ArenaLTE.com - Banyak orang Indonesia yang mengenal internet melalui smartphone, berbeda dengan negara Amerika atau negara Eropa lainnya yang lebih dahulu mengenal internet melalui TV, komputer dan laptop dengan menggunakan layanan jaringan fixed internet. Kenapa booming internet di Indonesia melalui smartphone?

Karena pertumbuhan smartphone di Indonesia sangat luar biasa dan smartphone harganya jauh lebih murah daripada laptop atau komputer. Dengan jumlah perangkat dan penggunanya yang terus bertambah, booming internet mobile di Indonesia ini terus tumbuh tak terhentikan dengan rata-rata kenaikan trafik data internet mencapai 150% pertahun.

Hal yang menarik bukan? Namun disisi lain, fenomena ini memberikan sebuah tanda tanya besar. Bagaiman 5 tahun kedepan? Jika sekarang jumlah pengguna internet Indonesia sekitar 80 juta orang dan sebagian besar mengaksesnya menggunakan smartphone. Cisco bahkan memprediksi rata-rata orang akan menghabiskan sekitar 5 GB perbulan, bahkan Ericsson lebih ekstrim lagi, diprediksi 5 tahun kedepan konsumsi data akan meningkat 14 kali lipat. Fenomena ini bisa terjadi berkat akses internet yang semakin cepat dengan semakin matangnya ekosistem 4G LTE di Tanah Air.

Jumlah konsumsi data sebanyak itu bisa menjadi pendapatan yang berlimpah bagi operator penyedia layanan. Hal ini sudah bisa dilihat dari adopsi layanan 4G LTE yang bari dimulai tahun ini di Indonesia. XL sebagai salah satu operator penyedia layanan 4G LTE mengungkapkan bahwa animo masyarakat terhadap layanan 4G LTE ini sangat tinggi, terlihat dari terjadinya kenikan trafik yang cukup siginifikan. Dan ketika menganalisa data statistik, ternyata lebih dari 40% trafik digunakan untuk menikmati streaming video.

Pihak XL juga berpendapat dengan percepatan pertumbuhan seperti ini, sedangkan operator tetap dituntut untuk memberikan layanan dengan jaringan yang mampu menawarkan kualitas yang prima. Namun jika melihat spektrum yang dimiliki sekarang, untuk memenuhi kebutuhan akan layanan broadband yang prima bagi pelanggan 4G LTE yang terus tumbuh, kapasitas spektrum yang ada sekarang tidak akan cukup.

Di satu sisi, frekuensi merupakan sumber daya yang sangat terbatas. Hal ini diamini oleh Ericsson, bahkan diprediksi dalam 10 tahun kedepan kebutuhan akan penambahan frekuensi menjadi hal yang sangat krusial. Sangat dibutuhkan adanya tambahan frekuensi baru, salah satu caranya yaitu dengan memanfaatkan frekuensi bebas tak berlisensi yang bisa dipakai siapa saja di spektrum 2,4 dan 5 GHz yang biasanya dipakai oleh Wifi, Bluetooth dan teknologi Wireless lainnya.

LTE UTidak berdiri sendiri, frekuensi Unlicensed tersebut dimanfaatkan sebagai tambahan kolaborasi spektrum untuk mengalirkan layanan LTE bersamaan dengan frekuensi berlisensi yang dimiliki oleh operator yaitu licensed band 900 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz. Dengan tambahan frekuensi un-licensed di 5 GHz yang bisa digunakan bersama dengan pelayanan WiFi ini kapasitas bandwidth akan semakin besar sehingga pelanggan bisa mendapatkan experience yang jauh lebih baik.

Banyak tercipta singkatan untuk pemanfaatan LTE di frekuensi bebas atau jaringan tak belisensi ini, sebut saja LTE Unlicensed, LTE U, LAA hingga MuLTEfire. Meskipun demikian pemanfaatan Platform LTE Unlicensed (LTE-U) termyata masih menjadi kontroversi, America’s National Cable & Telecommunications Association (NCTA) dengan jelas menyatakan menentang upaya FCC (Federal Communications Commision) yang akan memberikan spektrum untuk platform LTE Unlicensed (LTE U).

Alasan penolakannya karena LTE Unlicensed memanfaatkan frekuensi unlicensed untuk menggeber jaringan LTE tersebut, yaitu di spektrum 2,4 dan 5 GHz yang biasanya dipakai oleh WiFi dan layanan LTE tidak menggunakan spektrum dengan cara yang sama seperti Wi-Fi karena sudah dirancang untuk menggunakan frekuensi berlisensi.

