Difference. Beda. Gara-gara satu kata ini, semua obrolan bisa jadi melebar kemana-mana mulai dari membahas hal penting sampai ke hal yang ga penting. Ingin jadi beda disekolah, ingin jadi beda dikampus, ingin jadi beda dikantor, ingin jadi beda supaya dilirik gebetan. Oke, basi. Dan ternyata mau di gimana-in pun, perbedaan bakal tetap selalu ada. Perbedaan itu penting banget buat gue, gue yang dari lahir selalu ngotot ingin jadi beda supaya keren dan gue kekeuh kalau jadi beda itu adalah baik. Ternyata disatu titik balik, gue sadar bahwa baik buat gue adalah belum tentu baik buat orang lain. Seperti yang gue baca disalah satu toko oleh-oleh di Denpasar tahun 2015 ini, tulisan menohok dari Filosofi Joger.

Baik untuk Anda, belum tentu harus baik untuk Andi. Tidak baik untuk kalian, belum tentu harus tidak baik untuk kami. Makanya, janganlah buang waktu maupun tenaga untuk berdebat soal pilihan atau perbedaan

Sebagai contoh, gue kenal seseorang. Dia bukan dari kalangan keluarga kaya. Gue sempat banget temenin dia lagi dimasa susah-susahnya masa juang dia. Mungkin kalau gue diposisi dia, gue sudah terkapar lemas. Tapi dia memang “BEDA”. Dan dia yang ngajarin gue arti “BEDA” yang sesungguhnya, yang nyata. Dia gak punya dress bagus yang lagi ngehits waktu itu. Dia gak bisa liburan kemana-mana soalnya duitnya sudah pas-pasan buat hidup sehari-hari doang. Makan enak? Yah, sebulan sekali juga sudah seneng. Bahkan, dia pernah beli gadget hasil kredit. Bayarnya pakai cicilan ke konter gadget teman sekampung dia dulu di Purwokerto.

Bagi orang luar yang tidak kenal dia, kehidupan dia sangat pas-pas an. Tapi gue tahu betapa besar rasa sayang dia ke gue yang suka asal-asal an tanpa mikir dan rese ini. Bayangkan, dia rela menyisihkan uang dia yang pas-pas an itu buat kasih gue kado pas ulang tahun dengan alasan : biar gue senang. Padahal gue sering sia-sia in dia. Sementara semua teman-temannya sibuk ngobrol soal film Korea, soal gadget canggih, bisa liburan keluar negri, dia tetap selow bantuin mamanya jualan jajanan pasar dipinggir jalan waktu bulan puasa dan cekikikan bareng adiknya yang hobi mintain duit buat jajan di warung atau buat beli pulsa.

 

Ternyata tidak ada yang salah dengan kata-kata “BEDA”, tidak ada yang salah dengan teman-teman gue yang menilai “BEDA” adalah ketika kita punya gadget bagus, baju gaul, jalan keluar negri, makan direstoran mahal. Gak ada yang salah juga sama teman gue yang tetap selow bantuin mamanya jualan jajanan pasar dipinggir jalan waktu bulan puasa dan cekikikan bareng adiknya yang hobi mintain duit buat jajan di warung atau buat beli pulsa. Tapi memang cuma dia yang memang bias ngajarin gue arti “BEDA” yang sesungguhnya.

Dia tetap bisa bahagia dan tetap selow bantuin mamanya jualan jajanan pasar dipinggir jalan kampong waktu bulan puasa dan cekikikan bareng adiknya yang hobi mintain duit buat jajan. Gue sama sekali tidak melihat kekurangan dikehidupan dia ataupun kesedihan karena belum mampu membeli gadget bagus atau dress bagus yang waktu itu dia belum bisa beli pakai uangnya sendiri.

Gue salut sama dia yang mampu berbahagia dan jadi “BEDA” menurut versinya. Justru orang-orang lain yang sering merasa jadi “BEDA” adalah suatu hal yang mutlak, bahwa jadi “BEDA” itu harus begini begina beginu. Mereka terkadang lupa, versi “BEDA” yang mereka ciptain tidak melulu benar. Mungkin mereka tidak sadar, bahwa teman gue yang hidupnya serba pas-pas an itu ternyata tidak pernah merasa ada masalah dengan tidak bisa jalan-jalan, tidak makan enak, tidak punya gadget bagus. Dia tetap merasa happy. Tidak merasa kekurangan.

Sebenarnya, versi “BEDA” nya teman gue ada di satu kata: cukup. Dia selalu bisa merasa cukup dengan apa yang dia punya dan selalu bisa melihat dari beberapa sisi penting. Dia merasa cukup bisa makan kenyang, bisa tertawa senang, bisa membahagiakan keluarganya. Bahkan, ketika kehidupan memberinya rezeki dan dia mampu jalan keluar negri, punya gadget terbaru dan nggak perlu nyicil dikonter gadget temannya yang sekampung dulu, pandangannya tetap sama. Dia, bagaimanapun keadaan ekonominya, merasa cukup. Karena dia sadar, jadi “BEDA” memang sesederhana itu.

Teman gue, yang dulu tidur cuma bisa jalan-jalan antara Jogja-Purwokerto namun sekarang sudah bisa jalan-jalan keluar negri. Dia sudah jadi “anak gaul Jakarta” sekarang, gadgetnya sudah versi terbaru dan canggih. Beberapa kali dia menghubungi gue lewat gadgetnya yang sudah 4G LTE itu, kebayang banget kan? Dunia berubah, dia beradaptasi dengan baik lewat perubahan. Lewat teknologi jaringan 4G LTE, semua hal jadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih dekat. Dia yang tadinya “gaptek”, cuma bisa maksimal pakai gadgetnya ya buat chatting atau online shop doang. Sekarang, dia baru tahu bahwa jaringan nirkabel 4G LTE itu berkecepatan tinggi, 4G LTE menjadi yang pertama dan global di teknologi jaringan nirkabel.

Buat gue, dia dan 4G LTE adalah versi “BEDA” yang sesungguhnya.

Dengan muka ceria, terakhir gue main ke kos dia minggu lalu dan dia bercerita soal adiknya yang sekarang sudah kuliah dan ternyata sekarang sedang jatuh cinta. Banyak hal yang sering mereka ceritakan lewat handphone. Semua jadi lebih mudah sekarang karena teknologi. Dan gue jadi ingat, betapa kehidupan itu lucu mempertemukan kita berdua dan dia mengajarkan gue banyak  hal tentang “BEDA”.

Dia memang “BEDA”. Sampai sekarang pun dia masih jadi yang paling beda diantara semuanya. Dia bisa membuktikan bahwa “BEDA” versi dia tidak jauh-jauh dari kata cukup, adaptasi, dan menerima semuanya. Gue cukup melihat senyumnya yang sekarang “BEDA” dan lebih bahagia karena jaringan 4G LTE yang bisa lebih mendekatkan dia dan keluarganya dikampung bernama Purwokerto, dia jadi gak gaptek lagi,  dan bahagialah gue.

Her name is Ho Siu Ling and she is awesome.

Blog ini dibuat untuk mengikuti kompetisi #Internet4Gue yang diadakan  oleh http://arenalte.com/about/writing-competition-2015/