Jujur saya saat ini sedang benci-bencinya dengan yang yang namanya 4G LTE. Kok bisa begitu? Saya yakin banyak yang heran. Di kala banyak kalangan tersenyum sumringah menyambut era internet super cepat via layanan 4G LTE, justru saya malah kesal berat dan mengeluhkan keberadaannya. Rindu tapi sebal sih. Hehe.

Sudah bukan rahasia jika operator telekomunikasi di negeri ini tengah menyusun rencana hebat dan aktif bergerilya memperkenalkan layanan 4G LTE pada masyarakat. Tapi sulit dan beratnya minta ampun lho. Pasalnya, mereka yang bakal jadi target dari layanan ini sejatinya masih terheran-heran. Apa sih 4G LTE? Sejenis camilan? Plat nomor mobil?

Di satu sisi operator sangat ingin layanan 4G LTE cepat familiar, populer dan mengakrabi setiap rumah pelanggannya.Tapi di sisi lain, boro-boro memakai layanannya, kenal istilah 4G LTE saja hanya selintas saja. Alias masih segelintir kalangan saja yang mencicipi layanan 4G LTE, sementara sisanya baru menapaki tahap ‘ngeh’. Bahkan sebagian lain benar-benar ‘blank’ alias tak tahu sama sekali.

Nah, saya adalah satu dari segelintir pelanggan operator telekomunikasi yang kebetulan ‘berkenalan’ tanpa sengaja dengan layanan 4G LTE. Meski sudah lama mengenal kata-kata tersebut sejak beberapa tahun lalu – kala pemerintah, operator dan penyedia layanan internet ribut-ribut rebutan lahan dan frekuensi. Kala istilah Wimax lebih dikenal ketimbang LTE – tapi baru beberapa bulan terakhir saja saya benar-benar mencicipi layanannya.

Selama bertahun-tahun saya telah bergabung menjadi ‘komunitas’ pengguna internet yang merindukan kedatangan internet super cepat. Sstt, tapi tak perlu  ‘super cepat’ sih, karena ‘cepat’ saja pun sebenarnya sudah cukup bagi saya. Asal lancar, stabil dan murah. Sebuah angan-angan yang dulunya terasa muluk buat pengguna layanan data operator seluler seperti saya. Hihi.

Kenyataan yang sebenarnya, saya termasuk kalangan yang belum mampu berlangganan internet broadband kabel optik. Selama ini dompet saya hanya bisa mengucurkan dana buat berlangganan layanan data operator seluler. Dan sayangnya, saya belum pernah menikmati layanan data operator seluler (semua operator lho) yang lancar, stabil dan murah.

Kalaupun internet lancar, maka layanannya biasanya tidak stabil alias terputus-putus. Saat internet stabil, maka bisa dipastikan aksesnya lemot. Dan kalaupun murah biasanya akses tak lancar. Bahkan membayar mahal pun tak bisa menjadi jaminan bahwa internet bakal lancar dan stabil.

Kemudian datanglah layanan 4G LTE yang selama ini sudah saya rindukan. Operator telekomunikasi datang membawa mimpi dimana layanan 4G LTE atau Long Term Evolution ini memungkinkan akses Internet super cepat. Bayangkan, operator mengklaim jika kecepatan internet nirkabel bisa melesat hingga 150 Mbps. Sementara layanan sebelumnya yang berbasis 3G/HSDPA atau 3G hanya bisa ngebut sampai 14 Mbps.

Sayang, kecepatan maksimalnya ternyata hanya sebatas mimpi saja buat pengguna layanan reguler seperti saya. Pengujian yang pernah saya lakukan mencatat jika kecepatan rata-rata 4G LTE operator memang bisa mencapai 5-20 Mbps. Tapi hanya sampai segitu lho. Setengah dari kemampuan optimalnya saja tidak. Hal pertama yang membuat saya sebel terhadap layanan 4G LTE. Layanan yang saya rindu dan saya nanti-nantikan selama ini ternyata masih diming-imingi janji.

Tapi sisi positifnya juga ada sih, kecepatan yang didapat benar-benar ‘luar biasa’ bagi saya yang terbiasa memakai layanan 3G/HSDPA dimana akses internet ideal bisa ngebut 1 Mbps saja sudah bagus. Saya sempat jatuh cinta lho.

Dengan layanan 3G/HSDPA, men-download game 30 MB dengan layanan 3G, umumnya butuh waktu 22 detik. Sementara itu, dengan layanan 4G hanya 4 detik saja. Buat loading streaming musik memakai 3G rata-rata butuh 15 detik, tapi dengan 4G cukup 1 detik.

Inilah layanan internet yang saya tunggu sejak bertahun-tahun. Tak perlu secepat klaim operator yang bisa dipacu hingga 150Mbps. Asal lancar, stabil dan murah. Nah, dari sini pula asa muasal rasa sebel saya selanjutnya timbul. Lantaran saya termakan pancingan operator yang sudah terlanjur berkoar internet bisa ngebut sampai 150Mbps. Mana buktinya? Faktanya, sangat langka kita bisa menembus kecepatan 150Mbps. Karena bisa stabil di angka 50Mbps saja sulit.

Ada rasa sebel lain yang menghantui, yakni masih terbatasnya area coverage 4G LTE. Buat saat ini saya masih sedikit mengeluhkan soal ini. Pasalnya, tidak semua lokasi bisa menangkap jaringan 4G LTE. Di Jakarta saja, masih ada beberapa area dimana saya bisa kehilangan akses 4G LTE. Tapi saya yakin seiring berjalannya waktu, rasa sebel saya pun bakal sirna.

Satu hal lagi yang membuat saya sebel dengan layanan 4G LTE adalah kecenderungan menghamburkan kuota. Tren akses internet saya mulai beralih dari sekedar browsing menjadi streaming. Dari sekedar chatting menjadi video calling. Dari sekedar download kapasitas kecil menjadi makin besar.

Sangat boros. Saya makin serakah mengeksplorasi dunia maya. Tapi jujur, dari rasa sebel ini saya dapat pelajaran berharga. Yaitu saya harus mulai memanfaatkan internet secara efektif dan efisien sesuai kebutuhan. Jika memang butuh buat keperluan streaming saya pasti lakukan tapi tidak seenak jidat.

Tapi meski bercampur rasa sebel saya tetap merindukan layanan 4G LTE. Saat tak ada, rasanya dunia hampa. Apalagi layanan ini sudah komersial dan kian menyemut di puluhan kota besar seluruh Indonesia. Di sisi lain, keberadaan handset atau perangkatnya pun semakin melimpah dan terjangkau

Setahun lalu, memang agak sulit mencari smartphone 4G LTE dengan harga terjangkau, ditambah rata-rata banderolnya masih selangit. Kini sangat mudah mencari smartphone 4G LTE murah, bahkan di bawah sejutaan. Lebih dari itu, nyaris semua operator sudah menyediakan layanan 4G LTE. Jadi menarik karena baik vendor dan operator pasti akan sama-sama berlomba menghadirkan yang terbaik dari segi kualitas maupun layanan. Saat semua sudah berjalan beriringan saya pastikan saya sudah tidak akan sebel lagi dengan yang namanya 4G LTE. Mungkin saya bisa mencintainya perlahan-lahan. Hehe.