ArenaLTE.com – Aktivitas menggunakan ponsel dalam keseharian bukanlah hal yang aneh saat ini. Termasuk berponsel ria sambil menimang bayi. Namun Anda patut waspada, karena paparan radiasi ponsel sangat berbahaya bagi perkembangan otak bayi, terutama usia di bawah enam bulan.

Dikutip dari Cellular-news.com (6/1/2016), dipaparkan bahwa enam bulan pertama tumbuh kembang bayi adalah waktu yang rentan bagi perkembangan otak bayi. Oleh karena itu, penting bagi orangtua menjaga perkembangan otak bayi dengan menjauhkannya dari paparan radiasi yang dapat merusak.

Studi dari University of California, Irvine Research (UCI) menyebutkan paparan radiasi ponsel pada bayi dapat berpengaruh pada gangguan emosi anak di kemudian hari. UCI melalukan uji coba pada tikus, dan menyiratkan bahwa radiasi ponsel sekilas tidak menampakan bahaya, namun jelas memiliki dampak jangka panjang yang berkelanjutan.

“Gelombang-gelombang ponsel sangat membahayakan sinyal-sinyal otak. Maka dari itu kita tidak menganjurkan untuk ibu yang menyusui sambil menggunakan ponsel. Atau kita sedang di rumah dan punya bayi, kalau ingin terima telepon atau SMS lebih baik di luar. Tidak di kamar anak kita. Gelombang itu sangat mengganggu, khususnya untuk otak,” ujar Dr. Tallie Z. Baram and rekannya dari UCI’s Conte Center

Dampak radiasi dari penggunaan ponsel terhadap bayi tidak terlihat secara langsung, tapi dalam jangka waktu panjang. Pada enam bulan pertama, otak bayi berkembang sebesar 80 persen, dan disinyalir paparan radiasi mampu mengacau perkembangan awal itu.

“Jangka pendeknya mungkin tidak terasa. Kita seperti melihat anak normal. Tapi akan terlihat ketika struktur otaknya terangkai dengan sempurna, sekitar umur 2-6 tahun. Gelombang-gelombang ponsel ini dapat menggangu sel-sel listrik di perkembangan otaknya,” kata Dr. Tallie Z. Baram.

Secara sistemik, paparan radiasi itu memengaruhi tumbuh kembang anak. “Yang pasti terasa gangguan dasarnya. Mulai dari proses merangkak, berdiri, berjalan, berbicara pada awal-awal. Gangguan jangka panjang adalah kecerdasan dan perilaku,” ungkapnya.