“Tidak semua yang berkelana merupakan orang yang tersesat,” demikian pernah ditulis oleh pengarang The Lord of The Rings J.R.R Tolkien. Dan kenapa mereka harus tersesat dengan adanya kemajuan teknologi?

Berkat Google Maps dan Waze, sekarang hari-hari di mana kita merasa takut dan bingung serta merasa wajib untuk mengikuti arahan jalan dari sebuah peta telah sirna. Bahkan ketika berada di kota yang tidak familiar, kita mungkin saja tersesat, namun akan dengan mudah kembali ke jalan yang benar. Untuk memesan tiket pesawat dan hotel, sebelumnya kita harus berkonsultasi dengan agen wisata dan memiliki sedikit pilihan. Sekarang, kita bisa membuat jadwal perjalanan kita sendiri dengan sedikit interaksi dengan orang lain – kita dapat menyusuri web untuk membuat daftar perjalanan alternatif yang paling cocok, sebelum menetapkan pembelian secara online.

Sekarang konsumen dapat membuat rencana perjalanan yang dinamis, mulus, dan sarat informasi melalui PC atau ponsel. Penjualan wisata digital di Indonesia telah bertumbuh sebesar 20 persen dalam beberapa tahun terakhir dan ditargetkan dapat bernilai US$7 miliar pada akhir 2017.

Meskipun teknologi telah memberikan peluang pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk bisnis wisata lokal, munculnya wisatawan mandiri yang lebih digital membuat pemasok perjalanan yang bersifat tradisional dan offline akan melewatkan banyak hal dan tidak lagi mengetahui rahasia dari preferensi wisata para konsumen.

Pemasar wisata yang gagal untuk memahami perilaku online dari konsumen dan menawarkan pilihan personalisasi digital akan menjadi ‘holidazed’ – kehilangan 33 persen dari pemesanan potensial wisata karena telah direbut oleh para kompetitor yang telah berinvestasi pada web, mobile web, dan aplikasi-aplikasi mobile.

Dengan penjualan wisata digital di Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dan mencapai US$ 10,4 miliar pada 2020, bagaimana pemasok wisata lokal dapat tetap relevan di masa sekarang dan di masa depan?traveler Indonesia

Berikut ada tiga pertimbangan yang dapat membantu Anda mengungkap kerumitan konsumen yang baru saja diketahui, melibatkan kembali konsumen dan memastikan penjualan yang sukses.

  1. Memahami perjalanan sebelum perjalanan itu dimulai

Berkat wisata yang dirancang secara unik yang meniru perjalanan penemuan diri oleh Elizabeth Gilbert dari film “Eat, Pray, Love,” banyak yang datang untuk mengenal Bali tidak hanya sebagai pulau surga dengan pegunungan berhutan vulkanik, pantai, dan terumbu karang, tetapi juga tempat di mana saya bisa merasa nyaman dan menemukan diri sendiri.

Dapat dikatakan, tanpa memahami perbedaan yang dapat diambil dari berbagai macam karakter, pemasok wisata tidak dapat benar-benar menghasilkan ekspedisi atau pengalaman-pengalaman yang khas. Sama halnya, dalam konteks wisata digital, pemasar wisata tidak dapat mengabaikan perjalanan yang dilakukan konsumen secara online yang dapat menimbulkan kesadaran untuk membeli.

Sebuah studi membuktikan bahwa 3.000 konsumen mencari informasi produk melalui berbagai macam saluran, termasuk penawaran wisata digital. Secara mengagumkan, 3.000 konsumen tersebut memiliki cara yang unik dalam membeli, dengan menggunakan permutasi dan kombinasi yang berbeda melalui perangkat dan juga website.

Hal ini dengan jelas menggambarkan bahwa pemasar wisata harus memerhatikan kebiasaan browsing dari para konsumen melalui berbagai pilihan dan menyesuaikan usaha dalam mempromosikan wisatanya berdasarkan perjalanan yang pernah dilakukan oleh setiap individu.

  1. Optimasi mobile seharusnya bukan lagi sesuatu yang tak pasti

Berdasarkan Travel Flash Report oleh Criteo, pada semester pertama 2015, 27 persen pemesanan wisata secara online di daerah Asia Pasifik dilakukan melalui perangkat ponsel. Di Asia Tenggara, yang mencapai 30 persen, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata wilayah di Asia Pasifik – yang mengindikasikan dengan kuat bahwa transaksi mobile akan mendominasi wilayah tersebut di masa depan.

Para pemasar wisata juga harus memahami selera khalayak secara online, dengan keputusan pembelian yang secara khusus didorong oleh penelitian yang luas melalui berbagai website, aplikasi dan perangkat. 48 persen dari konsumen menggunakan ponsel dalam menggali informasi mengenai produk wisata. Oleh karena itu, pemasar perlu mengombinasikan pemahaman mengenai kebiasaan pengguna terhadap berbagai perangkat, khususnya ponsel.

Yang terpenting di era lintas perangkat sekarang ini ialah keberlanjutan dari pelibatan konsumen melalui semua layar perangkat dan saluran media. Rencana untuk mengoptimalkan mobile seharusnya bukan lagi sesuatu yang tak pasti – konsumen yang tidak dapat mengakses produk wisata Anda melalui website di ponsel ataupun aplikasi bermerek akan dengan mudah beralih ke kompetitor yang memiliki aset yang telah dioptimalkan untuk platform mobile. .

  1. Gunakan data sebagai pendorong perencanaan media dan personalisasi

Setelah memahami mengenai pentingnya pengalaman online dari setiap konsumen mulai dari pertama kali mengetahui suatu brand hingga melakukan pembelian, dan menyadari bahwa optimasi mobile merupakan suatu keharusan, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah skalabilitas dan personalisasi.

Untuk memudahkan perencanaan media digital dan membuat pemakaian oleh konsumen menjadi lebih efektif, data pendorong harus memiliki dua kemampuan utama. Yang pertama ialah kemampuan untuk memengaruhi teknologi pembelajaran mesin untuk dapat memperhitungkan kesiapan individu dalam membeli dan kemampuan konsumen dalam berbelanja.

Teknologi pembelajaran mesin secara otomatis menilai faktor-faktor seperti musim wisata dari masing-masing negara, pola navigasi konsumen di beberapa perangkat, kemungkinan tujuan dan waktu pemesanan. Yang kedua adalah dengan menggunakan teknologi penargetan ulang untuk menayangkan iklan secara tepat waktu dan personal kepada para konsumen berdasarkan perhitungan yang telah disebutkan di atas untuk meningkatkan pendapatan secara online dengan biaya yang optimal.

Dalam tulisan lain yang merangkum perjalanan unik yang dilakukan oleh para individu, J.R.R Tolkien mengatakan: “Rumah di belakang, dunia di depan, dan ada begitu banyak jalan untuk ditapaki.” Sekaranglah waktu terbaik untuk merebut kesempatan yang diberikan oleh lingkungan wisata digital yang dinamis saat ini.

Dengan alat digital dan data pendukung yang tersedia, pemasar wisata tidak perlu terintimidasi atau dibingungkan oleh konsumen yang memahami teknologi dan oleh perilaku online mereka yang kompleks. Yang perlu kita lakukan adalah menghindari pendekatan pemasaran ‘one-track’ (atau ‘one-trek’).

Yvonne Chang, Executive Managing Director, Asia Pasifik, Criteo
Yvonne Chang, Executive Managing Director, Asia Pasifik, Criteo