ArenaLTE.com – Kemajuan teknologi memang tidak serta merta selalu memberikan efek positif, terhadap perkembangan perusahaan. Seiring pengadopsiannya, disrupsi atau gangguan pun menjadi satu hal yang sering menyertai pergerakan maju tersebut. ‘Jetlag’ menjadi istilah halus untuk mengatasi akan gagapnya perubahan teknologi terhadap perusahaan, dan hal ini sering kali menghantui perkembangan perusahaan itu sendiri.

Namun demikian, melalui studi global yang dilakukan oleh CA Technologies. Ternyata ada cara baik yang dilakukan oleh para pemimpin perusahaan agar bertahan terhadap gempuran disrupsi atau dalam keadaan jetlag, memimpin perubahan teknologi dan menjadi pemenang dalam era application economy.

“Kemajuan pesat dalam perubahan teknologi dan disrupsi yang menyertainya, terjadi hampir di semua industri,menjadikan saat ini waktu yang paling tepat dan menyenangkan bagi profesional teknologi informasi. Bagi merekayang mau dan mampu bergerak cepat dan gesit, memiliki peluang besar untuk melakukan perubahan bisnis secara mendasar, dan maju sebagai pemenang dalam era application economy.” Jelas Stephen Miles, Chief Technology Officer, Asia Pacific & Japan, CA Technologies.

CA Technologies

Dalam era application economy saat ini, transformasi digital telah merambah kedalam setiap aspek bisnis. Di Asia Pasifik dan Jepang, termasuk Indonesia, organisasi semakin memanfaatkan teknologi modern dan komunikasi untuk mentransformasi satu atau lebih aspek utama dari bisnis untuk mencapai kesiapan keadaan digital.

Aplikasi telah menjadi moda utama bagi konsumen untuk berhubungan dengan perusahaan.Dengan tingkat penetrasi gawai yang tinggi dan meningkatnya pengguna ponsel pintar, kawasanAPJ sangat siap untuk memanfaatkan application economy. Selain itu, jumlah generasi milenial yang besar yang tumbuh dan terbiasa dengan teknologi transformasi digital yang ada saat ini, mereka juga kedepannya akan memainkan peran pentingsebagai penggerak application economy.

Disrupsi dan pentingnya perangkat lunak

Hampir setengah (44%) dari responden memperkirakan industri mereka akan mengalami disrupsi digital secara signifikan dalam tiga tahun ke depan; lebih dari seperlima (22%) mengatakan bahwa disrupsi yang signifikan telah terjadi. Sebagai catatan, lebih dari setengah (58%) memperkirakan bahwa model bisnis mereka dalam tiga tahun kedepan akan “secara radikal” berbeda dari tiga tahun lalu. Menyadari besarnya kemungkinan dan kecepatan perubahan, sekitar dua-pertiga (66%) responden memberikan pandangan bahwa masa depan perusahaan mereka tergantung pada kualitas perangkat lunak mereka.

Ada sejumlah penyebab disrupsi, perubahan perilaku dan harapan pelanggan adalah pendorong yang paling sering dikutip oleh peserta survei (46%).Pendorong yang paling banyak dikutip berikutnya adalah disrupsi dari pesaing baru (25%), hal ini menggarisbawahi pentingnya perusahaan untuk terus mengenali dan beradaptasi dengan tren baru agar tetap relevan.

Kecepatan adalah keharusan

Lebih dari setengah dari total responden (53%) mengindikasikan bahwa perusahaan mereka sudah berinvestasi atau berencana untuk berinvestasi dalam teknologi modern yang akan memungkinkan mereka untuk mengembangkan produk dan / atau layanan digital lebih cepat, gagasan ini di dukung oleh CA Technologies.

“Tanpa diragukan lagi, kunci untuk membangun sesuatu yang besar adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara cepat – mendengarumpan balik pelanggan dan melakukan perbaikan secara terus-menerus,” kata Miles dalam keterangan resminya

Prioritas investasi bisnis digital

Tindakan penting selanjutnya yang dilakukan atau dipertimbangkan oleh para responden (42%) adalah memperbaikin proses bisnis guna menghadapi pelanggan, dengan fokus khusus pada digital-first. Lebih dalam mengenai prioritas-prioritas, para responden sangat tertarik dalam menciptakan pengalaman digital terbaik bagi pelanggan (42%), mentransformasi operasionaldan proses bisnis inti (34%) dan transformasi proses kepegawaian (31%). Menariknya, investasi dalam produk dan layanan digital baru dikutip oleh hanya 24% responden sebagai prioritas investasi.

Risiko Dunia Maya

Hampir setengah dari responden (45%) mengatakan bahwa saat bisnis mereka menjadi lebih digital, mereka sangat prihatin tentang risiko keamanan, termasuk potensi peretasan data, masalah kepatuhan, dan litigasi. Hampir setengah (49%) percaya bahwa peralatan teknologi yang lebih baik harus dikembangkan di seluruh industri untuk meningkatkan keamanan dunia maya, sementara hanya sepertiga responden (35%) percaya bahwa perusahaan mereka harus berinvestasi untuk mengembangkan infrastruktur teknologi yang lebih aman bagi organisasi mereka.Investasi semacam itu lebih mudah mendapat persetujuan apabila direktur utama dan dewan direksi telah lebih memahami ancaman dunia maya yang dihadapi organisasi mereka.