Indonesia adalah negara yang wilayahnya terdiri dari pulau besar dan kecil. Dan karenanya, banyak penduduk yang mengandalkan sektor perikanan sebagai mata pencaharian.Terutama nelayan yang tinggal di daerah-daerah pesisir. Tapi seperti kita tahu, kebanyakan nelayan kita masih bersifat tradisional, mengandalkan pengetahuan turun temurun untuk mencari ikan di laut.

Di tengah era modernitas, para nelayan tradisional ini kerap harus berbenturan dengan nelayan modern dengan perlengkapan modern, serta harus berhadapan pula dengan mekanisme pasar modern. Sehingga, seperti yang banyak kita lihat, kebanyakan kehidupan para nelayan tradisional ini tidak terlalu sejahtera.Bahkan cenderung kesejahteraan mereka terus menurun.

Di sisi lain, ada teknologi yang terus berkembang. Teknologi pada hakikatnya ada dan hadir untuk membuat kehidupan manusia lebih baik.Baik secara ekonomi maupun social. Tidak hanya mereka yang tinggal di perkotaan, juga manfaat teknologi harus terasa hingga ke masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran dan jauh dari akses kota besar.

Dian Siswarini saat memperkenalkan aplikasi mFish kepada Presiden Joko Widodo di BSD (4/8/15)
Dian Siswarini (keempat dari kiri) saat memperkenalkan aplikasi mFish kepada Presiden Joko Widodo (paling kanan) di BSD (4/8/15)

Sesuai dengan visi jangka panjang XL, yakni mengenalkan teknologi aplikatif ke masyarakat, XL ingin mengantarkan masyarakat ke era digital, agar masyarakat mendapat manfaatnya dari kehadiran teknologi. Nah, salah satu langkah nyata untuk itu adalah kami membuat dan menghadirkan aplikasi yang dinamakan M-Fish.

M-Fish adalah aplikasi untuk para nelayan, yang dapat membantu para nelayan meningkatkan hasil tangkap, serta membantu aspek keselamatan ketika berlayar. Ini juga sejalan dengan visi pemerintah, yang ingin meningkatkan penggunaan internet seluas mungkin di masyarakat.

Layanan M-Fish ini dibuat setelah sebelumnya kami melakukan survai ke kalangan nelayan. Kami mencoba menangkap apa sebenarnya yang jadi kebutuhan para nelayan itu. Kami juga coba petakan, apa saja yang terkait dengan mereka. Misalnya, pengepul, penjual ikan, dan sebagainya. Sehingga, dari situ bisa dikembangkan aplikasi dan layanan yang benar-benar tepat dengan kebutuhan.

Dari situlah kemudian muncul M-Fish.Aplikasi ini tidak sekadar berisi informasi cuaca, tetapi juga informasi lokasi plankton. Karena, di mana terdapat plankton, di situlah tempat ikan berkumpul.Juga ada informasi mengenai harga jual ikan di pasar, sehingga para nelayan tak lagi dibodohi pengijon dalam menentukan harga ikan.

Tapi yang paling penting adalah informasi lokasi, atau aplikasi GPS.Sebab ternyata itulah kebutuhan utama para nelayan tradisional ini. Selama ini banyak nelayan tradisional itu yang tersesat dan hilang di laut, gara-gara tak punya system navigasi modern. Nah itulah yang kita sediakan dalam M-Fish, system GPS yang bisa membantu mereka menentukan arah pulang.

dian-siswarini-2Tentu saja, meskipun layanan ini sudah lengkap dan bisa memenuhi kebutuhan para nelayan, tak bisa serta merta meminta mereka menggunakan M-Fish. Harus ada proses edukasi  dan pendampingan yang tidak gampang. Butuh berbulan-bulan untuk proses pendampingan ini. Karena itu, ketika merancang M-Fish, XL bekerjasama dengan berbagai pihak: penyedia data, pembuat aplikasi, pihak yang bisa mendanai, yayasan yang bisa melakukan pendampingan, serta Pemda setempat.

Awalnya memang tidak mudah. Kita tidak bisa begitu saja memberi handset yang sudah dilengkapi aplikasi ini, dan meminta mereka (nelayan) menggunakannya.Mereka harus didampingi, diajari penggunaannya, hingga mereka terbiasa. Kalau perlu, pendamping ikut para nelayan itu melaut, agar bisa menunjukkan cara menggunakan GPS, misalnya. Tapi upaya keras itu kini sudah berbuah hasil.Para nelayan itu sudah bisa menggunakan aplikasi M-Fish. Bagi nelayan,  M-Fish berhasil menaikkan produktivitas hingga tiga kali lipat dari biasa.

Saat ini, sudah 3000 nelayan di Lombok, Bali dan Madura yang menggunakan layanan ini. Ke depannya, layanan ini akan terus dikembangkan di berbagai sentra-sentra nelayan. Infrastruktur juga akan terus diperbaiki, seperti BTS di pantai yang jangkauannya dioptimalkan hingga 9-10 km, sesuai jarak jelajah para nelayan itu.

Dukungan juga tetap terus diperlukan. Seperti, menjajaki kemungkinan kerjasama dengan pemerintah daerah setempat, agar M-Fish diadopsi menjadi program pemerintah daerah.Bila sudah diadopsi, implementasinya akan jauh lebih cepat lagi. Juga dukungan dari Kementerian Kelautan, berupa data-data jenis ikan.Ini penting untuk meningkatkan nilai ekonomis ikan tangkapan.

Dukungan dari LSM-LSM setempat juga dibutuhkan untuk program pendampingan.Mereka yang lebih tahu karakteristik masyarakat local, serta mengerti bahasa setempat.Sehingga, proses komunikasi bisa lebih efektif.Sejauh ini, kami mendapat dukungan pula dari Usaid, berupa pendanaan untuk pengadaan kit (mobile device). Kalau enggak ada dukungan dana, ya enggak bisa jalan.

Di samping itu, memang ada beberapa kendala.Salah satunya adalah, ada ketakutan data yang disuplai ke XL untuk program ini nanti disalah gunakan.Anggapan itu muncul karena XL bagaimanapun adalah perusahaan asing, sementara data yang diminta adalah data milik pemerintah.Padahal kalau menurut saya, negara asing justru sudah punya data semua itu, lebih komplit.Jadi sebenarnya ketakutan itu tidak beralasan juga.

Yang juga jadi perhatian kita adalah soal infrastruktur.Layanan seperti M-Fish ini kan kebanyakan untuk daerah terpencil. Masalahnya, di daerah terpencil atau remote area itu, infrastrukturnya belum ada.Berarti harus membangun dulu.Dan itu bukan persoalan mudah, karena melibatkan investasi besar, serta ada hitung-hitungan bisnisnya juga.Karena itu, kami harus memilih, (daerah) mana dulu yang mau dikembangkan.

Ke depannya, M-Fish ini sebenarnya juga akandikembangan di negara lain. Terutama di negara tempat Axiata Group beroperasi.Jadi komunitasnya nanti akan lebih besar. Bisa antar negara. Di samping itu, program M-Fish ini kalau bisa diadaptasi jadi program-program pemerintah daerah, itu akan jauh lebih efektif, akan jauh lebih cepat implementasinya.(aul)