Gue merupakan warga baru di Jakarta yang merapakan shock culture. Karena berasal dari Jawa Tengah yang sama sekali tidak mengenal macet, polusi dan juga orang-orang yang sangat individualistik.

Di luar kekecewaan untuk hijrah ke sini, ada hal yang membuat gue merasa beruntung bisa pindah ke Jakarta. Jelas, yang terlintas di pikiran ketika mendengar kata Jakarta adalah sebuah Ibukota maju yang sangat pesat dengan segala perkembangan yang ada. Salah satunya adalah perkembangan dalam bidang komunikasi.

Memang tidak bisa gue pungkiri, di sini kita semua dimanjakan dengan segala kemajuan yang ada. Kalau dibandingkan dengan tempat tinggal di Klaten, Jakarta sangat keren deh! Perkembangan jaman dan juga teknologi membuat ranah komunikasi di Indonesia terutama di Jakarta makin cepat.

Apa sih 4G itu? Jaringan generasi keempat? LTE? Nama yang aneh dan belum pernah gue dengar sebelumnya. Awalnya asing di telinga, tetapi lambat laun makin santer saja dengar dimana-mana. Tidak hanya provider Indonesia yang rebut dengan 4G, tetapi banyak gadget yang mengusung kelebihannya dengan memiliki jaringan 4G. Bahkan ada beberapa provider yang mem-bundling dengan gadget tertentu supaya meningkatkan penjualan. Setidaknya mereka berusaha untuk memperkenalkan apa itu 4G kesemua kalangan masyarakat.

Sayangnnya gue rasa itu semua tidak serta merta tepat sasaran. Tapi ada hal yang mengganjal dalam benak. Apa memang sebenarnya 4G ini hanya untuk kalangan masyarakat tertentu saja? Atau mereka salah memilih campaign? Sehingga terkesan sangat susah dijangkau masyarakat kecil.

Padahal sudah banyak sekali gadget 4G yang murah meriah bak kacang goreng yang beredar di pasaran. Mulai dari 2 jutaan sudah bisa dapat gadget bagus dan bisa menjajal jaringan 4G.

Tapi tunggu dulu, nggak semudah itu juga lho kalau mau coba 4G ini. Selain harus memakai gadget yang mendukung jaringan 4G, loe juga harus beli kartu yang sudah support 4G. Misalnya mau pakai kartu yang lama, tidak jadi masalah, hanya saja harus tukar ke Graha terdekat dengan kartu yang baru, tapi tetap dengan nomor yang sama. Sedikit menyusahkan yah?

Esensinya jaringan 4G ini ingin mempermudah masyakarat dalam berkomunikasi dengan keluarga, teman, pacar, kolega, guru, dosen, atau siapapun, dimanapun dan kapanpun. Bisa Skype, atau video call tanpa ada gangguan sama sekali.

Gue sudah buktikan sendiri, karena rajin video call dengan pacar di Hongkong. Ya namanya orang LDR (Long Distance Relationship) atau bahasa gaulnya pacaran jarak jauh, segala cara akan dilakukan. Dan benar saja, cintaku berat di ongkos cuy! Dulu sih berasa berat, mana paket 3G kuota cepat habis dan juga putus-putus. Entah karena hape yang kurang mendukung atau mungkin jaringan provider yang memang empet-empetan?

Sekarang gue ganti gadget dan juga memakai jaringan 4G. Mungkin kalau pacar gue di Indonesia, gue ngga akan bela-belain pakai 4G. Sepertinya rata-rata masyarakat berpikiran hal yang sama yah? Paketnya mahal cuy.

Hanya saja gua setuju dengan pepatah “Ada Harga Ada Rupa”. Seperti itulah jaringan 4G di Indonesia. Mahal? Relative. Karena dengan manfaat serta jaringan yang diberikan memberikan kepuasan bagi gua. Berasa pacar bener-bener ada disamping gue. Semua berkat jaringan 4G yang lancar dan stabil.

Tidak hanya mendekatkan dengan pacar semata wayang gue, jaringan 4G ini juga berguna buat memperancar pekerjaan yang memang sering dikirim ke luar kota atau bahkan keluar pulau. Nah, ini bagian kekurangannya menurut pandangan gue. Karena belum semua bagian di Indonesia bisa menikmati kecepatan jaringan 4G ini. Contohnya kemarin gua ada tugas ke Lampung, di sana belum support untuk jaringan ini. Jadi harapannya untuk semua provider di Indonesia agar segera meratakan jaringan 4G ini. Agar semua masyakarat bisa merasakan.

Ilustrasi: widiynews.blogspot.co.id