Social media is changing the way we communicate and the way we are perceived, both positively and negatively. Every time you post a photo, or update your status, you are contributing to your own digital footprint and personal brand.

Amy Jo Martin
CEO Digital Royalty

Sosial media membawa banyak perubahan besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satunya dalam kegiatan berkomunikasi atau bergaul dengan manusia lainnya.

Berteman kini tak lagi harus diawali jalinan kecocokan tapi cukup dengan ‘add’ atau ‘follow’. Ucapan selamat ulang tahun, selamat menempuh hidup baru, juga tak harus disampaikan lewat kartu ucapan tapi cukup dengan ‘tag’ di Path atau ‘mention’ semata.

Memasuki tahun 2016, resolusi saya di dunia digital adalah ingin menjadi netizen yang cerdas dalam bergaul dan berinteraksi.

Sepanjang rentang waktu 2014-2015, ada berbagai insiden di sosial media yang menjadi bahan perbincangan. Bahkan sampai menjadi isu nasional.

Pertengahan 2014, Dinda yang enggan memberi tempat duduk pada ibu hamil langsung di-bully mayoritas netizen. Perang pendapat, hingga sumpah serapah disampaikan ke Dinda yang saat itu sebenarnya tengah menyampaikan isi hatinya.

Setelah Dinda, masih banyak kejadian di sosial media yang mendapat perhatian luas. Akibat kurang pikir panjang, ada juga netizen yang bahkan sampai kehilangan pekerjaan.

Belum lagi, kejadian-kejadian besar yang mengguncang dunia, seperti bom Paris. Ketimbang menyampaikan empati untuk menyejukkan kondisi yang kian memanas, ternyata lebih banyak orang yang membahas isu agama.

Dalam setiap isu besar yang terjadi, perbincangan di sosial media lebih mengarah ke tema yang klise. Ketimbang membahas isu yang substansial, tak sedikit orang yang justru membahas begitu banyak hal yang justru tidak relevan.

Karena sosial media adalah a whole world dalam berinteraksi memang kita semua masih belajar menggunakannya. Bukan cuma saya, tapi semua orang yang kini selalu bergaul di sosial media.

Di tahun yang baru, semoga saya bisa lebih mampu berpikir panjang ketika mem-posting sesuatu di dunia maya. Begitu juga ketika membaca pendapat, meme, atau foto dari semua teman yang ada di dunia maya.

Karena, bergaul di dunia maya atau dunia nyata ternyata tak jauh berbeda. Meski berbeda platform, tapi nyatanya kita bergaul dengan begitu banyak orang di luar sana.

Ada berbagai kepribadian dan pemikiran yang berbeda. Gesekan karena perbedaan pendapat sangat amat mungkin terjadi.

Dengan semakin lamanya saya eksis di dunia maya, harapannya tentu tahun ini semakin mendewasakan saya.

Bagaimana menyampaikan pendapat tanpa emosi tapi tetap logis. Bagaimana pula menyikapi komentar orang di postingan dengan tetap cerdas sekaligus berkelas.

Karena apa yang ada di dunia maya akan selamanya berada di sana, Meski kadang berbuntut panjang, bukan berarti pendapat yang kita rasa bebas tak harus disampaikan.

Ketika ada hal yang benar-benar mengusik rasa keadilan, menurut saya, pendapat justru harus tetap disampaikan. Menemukan titik yang tepat antara menyampaikan pendapat dengan segala perhitungan risiko ke depan itulah yang memerlukan kedewasaan.

Apakah pendapat saya akan menyinggung orang? Apakah pendapat saya tentang isu ini benar-benar pantas untuk disampaikan? Bagaimana cara menyampaikannya?

Karena internet telah memungkinkan kita belajar begitu banyak hal, mencari berbagai referensi sebagai bahan pendapat, rasanya harus juga semakin sering digalakkan di tahun ini. Karena dengan memperbanyak referensi, sebagai dasar dari argumen kita, apa yang kita posting menjadi tak sekadar pendapat emosional tanpa dasar.

Kredit foto: Freepik.com