ArenaLTE.com – Kabar mengenai rencana investasi Apple di Indonesia ini cukup menarik. Alih-alih untuk membangun pabrik ponsel, perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs ini justru berencana untuk investasi pada industri timah. Mengapa mereka justru berinvestasi pada sektor yang di luar core bisnisnya? Ternyata ada cerita di balik itu.
BacaApple Berminat Investasi Timah di Indonesia untuk Bahan Baku iPhone

Rencana investasi Apple di Indonesia ini seperti mengkonfirmasi investigasi yang dilakukan wartawan BBC. Hasil investigasi yang dipublikasikan pada program dokumenter BBC Panorama Desember 2014 silam menunjukkan bukti buruknya kondisi kerja para buruh di pabrik pembuatan iPhone di Tiongkok. 

Investigasi tim BBC Panorama tidak berhenti hanya sampai lingkungan manufaktur penyuplai iPhone saja, tapi menelusuri rantai pasokan bahan baku. Ditemukan fakta mengejutkan bahwa material bahan baku pembuatan iPhone, khususnya timah, berasal dari pertambangan ilegal di wilayah Kepulauan Bangka, Indonesia. Ditemukan timah ilegal Bangka dalam skala besar yang dikirimkan ke manufaktur iPhone di Tiongkok.

Jeff Williams, senior vice president of operations Apple segera merespon dengan mengirimkan surat kepada 5000 staff Apple di Inggris. Dalam tulisannya, Jeff menyatakan dia dan CEO Apple Tim Cook sangat tersinggung dengan anggapan bahwa Apple melanggar janji untuk para pekerja dalam rantai pasokan atau menyesatkan pelanggan dengan cara apapun. “Kami jujur tentang tantangan yang kita hadapi dan kami bekerja keras untuk memastikan bahwa orang-orang yang membuat produk kami, mereka diperlakukan dengan rasa hormat dan martabat yang layak,” ujarnya.

Jeff lantas menceritakan bahwa terdapat puluhan ribu rakyat penambang yang menjual timah melalui banyak perantara ke smelter yang memasok ke pemasok komponen yang menjual ke seluruh dunia. “Pemerintah tidak menangani masalah ini, dan ada korupsi dalam berkembangnya rantai pasokan. Tim kami mengunjungi bagian sama di Indonesia yang juga dikunjungi oleh BBC, dan tentu saja kami terkejut dengan apa yang terjadi di sana,” ungkap Jeff.

Menurutnya, Apple memiliki dua pilihan. Pertama, memastikan semua pemasok membeli timah dari smelter di luar Indonesia, yang mungkin akan menjadi hal paling mudah dan pasti akan melindungi dari kritik. Tapi cara ini dianggapnya jalan malas dan pengecut. Karena pihaknya akan melakukan apa pun untuk memperbaiki situasi untuk pekerja dan lingkungan Indonesia. Hal ini karena sebagai bentuk tanggung jawab Apple di Indonesia yang telah mengkonsumsi sebagian kecil dari timah yang ditambang di sana. “Kami memilih jalan kedua, yaitu untuk tetap terlibat dan mencoba untuk mendorong solusi kolektif,” ungkapnya. 

Diungkapkan, pihaknya telah mempelopori penciptaan Indonesian Tin Working Group (kelompok kerja timah Indonesia) dengan perusahaan teknologi lainnya. Apple mendorong untuk menemukan dan menerapkan sistem yang memegang smelter akuntabel sehingga dapat mempengaruhi pertambangan rakyat di Indonesia. Jeff menganalogikan, ini bisa menjadi pendekatan seperti “mengantongi dan mendanai” material tambang secara legal, yang telah berhasil dari waktu ke waktu di Republik Demokratik Kongo. “Kami mencari cara untuk mendorong hasil yang sama di Indonesia, yang merupakan hal benar untuk dilakukan,” tegasnya.

Jadi, sekarang sudah jelas mengapa investasi Apple di Indonesia justru dalam industri timah. Meski demikian, ada kabar baik lainnya meski sifatnya masih belum pasti. Selain menanamkan investasi di timah, raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini juga tengah menjajaki kemungkinan untuk membangun pusat riset Apple di Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengaku telah melakukan pertemuan dengan Apple. Pertemuan yang digelar di Indonesia tersebut membahas rencana investasi dan aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Dikatakan, Apple akan menggunakan model seperti yang diterapkan di Brazil. Mereka akan membangun sebuah pusat riset dan pengembangan produk yang mungkin juga diadopsi ketika memasuki Indonesia.

Foto ilustrasi: mlmagz.com

Comments

  1. […] Sistem potong pulsa cukup populer di negara berkembang seperti Indonesia, terutama karena adopsi kartu kredit yang masih rendah. Namun cara bayar di iTunes & App Store pakai pulsa tersebut justru pertama kali diterapkan di Jerman yang sudah termasuk negara maju. Di negara tersebut, Apple bekerja sama dengan operator O2/Telefonica. Baca: Menguak Latar Belakang Rencana Apple Investasi Timah di Indonesia […]

  2. […] Sebelum penelitian yang dilakukan oleh Expert Exhange, Stone Temple Consluting juga pernah menguji ketiga voice assistant tersebut. Hasilnya memang berbeda dari temuan Expert Exhange. Pasalnya  Google Now menjadi yang paling pintar dengan skor 88 persen, lalu diikuti oleh iOS dengan angka 53 persen dan yang terakhir adalah Cortana dengan skor 40 persen. Baca juga: Menguak Latar Belakang Rencana Apple Investasi Timah di Indonesia […]

  3. […] Pria yang akrab dipanggil Chef Ra tersebut mengatakan pembangunan kantor R&D Apple di Indonesia memang sebagai komitmen perusahaan atas peraturan penetapan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Namun, aktivitas dan lain halnya harus bisa lebih jelas terungkap, dengan mengikuti rute yang telah ditentukan. Baca juga: Menguak Latar Belakang Rencana Apple Investasi Timah di Indonesia […]