ArenaLTE.com - Di tengah perluasan cakup konektivitas 4G LTE ternyata memberikan dampak peningkatan akses internet yang signifikan sejak tahun lalu. Dalam laporan yang disusun oleh The Economist Intelligence Unit dan disponsori Facebook, dari 70 negara yang termasuk dalam Indeks 2017 dan 2018, persentase rata-rata rumah tangga yang terhubung ke internet berkembang dari yang sebelumnya 44,9% menjadi 48,6% peningkatan sebesar 8,3%.

Kemajuan ini merupakan yang tercepat di antara negara-negara berpenghasilan rendah yang termasuk dalam Indeks, dimana persentase rata-rata rumah tangga yang terhubung meningkat dari 8,0% menjadi 13,2%, atau meningkat sebesar 65,1%.

Indonesia, secara khusus, menduduki peringkat ke-24 dalam hal keterjangkauan atau pemerataan yang berarti internet di negara ini dinilai cukup terjangkau dibandingkan Negara lain seperti Malaysia dan Thailand. Terkait dengan dengan ketersediaan internet, Indonesia menduduki peringkat ke-42 atau satu peringkat di bawah Filipina dan Vietnam.

Dalam hal relevansi dan kesiapan, Indonesia berada di peringkat 47 dan 30 – di bawah Thailand yang menempati posisi 34 dan 24. Secara keseluruhan, Indonesia berada di peringkat 35 setelah Vietnam dan sebelum India.

Indeks tersebut juga mengidentifikasi ekspansi yang cepat dalam ketersediaan layanan mobile internet. Cakupan layanan mobile 4G berkembang secara signifikan, terutama di beberapa negara termasuk Guatemala, dengan perkembangan 3.935,0%, dan Indonesia (658,8%). Sementara itu, harga rata-rata paket data mobile broadband 500MB prabayar sebagai persentase pendapatan bulanan turun dari hampir 3,3% tahun lalu menjadi 2,9% di tahun 2018, terjadi penurunan sebesar 10,1%.

Peningkatan pengukuran kesenjangan gender dalam akses internet mencegah perbandingan dari tahun ke tahun, namun masih terlalu tinggi: di antara negara-negara yang termasuk dalam Indeks, proporsi pria yang mengakses internet rata-rata 33,5% lebih tinggi daripada proporsi wanita.

Di antara negara-negara berpenghasilan rendah, kesenjangan gender adalah 80,2% dengan mayoritas laki-laki. Namun, sejumlah negara berpenghasilan rendah, seperti Nepal, Malawi, dan Mozambik, mengutamakan kebijakan yang dirancang untuk mempromosikan inklusi internet di kalangan perempuan dan anak perempuan, khususnya pelatihan ketrampilan digital dan pendidikan STEM.

Indeks 2018 disertai dengan Nilai Survei Internet yang baru, dengan mengumpulkan 4.267 pengguna internet di 85 negara untuk menganalisis dampak internet terhadap kehidupan mereka. Survei tersebut mengungkapkan bahwa internet merupakan sumber pemberdayaan, terutama bagi warga di Asia, Timur Tengah dan Afrika. Kurang dari enam dari sepuluh responden di Timur Tengah dan Afrika Utara, Afrika Sub-Sahara dan Asia sepakat bahwa "penggunaan internet telah membantu mereka menjadi lebih mandiri".

Namun, survei tersebut juga mengungkapkan bahwa masalah privasi dan keamanan membatasi penggunaan internet, terutama di Eropa. 85% dari responden mengatakan bahwa masalah privasi telah membatasi penggunaan internet.