ArenaLTE.com – Hubungan Rusia dan Amerika Serikat belakangan kian memanas. Pangkal musababnya dipicu ketegangan atas konflik yang terjadi di Suriah. Ditambah ada pernyataan dari lembaga intelijen AS, CIA yang menyebut militer Rusia telah melakukan serangan cyber kepada AS. Sebagai reaksi, pemerintah AS sudah mencanangkan untuk melakukan serangan cyber balasan. Di ranah fisik, ada potensi benturan militer langsung di Timur Tengah terkait Suriah.

Faktor lain, posisi militer Rusia kini kian ‘terjepit’ di kawasan Eropa Tengah, lantaran negara-negara eks sekutu Rusia (Uni Soviet) perlahan mulai banyak yang bergabung dalam kubu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), sebagai konsekuensi ada penempatan kekuatan AS di dekat perbatasan wilayah Rusia.

Kondisi ini tentu membuat Presiden Vladimir Putin gerah, Rusia yang punya kekuatan militer kedua terbesar di dunia tak tinggal diam. Selain memodernisasi alutsista, militer Rusia juga membangun proyek untuk memagari wilayahnya dari terjangan rudal AS dan sekutunya bila kelak meletus konflik terbuka.

Seperti dikutip dari situs Ubergizmo.com (17/10/2016), militer Rusia sedang mengembangkan proyek teknologi penangkal rudal (missile jammers). Dari aspek teknologi kemiliteran, missile jammer sudah lumrah didengar, namun yang unik disini missile jammer ditempatkan pada puncak menara BTS (Base Transceiver Station) milik operator seluler.

Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia kepada surat kabar Izvestiya, “Pada saat ini pengujian telah selesai dan sistem telah diterima.” Teknologi missile jammer ini disebut Pole-21, jammers rudal ini dapat dipasang ke menara ponsel, hasil akhirnya bisa menjadi sistem pertahanan kubah untuk menutupi seluruh daerah dan melindungi area Rusia dari sinyal satelit navigasi. Dalam kancah pertempuran elektronik, sinyal satelit dimanfaatkan sebagai sistem pemandu rudal menuju target. Dengan melumpuhkan sinyal satelit, maka rudal akan dibuat ‘buta.’

Namun sebagai catatan, AS kini telah memiliki varian rudal jelajah Tomahawk yang dirancang khusus untuk melawan GPS jammer. Boleh saja AS punya argument tersendiri, tapi beberapa pakar senjata Rusia menyebut bahwa tanpa dukungan sinyal satelit, maka akurasi rudal akan hilang.