsoft. Dibalik hingar bingar kedatangannya kembali, ternyata ada kekurangan dari ponsel baru ini?

Dalam sebuah pengumuman barunya, HMD Global mengungkapkan bahwa Nokia 6 hadir dengan polesan baru yang lebih perkasa. Hal itu hadir dari balutan bahan alumunium blok 6000 series yang ditempa dalam waktu 55 menit, sekaligus polesan dari anodisa double sebanyak lima kali untuk membuatnya terlihat cemerlang dan selalu mengkilap.

HMD Global menjelaskan bahwa produk ini berada di tangan tepat para ahli, karena terlihat dari pembuatannya yang tidak main-main. Seri ini datang dengan bodi berbalut logam yang juga dihias cantik dengan dimensi layar yang luas 5,5 inci, dilengkapi dengan dukungan resolusi layar 1.920x1.080 piksel.

Selain itu juga Nokia 6 dibalut dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 430 dan dukungan memori RAM yang besar dengan kapasitas mencapai 4GB. Nokia 6 yang hadir dengan sistem operasi Android 7.0 Nougat pun diungkapkan memiliki penyimpanan internal sebesar 64GB, yang juga didukung dengan slot microSD untuk penambahan yang lebih luas.

Android Nokia 6

Pun demikian, dibalik segudang fitur yang dibawa Nokia 6 dalam debutnya kali ini bukan berarti hal tersebut tidak menyiratkan kekurangan. Sedikitnya ada beberapa kekuarangan yang diungkapkan banyak analis untuk pendatang baru ini. Berikut kami rangkum kekurangan dari Nokia 6 dari beragam sumber.

Bukan produk Flagship

Ok, Nokia pernah merajai dunia ponsel dalam rentang waktu yang cukup lama, bahkan hampir mendominasi selama beberapa waktu tersebut. Dari kedigdayaannya dahulu pastinya ada beragam produk yang dihadirkan dalam beragam kelas, dari kelas low-end, middle-end hingga high-class atau premium. Dan tentunya, hingga detik-detik menghilangnya produk di pasaran hingga diakuisisi Microsoft banyak produk kelas premium yang dihadirkannya. Tentunya hal itu untuk menghidupkan lagi brand Nokia, namun sayangnya usaha itu tanpa hasil dan tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Dalam debut kali ini pun cara lama seperti itu sepertinya tidak di adopsi oleh HMD Global, dan Nokia 6 tidak hadir sebagai produk premium atau high-class. Hal itu bisa diidentifikasi dari penggunaan prosesor yang diadopsi pada produk. Seri ini hanya membawa prosesor Qualcomm Snapdragon 430 yang notabene adalah prosesor yang digunakan untuk smartphone kelas menengah, meski perlu diakui hal itu ditutup dengan kehadiran RAM kapasitas 4GB.

Baca : 
Smartphone Perdana Android Nokia 6 Resmi Beredar
Microsoft Kembali Luncurkan Feature Phone Nokia 216



Melihat dapur pacu yang menggunakan prosesor di kelas menengah, tentunya banyak analis mengungkapkan bahwa Nokia 6 pun tidak akan dilepas di atas harga IDR3 jutaan. Meski hal itu pun belum bisa diyakini saat mendarat di Tanah Air.

Kapasitas Produk

HMD Global, perusahaan asal Finlandia yang memegang lisensi smartphone Nokia dalam 10 tahun ke depan memang kerap disinggung adalah perusahaan yang baru “seumur jagung”. Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa belum adanya kekuatan nama perusahaan di pasar, menjadi batu sandung Nokia 6 tidak dilirik konsumen. Selain itu, karena masih dianggap ‘bau kencur’ perusahaan ini pun belum diyakinkan akan mampu mencetak kapasitas produk yang besar, dan alasan ini yang kerap digunakan kenapa perusahaan hanya memasarkannya di satu negara saja, China.

Pun demikian, beberapa sumber lain menyebutkan bahwa Nokia 6 yang keluar pada gelombang 1 di 2017 ini adalah sebagai awal produk dari produsen. Karena kabarnya, gelombang kedua dan ketiga dari smartphone Nokia akan hadir pada Q2 dan Q3 2017. Seperti dikutip dari phonearena, rangkaian ponsel tersebut akan mengusung display dengan ukuran bervariasi mulai dari 5-5,7 inci mendukung resolusi QHD (2560 x 1440 pixels) atau full HD (1080p).

Melihat kurangnya antusias dan dikeluarkannya per kuartal untuk satu produk, mengidentifikasikan bahwa memang sepertinya produsen ini tidak bisa atau memang kurang yakin untuk menghadirkan kapasitas besar. Dengan terbatasnya kapasitas produksi, tentunya banyak konsumen yang menanyakan bagaimana bila ada produk yang rusak atau harus diganti dengan unit baru.