Sifat manusia tak pernah puas. Setelah punya ponsel cerdas, kita ingin gadget yang lebih simpel bahkan bisa menempel ke badan, tak perlu dipegang atau ditenteng. Kita ingin perangkat tersebut bisa melakukan semua hal mulai dari yang sifatnya untuk keperluan pribadi atau sosial. Dan, kita ingin perangkat tersebut bisa terkoneksi ke internet.

Permintaan terhadap perangkat dengan mobilitas lebih tinggi dan lebih simpel memang tak selalu berjalan beriringan dengan urgensi terhadap internet kecepatan tinggi. Tapi, suatu saat keduanya bakal bertemu pada satu titik yang sama. Berujung pada perangkat praktis yang bisa terkoneksi langsung ke internet kapan saja dan dimana saja.

Sebuah fakta menarik dirilis GSMA yang mencatat bahwa jumlah koneksi 4G LTE dunia berhasil menyentuh angka 1 miliar. Artinya telah terjadi akselerasi pergeseran penggunaan teknologi di jaringan 3G dan 4G LTE baik di pasar negara maju maupun negara berkembang. Hal ini juga didorong oleh tumbuhnya inovasi digital, adopsi smartphone dan pertumbuhan konsumsi data mobile.

Lebih jauh, kombinasi peningkatan akses mobile broadband dan meningkatnya adopsi smartphone berkontribusi ledakan dalam penggunaan mobile data. Smartphone menyumbang 45 persen dari koneksi mobile pada tahun 2015 (naik dari hanya 8 persen pada 2010) dan 2,6 miliar koneksi smartphone akan terus berlanjut dan bertambah lima tahun ke depan.

Selanjutnya? Selain ponsel cerdas, wearable device pun bakal menjadi perangkat yang haus layanan data atau akses internet. Porsinya kecil? Jelas untuk saat ini. Tapi di masa depan bisa jadi gadget mungil tersebut semakin rakus terhadap internet.

Wearable Device Kian Familiar

wearable-devicesTahun ini orang bakal semakin banyak yang mengenal wearable devices. Sederhananya, sebutan tersebut untuk mewakili segala perangkat teknologi cerdas  yang bisa sekaligus dikenakan di tubuh kita, seperti kacamata, jam, cincin, gelang, dan sebagainya. Gartner memprediksi jika tahun ini penjualannya akan tumbuh hingga 18,4 persen.

Wearable device seperti fitness tracker dan smartwatch memang belum begitu mewabah dan akrab dengan keseharian kita. Tapi proyeksi Gartner mencatat setidaknya akan ada penjualan sekitar 274,6 juta unit wearable device di seluruh dunia di 2016. Smartwatch memiliki potensi pendapatan terbesar dibanding wearable device lain. Meski tingkat adopsinya masih tetap ada di bawah penjualan smartphone.

Di masa mendatang, smartwatch bisa menarik minat konsumen berkat bentuknya yang estetis serta fungsinya yang melimpah. Di sisi lain, fitness wearable (wristband, garment, chest strap, sports watch dan lain-lain) juga sudah mulai menuai popularitas di AS.

Sebagian besar wearable device bisa terkoneksi ke internet via Wi Fi dan sebagian lain punya beragam fitur yang butuh koneksi internet. Tapi, nyaris belum ada yang mendukung kapabilitas internet independen alias punya layanan seluler sendiri. Adalah LG yang sudah mengumumkan smartwatch pertama dengan dukungan layanan 4G LTE meski sampai sekarang belum hadir secara komersial.

LG Watch Urbane 2 ini diklaim menawarkan koneksi nirkabel lengkap termasuk 4G dan 3G. Artinya, gadget ini akan bisa melakukan dan menerima panggilan telepon dan beroperasi secara independen dalam mengakses internet. Karena memiliki koneksi data, pengguna dapat sepenuhnya menggunakan jam tangan ini tanpa harus selalu terhubung ke smartphone.
Baca jugaPengiriman Komponen Layar Wearable Devices Bakal Tembus 39 Juta Unit di Tahun 2016

Produsen Chipset Endus Potensi

Huawei tengah membaca peta. Dalam sebuah publikasi di situs resminya oleh Zhang Menghan dan Wang Rong, ditegaskan jika teknologi wearable bakal sangat ‘sadar’ internet. Teknologi ini akan membawa perubahan dalam model bisnis penyediaan internet hingga cara mengaksesnya.

Di masa mendatang, teknologi wearable akan mengubah kehidupan. Membuat akses terhadap dunia online menjadi lebih nyaman karena sekaligus menjadi pengalaman di dunia nyata. Semuanya bakal menjadi lebih intuitif erat dengan kegiatan sehari-hari sampai hal pribadi.

Ah, tapi hal di atas masih sebatas mimpi yang harus direalisasikan. Untung saja pijakan awal sudah mulai dilakukan. Yups, potensi wearable device salah satunya smartwatch  sudah mulai terendus dengan baik oleh Qualcomm. Masa depan internet serta kaitannya dengan wearable device mendorong produsen chipset ini untuk buru-buru memperkenalkan chipset untuk wearable device yang dinamakan  Snapdragon Wear 2100.

Di antara manufaktur chipset, Qualcomm jelas yang terdepan dalam merilis chipset untuk wearable device. Ini adalah chipset terbaru yang diumumkan oleh Qualcomm yang dirancang khusus untuk dapat menyokong otak di perangkat wearable. Menurut Qualcomm, Snapdragon Wear 2100 mempunyai ukuran yang kecil dan lebih hemat energi dibanding pendahulunya. Mengingat bahwa baterai adalah salah satu masalah utama di perangkat wearable, kemampuan ini harusnya jadi fitur yang paling diharapkan.

Perusahaan mengklaim bahwa chipset menjadi pasangan ideal untuk berbagai perangkat wearable, seperti pelacak, headset, kacamata pintar, dan banyak lagi. Mereka juga mengklaim akan ada banyak perangkat yang dapat dikenakan didukung oleh Snapdragon Wear 2100 di masa mendatang, meskipun saat ini belum jelas apa saja.

Menariknya, Snapdragon Wear 2100 juga telah mendukung jaringan LTE secara default di samping konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth. Dengan demikian, smartwatch yang ditenagai chipset baru ini nantinya dapat mengaktifkan segudang fungsi tanpa harus tersambung kesmartphone terlebih dulu.

So, tak sabar menanti perkembangan teknologi wearable. Mudah-mudahan hubungan antar wearable device seperti smartwatch dan internet bakal semakin harmonis. Jadi tak perlu repot-repot menenteng gadget atau mencari ke warnet untuk mengakses dunia maya, karena internet sudah langsung menempel di tubuh kita.