ArenaLTE.com – Kemajuan teknologi selalu membawa konsekuensi pada penggunanya, dengan menawarkan beragam kemudahan, maka wujud dari teknologi sangat rentan untuk diselewengkan untuk tujuan yang sifatnya negatif. Meski bukan masuk kualifikasi pidana, sekelompok mahasiswa di Thailand telah tertangkap basah menyontek soal saat ujian, tapi tak seperti siswa di Indonesia yang masih mengandalkan kertas ‘kebetan,’ mahasiswa dari Negeri Gajah Putih ini sudah mengusung beragam peralatan canggih dalam proses contek menyontek.

Dari sisi siswa, menyontek boleh jadi sebuah seni tersendiri, dimana memang harus lihai dan penuh kehati-hatian agar dalam modusnya tidak ketahuan oleh guru. Dikutip dari Ubergizmo, mahasiswa Universitas Rangsit di Bangkok, Thailand ketahuan menyontek ketika ujian dengan menggunakan perangkat gadget serta bekerja sama bersama siswa lainnya. Gadget canggih yang digunakan untuk menyontek ini bisa diperoleh di pasaran seperti kacamata dengan kamera tersembunyi, smartwatch dan tentu saja koneksi internet untuk mendapatkan jawaban secara real time.

Metode yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa ini dilaporkan menggunakan kacamata dengan kamera tersembunyi yang terkoneksi ke smartwatch. Beberapa siswa di dalam kelompok ini bertugas sebagai proxy, di mana mereka masuk dalam ujian dan memindai kertas ujian tersebut dengan kamera yang disembunyikan di kacamata, kemudian mengirimkannya ke sisa anggota tim lainnya. Tim kedua ini bertugas untuk mengisi jawaban benar untuk ujian yang tengah berlangsung tersebut, kemudian mengirimkannya ke smartwatch tim pertama tadi. Sehingga hasilnya, mereka bisa mengerjakan soal ujian dengan tenang.

Mahasiswa menyontek dengan gadgetNamun sayangnya, mereka tertangkap basah dalam aksi menyontek dengan teknologi yang mereka miliki tersebut dan telah di-blacklist oleh universitas, sehingga mereka harus mengerjakan ujian ulangan kembali. Sejatinya tak murah untuk menyontek via perangkat canggih ini, pasalnya masing-masing pelajar tersebut harus membayar US$23 ribu atau sekitar Rp 300 juta untuk mendapat jasa layanan ‘joki’ termasuk piranti dan jawaban soal, maklum jawaban dikirim secara ‘real time.’

Mungkin karena alasan inilah mengapa terdapat beberapa universitas yang telah melakukan larangan untuk menggunakan smartwatch atau perangkat wearable lainnya selama ujian berlangsung, seperti yang pernah dilakukan oleh universitas di Kyoto tahun lalu.