ArenaLTE.com – Smartphone terbukti menjadi mitra terbaik kita setiap saat, bahkan menjelang tidur. Kita masih saja baca situs berita atau terhubung di media sosial, sehingga sering keterusan sampai larut malam. Kemudian ketiduran sambil pegang handphone atau bahkan tidak bisa tidur karena terlalu asyik. Apakah dampak penggunaan smartphone seperti itu membahayakan kita?

Banyak informasi yang tersebar bahwa salah satu dampak penggunaan smartphone di malam hari adalah penyakit insomnia dan kendala sulit tidur lainnya. Landasan teorinya yaitu layar smartphone yang memancarkan cahaya biru dalam jumlah banyak membuat otak kita berfikir sedang berada pada siang hari, jadi bukan waktunya untuk tidur.

Studi yang terpublikasikan dalam jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes juga mengungkapkan bahwa cahaya biru dari layar smartphone juga dapat mengganggu pelepasan hormone melatonin, hormon yang membantu tubuh untuk tidur. Ini menyebabkan saraf tetap terjaga.

Penelitan lain tentang gangguan tidur gara-gara smartphone juga diungkapkan Harvard Medical School. Sinar dari layar tersebut akan mengganggu jam biologis yang menyebabkan terganggunya kualitas tidur. Dampak penggunaan smartphone lainnya adalah tentang adanya radiasi elektromagnetik dalam jangkauan gelombang mikro sehingga mempengaruhi tidur non-REM (Rapid Eye Movement) yang menghambat aliran darah untuk mengalir ke otot-otot dan membuat tidur tidak nyenyak.

smartphone gangguan tidur
huffingtonpost

 

Namun apakah semua teori gangguan tidur gara-gara smartphone itu benar?

Kekhawatiran ini terus menyebar dan semakin membuat kita percaya bahwa dampak penggunaan smartphone bisa menjadi alasan utama gangguan tidur. Rupanya hal ini belum sepenuhnya benar. Bukan berarti melihat layar smartphone sebelum tidur tidak akan mempengaruhi tidur kita. Namun ini bukan menjadi alasan utama penyebab gangguan tidur, melainkan cuma memberikan efek yang sangat kecil.

Teori ini diperkuat dengan data dan dukungan para professional yang membantah mitos gangguan tidur gara-gara smartphone. Mereka mengungkapkan bahwa sinar dari layar seukuran smartphone bukan sesuatu yang mampu mempengaruhi kualitas tidur kita dan bukan menjadi faktor utama gangguan tidur.
BacaAnak Sekarang Lebih Suka Main Games Mobile Daripada Komputer

Jerome Siegel dari UCLA dan Gandhi Yetish dari the University of New Mexico mempublikasikan penelitian biologis mereka bahwa sangat sederhana untuk membuktikan jika smartphone bukan menjadi penyebab utama gangguan tidur. Mereka membandingkan antara komunitas industri millenials yang selalu terhubung dengan gadget canggih dengan komunitas pedalaman yang tidak tersentuh teknologi.

Penelitian ini melibatkan kelompok orang Hadza dari Tanzania utara, Ju / ‘hoansi San dari Gurun Kalahari dan Tsimane dari Bolivia. Tak satu pun dari mereka ini terkena cahaya dari layar smartphone. Bahkan, komunitas ini sebagian besar terdiri dari pemburu. Ada sekitar 94 orang yang mengajukan diri untuk memakai perangkat guna merekam gerakan mereka dan kendala terhadap pembuluh darah mereka. Monitor kelembaban dan suhu juga dipasang di lokasi yang biasa mereka jadikan untuk tempat bertidur untuk melacak berbagai variabel yang dapat mempengaruhi kualitas tidur mereka.

Setelah mengumpulkan data penelitan yang lengkap selama 1.165 hari, mereka menemukan waktu tidur rata-rata di kelompok ini adalah sekitar 6,5 jam sehari. Sementara itu, masyarakat terutama generasi millenials rata-rata tidur malam sekitar 7,5 jam. Sebanyak 71% dari anak muda ini biasanya tidur dengan smartphone. Hal ini secara efektif membuktikan bahwa smartphone dan teknologi light-emitting lainnya menajadi variabel yang paling sedikit pengaruhnya terhadap gangguan tidur seseorang.

Dengan hasil dari penelitian ini bukan menunjukkan bahwa teori-teori lain yang sudah dipublikasikan tidak sepenuhnya benar. Namun hanya menguatkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi kualitas tidur sesorang. Dan kita bisa sedikit merasa tenang karena penyebab utama gangguan kualitas tidur bukan disebabkan oleh smartphone.