Meski mungkin ketinggalan banyak hal dalam penerapan teknologi pada umumnya namun negara berkembang seperti Indonesia justru mengalami pertumbuhan pesat adopsi teknologi terbaru yang ada kaitannya dengan mobile. Adopsi teknologi mobile lebih cepat karena jika dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur jaringan kabel (fixed line) meski menjanjikan kecepatan tingi dan stabil, namun butuh waktu lama dan biaya yang besar dibanding membangun jaringan nirkabel. Perangkat handset-nya pun lebih terjangkau dan pilihannya banyak di pasar.

Oleh karena itu, pasar yang berkembang dianggap menjadi kunci pertumbuhan adopsi teknologi mobile. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar negara berkembang telah mengalami kemajuan yang pesat dalam pengembangan seluler. Banyak negara-negara ini menurunkan biaya layanan konektivitas dan memasarkan kartu SIM dengan harga yang lebih terjangkau. Bebas dari jaringan tetap dan pasokan listrik yang diandalkan telah mendorong evolusi teknologi mobile di wilayah-wilayah yang masih berkembang. Bagaimanapun, sangat penting bagi pengembang aplikasi untuk memperhitungkan kemampuan perangkat mobile yang semakin menurun di banyak pasar negara berkembang.

Indonesia, yang merupakan salah satu pasar smartphone terbesar di dunia, terdapat lebih dari 280 juta pengguna perangkat mobile. Pemerintah memfokuskan pada pengembangan smartphone, mengharapkan produksi 35 juta smartphone setiap tahun dari 2017 dan seterusnya. Dan sekarang ini, pemerintah dan industri sedang giat-giatnya membangun jaringan nirkabel generasi keempat atau lebih dikenal 4G LTE.

Pasar berkembang Indonesia dengan cepat menjadi salah satu pasar ponsel paling menjanjikan di dunia. Masyarakat dengan rata-rata usia muda, populasi yang berkembang pesat, dan kelas menengah yang semakin luas dan daya beli yang semakin meningkat, semua titik menuju masa depan yang positif bagi pertumbuhan smartphone.

Data dari platform online real estate global, Lamudi menunjukkan bahwa lalu lintas aplikasi di Myanmar hampir setinggi lalu lintas situs Web. Negara ini merangkul mobile, karena harga perangkat yang rendah, kartu SIM yang murah dan paket data yang terjangkau. Senada dengan dta dari On Device Research yang mengungkapkan hanya 38 persen dari warga Myanmar menggunakan PC atau laptop setiap minggu. Sebagai hasil dari konektivitas internet yang membaik, ketergantungan pada perangkat mobile membuka banyak kesempatan yang menarik untuk banyak industri, termasuk real estate, jasa keuangan dan komunikasi.

Tidak hanya pasar negara berkembang yang mendorong pertumbuhan teknologi mobile, mereka juga menciptakan inovasi-inovasi baru. Kenya memimpin pasar negara-negara berkembang dalam teknologi pembayaran mobile. Negara ini merintis uang mobile dengan sistem pembayaran digital yang inovatif melalui pesan teks sederhana. Menurut laporan terbaru, Kenya membuat 824 juta transaksi mobile tahun lalu, dengan nilai gabungan mencapai $19.7 milyar.

Kian Moini, Co-Founder dan Managing Director Lamudi pada satu kesempatan mengatakan kebanyakan pasar negara berkembang memotong sambungan telepon, desktop dan Internet dial-up, dan pindah langsung ke perangkat mobile dan aplikasi. Sekarang, mereka melampaui rekan-rekan mereka di dunia Barat, mendorong pengembangan teknologi mobile.

Menurutnya, kini adalah waktu yang menarik bagi pasar-pasar negara-negara berkembang. Dalam tahun-tahun mendatang, kita akan melihat mayoritas pertumbuhan konsumerisme mobile, penetrasi smartphone dan mobile banking yang terjadi di pasar negara berkembang.