Akibatnya ada kemungkinakn pengguna Wi-Fi tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh channel. Apalagi jika kondisi padat, pengguna LTE U bisa berpindah kembali ke jaringan berlisensi nya namun pengguna WiFi tidak bisa. Beberapa pendapat juga mengatakan adanya kesengajaan dari pada operator seluler untuk menggangu kinerja Wi-Fi sehingga konsumen akan menggunakan layanan mereka sebagai gantinya.

Selain Google, para penentang LTE U melibatkan perusahan-perusahaan besar, seperti Wi-Fi Alliance, Boingo Wireless, Broadcom, Hewlett-Packard Enterprise, konsultan Paul Nikolich, Ruckus Wireless dan sebagainya. Sedangkan kehadiran LTE Unlicensed didukung oleh Qualcomm, Verizon, Alcatel-Lucent, Ericsson, dan Samsung.

Di Indonesia sendiri, XL menjadi operator yang telah melakukan ujicoba LTE Unlicensed ini bekerja sama dengan Ericsson. Uji Teknologi LTE-Advanced LAA (License Assisted Access) oleh XL dan Ericsson yang menggabungkan spektrum licensed (1800 MHz) dengan frekuensi unlicensed 5 GHz ini mampu meningkatkan kecepatan akses internet LTE menjadi lebih maksimum dari 150 Mbps menjadi 300 Mbps.

LTE UNantinya BTS operator dapat menghantarkan layanan LTE di spektrum licensed (1800 MHz) dan juga sebagai tambahan akan bisa menggunakan frekuensi unlicensed 5 GHz. Namun yang perlu diperhatikan adalah daya yang dipancarkan teknologi LTE Unlicensed ini terbilang kecil karena serupa dengan dengan WiFi jadi hanya bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan area hotspot saja. Sedangkan area yang lebih besar akan tetap dilayani dengan LTE licensed band (1800 MHz).

Meskipun operator berencana akan mulai menerapkan teknologi LTE Unlicensed ini pada tahun 2016, namun kebijakan teknologi LTE Unlicensed ini belum ada dan masih dalam tahap standarisasi 3GPP. Ericsson sendiri akan menyiapkan ketersediaan BTS yang mendukung LTE-LAA yang di ujicoba XL dari Ericsson seperti  RBS 6402 akan tersedia secara komersial sekitar kuartal pertama tahun ini.

Jika jaringan sudah siap, bagaimana dengan perangkat smartphone yang mendukung LTE Unlicensed ini? Adalah Qualcomm yang secara resmi memperkenalkan inovasi teknologi mereka melalui prosesor terbaru mereka yaitu Qualcomm Snapdragon 820. Upgrade X12 LTE modem menjadikan prosesor Qualcomm Snapdragon 820 sebagai prosesor perangkat mobile komersil pertama yang menawarkan dukungan LTE-Unlicensed (LTE U) yang komprehensif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas jaringan mobile dan throughput pengguna dengan menggabungkan antara pita LTE berlisensi dan tanpa lisensi LTE-Unlicensed (LTE U).

Hadirnya Zeroth Platform teknologi dalam X12 LTE modem juga menjadikan prosesor Qualcomm Snapdragon 820 memiliki kemampuan untuk menikmati berbagai layanan terbaru dari jaringan LTE diantaranya yaitu mendukung layanan panggilan HD Voice over LTE (VoLTE), layanan Video over LTE (ViLTE) menggunakan IP Multimedia Subsystem, layanan RCS (Rich Communication Services) hingga layanan WiFi Calling.

Ketika ditanyakan mengenai penerapan layanan agregasi antara jaringan LTE dan LTE U (WiFi) di Indonesia, Shannedy Ong, Country Director Qualcomm Indonesia menerangkan bahwa memang di Indonesia belum ada penerapan teknologi ini. Karena Indonesia sekarang baru tahap awal memasuki layanan 4G LTE dan baru mulai membentuk ekosistem 4G LTE. Mungkin 2 tahun kedepan, jika operator semakin agresif membangun ekosistem 4G LTE mereka akan meningkatkan kebutuhan akses internet yang lebih cepat lagi. Maka penerapan LTE U tidak bisa dihindari. Dan tahun 2016 ini juga akan banyak bermunculan smartphone dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 820 didalamnya, “penerapan teknologi baru ini akan meningkatkan pengalaman pengguna menikmati layanan LTE dengan lebih baik,” pungkas Shannedy