Internet of Things (IoT) telah menjadi katalis dalam percepatan peningkatan ekonomi sehingga mampu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di negara-negara maju. Secara industri, IoT telah memicu produksi perangkat wearable seperti jam pintar, gelang pintar, baju pintar dan perangkat pintar lainnya. Lebih jauh, implementasi IoT di negara maju juga berhasil meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat dalam bidang kesehatan, pertanian, pengelolaan sumber daya alam, ketahanan terhadap perubahan iklim dan penanganan bencana alam – yang tentunya juga akan sangat bermanfaat di belahan dunia lain khususnya di negara berkembang.

Dalam bidang kesehatan misalnya, IoT bisa diterapkan pada perangkat pemonitor suhu pada distribusi vaksin untuk daerah-daerah pedesaan, seperti inovasi yang dikembangkan Nexleaf di Kenya, Mozambik, India, Filipina, Laos, dan Indonesia. Setiap tahun, seperlima anak di negara berkembang tidak mendapat vaksin.

Salah satu penyebabnya adalah rusaknya vaksin-vaksin tersebut karena harus disimpan dalam suhu 2-8 derajat celcius. Sementara tempat penyimpanan vaksin di negara-negara berkembang kurang memadai dan pengukuran suhunya dilakukan secara manual, bahkan hanya menggunakan tangan, sehingga sering menyebabkan keterlambatan dalam mengetahui adanya perubahan suhu.

Dengan teknologi IoT, kita bisa memasang sensor pemantau suhu di tempat penyimpanan yang terhubung dengan perangkat mobile, sehingga bisa mendapat notifikasi jika terjadi masalah seperti perunahan suhu.

Sementara itu di bidang pertanian, IoT bisa digunakan untuk meningkatkan hasil pertanian, memperbaiki tempat penyimpanan hasil pertanian, sampai pada pendistribusiannya. Perangkat IoT dalam hal ini bisa digunakan untuk memprediksi cuaca, curah hujan, arah angin, dan tekanan udara dengan lebih akurat. Selain itu, teknologi IoT juga memungkinkan kita untuk menjalankan pompa irigasi secara otomatis, seperti perangkat yang dikembangkan di India yang juga memungkinkan petani untuk mengecek ketersediaan bahan bakar dan air di pompa irigasi.

Bagi negara-negara yang rentan bencana alam seperti Indonesia, IoT bisa digunakan dalam sistem peringatan bencana seperti gempa bumi dan tsunami. Saat ini juga banyak dikembangkan juga teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) atau drone yang digunakan untuk mendeteksi potensi bencana dan dampak perubahan iklim. Pada perkotaan padat penduduk yang rentan terhadap kebakaran, IoT bisa digunakan untuk memberi alarm pada tetangga sekitar dan secara otomatis memberitahukan petugas pemadam kebakaran. Perlu dicatat bahwa hal ini sedang dikembangkan lebih jauh oleh Red Cross di Nairobi, Kenya dan Cape Town, Afrika Selatan.

EC-GSM-IoT

Berbagai contoh di atas sangat mungkin dikembangkan di Negara berkembang seperti Indonesia dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasionalnya. Sebuah laporan yang dihimpun oleh Cisco dan International Telecommunication Union (ITU) baru-baru ini mengungkapkan bahwa ada 3 faktor penting yang dibutuhkan dalam mengembangkan IoT di negara-negara berkembang. Ketiga faktor tersebut antara lain:

  1. Ketersediaan Perangkat

Ini mengacu pada ketersediaan perangkat yang bisa dioperasikan dengan infrastruktur dasar IoT yaitu pada jaringan 2G ataupun 3G. Ketersediaan ini merupakan bagian penting dari implementasi IoT di negara-negara berkembang. Sudah banyak perangkat IoT yang dirancang untuk bisa bertahan pada lingkungan ekstrim dan alam terbuka, sesuai dengan keadaan di negara berkembang. Selain itu, operasional dan sinkronisasi perangkat-perangkat yang ada saat ini juga tergolong mudah digunakan sehingga semua orang bisa mengoperasikannya tanpa kendala teknis berarti.

  1. Keterjangkauan Infrastruktur

Dalam pelaksanaan IoT, infrastruktur yang memungkinkan pelaksanaan IoT perlu dimiliki. Namun, bukan berarti infrastruktur tersebut harus seperti yang dimiliki negara maju karena tentunya infrastruktur IoT di negara maju akan sangat berbeda dengan negara berkembang, apalagi mengingat riset IoT di negara berkembang cenderung jauh tertinggal. Untungnya,  infrastruktur dasar IoT sebenarnya telah tersedia di negara berkembang dan siap untuk dikembangkan lebih lanjut. Keterjangkauan infrastruktur ini akan memengaruhi seberapa jauh pelaksanaan IoT di negara berkembang bisa dilakukan.

 

  1. Skalabilitas

Perangkat IoT mengacu pada semua perangkat yang bisa terhubung dengan internet. Perangkat ini dirancang untuk bisa disesuaikan dengan kebutuhannya, besar atau kecil. Kini, banyak perangkat yang memiliki fitur Plug & Play, sehingga membutuhkan kemampuan teknis minim untuk meng-install dan mengelolanya.

Pengurangan daya listrik dan penggunaan sumber daya listrik alternatif (misalnya dengan menggunakan energi solar) dapat mempertahankan sensor dan jaringan saat tidak ada pasokan listrik yang konsisten, sehingga membuat sensor dan jaringan tersebut ideal untuk negara-negara yang tidak memiliki pasokan listrik secara teratur atau bahkan tidak ada sama sekali.

Akhirnya, perangkat IoT dibuat cenderung lebih fleksibel, menawarkan solusi jangka pendek serta jangka panjang dengan kecepatan ekspansi sesuai dengan skala kebutuhannya, mulai dari kebutuhan rumah tangga, masyarakat yang lebih luas, atau bahkan pada tingkatan yang lebih tinggi seperti negara.

Sancoyo Setiabudi CIsco
Sancoyo Setiabudi, Country Manager, Cisco Indonesia

Sebagai Negara berkembang, Indonesia sudah membuat langkah bagus dengan memanfaatkan IoT di berbagai bidang. Pada tahun 2015, pemerintah telah memanfaatkan IoT dengan memperkenalkan situs LAPOR!, sebuah aplikasi yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan laporan tentang suatu isu social langsung kepada presiden. Beberapa pemerintah daerah juga telah menerapkan IoT melalui program Smart City. Jakarta Smart City dan Bandung Smart City merupakan contoh bagus dari penerapan Smart City di Indonesia.

Pemanfaatan IoT secara lebih luas yang menyentuh berbagai bidang kehidupan serta peningkatan penggunaan fasilitas IoT yang sudah ada akan membantu Indonesia meningkatkan taraf hidup rakyatnya.  Oleh karena itu, upaya-upaya pengembangan IoT baik itu oleh swasta dan pemerintah daerah melalui penelitian dan penerapan smart city perlu didukung. Dengan demikian, Indonesia bisa mempercepat tercapainya tujuan pembangunan nasional sekaligus mewujudkan Indonesia menjadi sebuah Negara Digital.