ArenaLTE.com – Meski namanya tak moncer dalam jagad ponsel di Indonesia, tapi Kyocera terbilang kondang dalam dunia telekomunikasi global. Dan baru-baru ini, divisi riset dan pengembangan dari vendor asal Kyoto, Jepang ini merilis konsep baru untuk teknologi haptic feedback “Haptivity” bagi layar smartphone. Terobosan teknologi Haptivity Kyocera ini menghadirkan kemampuan cerdas yang menggabungkan haptic feedback dan aktivitas.

Dikutip dari situs Androidauthority.com (26/9/2015), dengan Haptivity, Kyocera menjamin teknologi haptic dapat mencapai kondisi realitas yang sebenarnya. Setiap sentuhan akan terasa nyata dan menghasilkan umpan balik yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Tim riset teknologi Haptivity Kyocera melibatkan fisiologi manusia untuk mendapatkan pengaturan. Karena pada prinsipnya kekuatan umpan balik terletak dari stimulasi pada sarat tertentu.

Teknologi Haptivity Kyocera dapat menghasilkan sensasi tertentu, seperti keras, lunak , sensasi perpindahan. Modus yang digunakan dengan merancang saraf pacini yang terdapat pada jari pengguna. Proses ini dilalui dengan dua langkah, saat menekan tombol, teknologi ini akan menciptakan ilusi tekanan dan gerakan kecil. Setelah menekan lebih keras, sistem menciptakan klik aktual kita yang dapat kita rasakan perbedaannya.

Di teknologi Haptivity Kyocera ini, kemampuan otak dilibatkan untuk menghasilkan sesuatu yang diinginkan. Bagi pengembang teknologi layar sentuh, teknologi haptic memang menjadi masa depan untuk diterapkan pada ponsel layar sentuh.

Konsep Teknologi Haptivity Kyocera
Konsep Teknologi Haptivity Kyocera

Perkembangan Teknologi Haptic

Menurut Andrew Hsu, penemu capacitive touchscreen, haptic adalah upaya membuat persepsi seolah nyata dari antarmuka virtual, jadi seolah kita benar-benar menyentuh benda virtual tersebut.

Haptic bukanlah teknologi yang benar-benar baru, banyak smartphone masa kini yang menerapkan haptic dasar dengan cara bergetar saat anda menekan tombol di layarnya, sebagai contoh. Menurut Hsu, kunci pentingnya adalah meningkatkan lagi teknologi haptic tersebut, dan mencari cara mengimplementasikannya.

Teknologi haptic feedback berawal dari penelitian seorang profesor Universitas Leipzig bernama Ernst Heinrich. Dilanjutkan oleh Ivan Sutherland dalam tesisnya yang berpendapat bahwa gerakan sensorik manusia adalah saluran mandiri sehingga informasi diasimilasi di bawah alam sadar manusia.

Pertengahan tahun 1990, haptic semakin dipopulerkan dengan adanya permainan komputer, yaitu dengan perangkat tuas kontrol. Di bidang kesehatan, haptic digunakan untuk membantu orang tuna netra belajar memahami dunia melalui gambar ataupun grafik dan membantu para dokter sebelum melakukan operasi.

Lebih lanjut perusahaan menyatakan teknologi Haptivity Kyocera ini akan digunakan dalam produk masa depan mereka sendiri, tetapi tak menutup kemungkinan kedepannya terobosan ini akan ditawarkan ke vendor lain.