ArenaLTE.com – Dalam data yang dikumpulkan badan riset International Data Corporation (IDC) pada kuartal-IV 2015, disebutkan bahwa ada sebanyak 8,3 juta unit smartphone telah berhasil di kapalkan ke Indonesia. Hal ini mengindikasikan adanya kenaikan dari tahun lalu sebesar 14,4% dibanding tahun lalu. Kenaikkan itu juga dipengaruhi makin suburnya pertumbuhan ponsel China, bahkan dua pertiga produk yang dikirimkan diklaim telah mendukung jaringan 4G terbaru saat ini. Hal ini yang mengindikasikan perkembangan smartphone 4G.

Peningkatan pengiriman smartphone pada 2015, diklaim sebagai kenaikan yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, sebelum izin impor produk para produsen berakhir diakhir 2015-2016 pertumbuhan itu mencapai 17,% menjadi 29,3 juta unit di akhir 2015.

Derasnya guyuran ponsel China di pasar Indonesia sendiri, memang diakui cukup meningkat signifikan. Dalam catatan badan riset tertulis bahwa pangsa pasar produsen tersebut, meningkat menjadi 21% pada kuartal-IV di 2015. Peningkatan yang signifikan dibanding pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya tercatat sebesar 15% saja.

Seperti terlihat di pasar, memang beberapa vendor China terlihat begitu gencar memperluas pangsa pasarnya di Indonesia. Salah satunya adalah produsen asal Tirai Bambu, Lenovo, yang mulai melakukan manufakturnya di Tanah Air pada keluarga seri A. Seri ini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, dilepas di pasaran dengan harga sekira USD100 dan tercatat juga cukup sukses.

Kesuksesan ponsel China di pasar Indonesia memang tidak dihasilkan secara instan, ada teknik marketing yang baik dilakukan produsen. Salah satunya seperti yang kami sebutkan sebelumnya, mereka menyiapkan ponsel dukungan 4G pada dua pertiga produk yang dimilikinya. Hal ini juga sejalan dengan perkembangan pasar yang mulai meminati ponsel LTE tersebut, karena memang layanan operator dan infrastruktur yang disiapkan Pemerintah sudah mulai berjalan.

smartphone LTE

Serbuan Ponsel China

Seperti diungkapkan diatas, dua pertiga dari seluruh produk yang dikirimkan produsen China diklaim telah mendukung fitur 4G LTE. Hal ini menandakan bahwa semarak ponsel 4G murah akan menjadi mudah ditemukan di pasaran, bahkan beragam produsen tak segan untuk bersaing di ranah tersebut.

Smartfren tercatat cukup mendominasi pasar Tanah Air dengan beragam produk smartphone 4G, hasil kerja samanya dengan banyak produsen OEM. Sementara Advan, Evercoss dan Axioo baru saja meluncurkan smartphone 4G mereka di 2015 pada kuartal-IV. Hal ini juga diikuti oleh Polytron dan Himax yang juga telah hadir beberapa kuartal sekarag,  namun sayang produknya masih belum banyak atau terbatas.

Baca juga: Asyik! Smartphone LTE Tambah Canggih, Harga Kian Murah

Jika pergerakan produsen lokal dalam bermain di segmen produk 4G belum terlihat besar, hal ini bisa saja menggerusnya di pasar. Dalam catatan yang didapatkan di pasar saja, Samsung sudah mulai agresif untuk menelurkan smartphone 4G di level harga IDR1 jutaan.

Persaingan ponsel lokal tak hanya dengan produsen global, namun para pemain dari negeri Tirai Bambu juga cukup mendominasi. Lihat saja seperti Xiaomi, Meizu, Himax, maupun Lenovo yang banyak memiliki produk di segmen menengah dengan tawaran 4G bermunculan. Maka tentunya keragaman produk yang dihadirkan produsen China, menjadi viral yang berat untuk produsen lokal bersaing di pasar sendiri.

Harga Menentukan Perluasan Pasar

Keberagaman produk bukan hanya menjadi opsi terbaik bagi banyak konsumen, harga juga kerap kali menjadi perhitungan yang dipertimbangkan. Thomas Jul, Head Of Ericsson Indonesia and Timor Leste kepada ArenaLTE.com  pada acara media update beberapa waktu lalu, menjelaskan bahwa harga memang menentukan perluasan ekosistem 4G LTE hampir di semua negara.

“Tidak hanya di Indonesia, jika memperhatikan eksosistem 4G LTE di seluruh dunia, maka yang mendorong perkembangan smartphone 4G tergantung pada harga,” jelasnya.

Thomas Jul menambahkan, untuk pemerataan ekosistem 4G LTE di seluruh Indonesia memang membutuhkan waktu yang cukup lama, namun kita juga bisa memahami bahwa belum semua wilayah di Indonesia membutuhkan 4G LTE dan cukup dengan teknologi 2G saja saat ini.

Reza, Senior Market Analyst for Client Devices at IDC Indonesia, menuturkan,”Jadi, untuk bersaing, vendor lokal terdorong untuk menawarkan nilai yang lebih tinggi proposisi tersebut setara dengan fitur perangkat mereka. Polytron, misalnya, telah mencoba untuk membedakan dengan mengembangkan versi sendiri disesuaikan Android yang akan disebut OS FIRA. Beberapa orang lain telah mulai menawarkan ponsel 4G pada titik harga yang jauh lebih rendah dibandingkan vendor China-based atau global, namun harga tetap jadi penilaian,” dalam keterangan resminya.