ArenaLTE.com – Saat ini, bisnis jual beli dan industri mulai bergerak ke arah digital. Siapa yang enggan mengikuti, lambat laun bakal tergusur. Begitu juga dengan perusahaan ritel, jika tidak berubah dari sekarang, maka perlahan bakal tertinggal.

Dunia ritel tengah mengalami gelombang inovasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan ‘The Future of eCommerce: The Road to 2016’ dari Criteo dan dipublikasikan oleh Ovum, menemukan bahwa teknologi, model bisnis baru, dan perubahan perilaku konsumen menjadi pendorong utama dalam dunia ritel.

Perkembangan belanja  online saat  ini  sebagian besar didorong  karena harga  yang  terjangkau, kenyamanan berbelanja, dan produk yang dapat dikirim dengan cepat. Pada 2026, keinginan mendasar ini akan tetap bertahan, namun ekspektasi terkait pengalaman berbelanja akan jauh berbeda.industri e-commerce di Indonesia jualan online bisa go internasional

Contohnya, konsumen dari generasi milenial dan Generasi Z akan memiliki tuntutan yang lebih besar kepada pihak penyedia eCommerce, seperti misalnya ketersediaan produk unik yang secara fisik belum tentu ada di toko ritel. Namun, ada beberapa hal untuk bisa bertahan dan relevan sampai 10 tahun ke depan:

  • Istilah ‘Online-Pure-Play’ akan Menghilang pada 2026

Bagi banyak konsumen, pembelian pertama merupakan hal yang sangat penting dan cukup untuk dijadikan pegangan dalam membangun kepercayaan pada pembelian selanjutnya tanpa harus melihat dan merasakan setiap produk baru secara fisik. Sebagai contoh, para pengusaha ritel yang baru tentu akan mencoba perspektif ‘online pure-play.

Caranya dengan menawarkan hanya satu produk tertentu saja, sebelum akhirnya menghadirkan fitur pop-up yang dilengkapi dengan koleksi-koleksi untuk memfasilitasi penemuan dan uji coba produk. Zalora adalah salah satu contoh brand eCommerce terkemuka di Asia yang telah melakukannya.

Saat perusahaan ritel telah menjadi brand yang mapan dengan jumlah pelanggan yang signifikan, mereka perlu berkembang lebih jauh dari online-pure-play menjadi toko yang hadir secara fisik untuk meningkatkan mutu layanan konsumen. Ini berarti akan ada kemitraan dengan perusahaan lain yang bergerak di bisnis yang relevan yang kini banyak bermunculan,  seperti misalnya model ‘click and collect’.

Saat ini, Inggris adalah pasar terdepan dalam model bisnis click-and-collect, seperti direpresentasikan oleh ASOS dan Boots, serta eBay dan Argos. Contoh lainnya adalah MatahariMall.com di Indonesia, yang mengombinasikan toko online dan toko fisik dalam menerapkan model ‘click and collect’.

Pada 2026, pengusaha ritel fisik akan terus mengurangi jumlah toko fisik yang mereka miliki dan menggantikannya dengan toko online. Sebaliknya, pengusaha ritel online akan berinvestasi lebih banyak untuk membangun keberadaan mereka secara fisik. Dengan begitu, model bisnis pure-play akan hilang sama sekali.

  • Menjadi Mobile-First Adalah Kunci Utama Untuk Menciptakan Pengalaman Berbelanja di Masa Depan

Pada ranah ritel dan perdagangan, perangkat mobile akan segera menjadi media yang dominan untuk program-program yang ditujukan untuk mempertahankan kesetiaan konsumen maupun memberikan apresiasi kepada konsumen, karena kemampuannya dalam menyediakan interaksi dan keterlibatan konsumen yang tidak mampu dilakukan oleh media konvensional.

Iklan melalui perangkat mobile telah menjadi bagian dari dunia periklanan yang mapan dan akan menjadi media yang dominan (namun tidak eksklusif) untuk sebagian besar brand pada 2026, seperti pada pasar yang memiliki keunggulan teknologi seperti Hongkong, Singapura, dan Taiwan. Perangkat mobile juga berkembang pesat dan menjadi platform utama dalam konten digital dan komunikasi di pasar berkembang seperti India dan Indonesia.

Sehubungan dengan pertumbuhan perangkat mobile yang semakin lazim, ‘contextual location’ menjadi bagian tak terpisahkan dari perusahaan ritel. Kemampuan mengidentifikasi lokasi pengguna dan mengirimkan pesan dan informasi yang diinginkan dan relevan dengan seketika adalah keunggulan luar biasa. Selain itu, aspek analisis lokasi secara nyata (real-time) juga akan menawarkan pendekatan pemasaran yang lebih adaptif, yang membantu pengusaha-pengusaha ritel untuk secepatnya menyesuaikan strategi pelibatan konsumen sehingga kebutuhan konsumen dapat terpenuhi.

Salah satu contohnya adalah penggunaan suar Bluetooth Low Energy (BLE). Suar BLE adalah unit kecil yang memiliki sensor bawaan yang dapat menyebarkan sinyal ke perangkat lain dengan koneksi BLE. Unit ini dapat memicu pengguna BLE lain untuk merespons di perangkat mereka dan ini digunakan oleh para pelaku ritel untuk menjaga tingkat pelibatan konsumen walaupun mereka sudah meninggalkan toko fisik.

Sebagai contoh, jika seorang konsumen berdiri di sebuah toko melihat Smart- TV selama 15 menit namun tidak jadi membelinya, maka sinyal teknologi pada lokasi tersebut akan memberikan saran kepada perangkat konsumen walaupun tidak ada tujuan membeli. Lalu pengusaha ritel nantinya akan bisa mengirimkan rekomendasi produk atau promosi terkait kepada konsumen.

Pada zaman sekarang, iklan di perangkat mobile umumnya muncul di browser mobile karena hal tersebut lebih mudah dan lebih terukur. Dengan konsumen yang kian terlibat dalam konten dan layanan digital di mana pun dan kapan pun melalui aplikasi yang ada di perangkat mobile mereka, pengusaha ritel harus memahami iklan dan pesan berbasis aplikasi dan lintas perangkat.

Pengusaha ritel yang bisa menguasai dan mengintegrasikan mobile web, aplikasi, pembelian in-app dan lokasi kontekstual ke dalam operasi bisnis dan strategi pelibatan konsumen mereka akan berada di level di mana mereka mampu mengadopsi teknologi terbaru dari perangkat tersebut berserta cara pemasangan iklannya.

Satu dekade dari sekarang, gratifikasi instan akan menjadi sesuatu yang lebih canggih daripada sekadar pemenuhan kebutuhan seketika. Hal ini akan mengubah ekspektasi berbelanja menjadi lebih leluasa dari segala macam perangkat yang mana ketepatan, kenyamanan, dan personalisasi adalah yang terpenting. Konsumen akan berharap produk yang diiklankan secara online sesuai seratus persen dengan yang dijanjikan – dan menerima produk sesuai dengan yang mereka lihat . Kondisi ini memaksa para pengusaha ritel untuk terus mengubah cara mereka berkerja dan menarik perhatian konsumennya. Bagi mereka yang gagal untuk berubah akan jauh tertinggal di belakang.