ArenaLTE.com – Penghentian layanan komunikasi operator berbasis CDMA, Esia, turut menjadi perhatian banyak industri, termasuk dari Pemerintah langsung. Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Indonesia, mengutarakan bahwa tutupnya layanan Esia untuk komunikasi telah menjadi konsekuensi bisnis di industri.

“Bagi saya disatu pihak jadi prihatin, karena jika tetap diberi izin (membuka layanan) maka jadi banyak alternatif bagi masyarakat dan yang untung masyarakat. Tapi, ini sebagai konsekuensi dari persaingan jadi ya apa boleh buat, jadi namanya bisnis ya seperti itu,” jelas Rudiantara, di sela acara diskusi resmi pembangunan pita lebar Indonesia, di Jakarta, Kemarin.

Lelaki yang akrab dipanggil Chief RA ini juga memberi contoh perihal tersebut dalam dunia industri media, saat kemajuan teknologi semakin tinggi maka berakibat juga pada kemajuan bisnis.”Contohnya seperti media cetak Sinar Harapan yang sekarang tutup, itu bisa jadi contoh dari konsekuensi bisnis yang ada,” tambahnya.

Ditemui di tempat yang sama, Denny Setiawan, Kasubdit Alokasi Spektrum Dinas Tetap dan Bergerak Darat Kominfo, membenarkan perihal penutupan layanan dari operator Esia anak perusahaan B-Tel. Dirinya menjelaskan bahwa spektrum yang telah disewa oleh Esia, kini telah dialihkan oleh operator CDMA lainnya, yakni Smartfren.

“Setau saya spektrum Esia sudah dimanfaatkan bersama Smartfren, ada laporan yang masuk atas penutupan layanan ini. Jadi sekarang Network yang dimiliki oleh Esia dimanfaatkan Smartfren, dan operator tersebut beralih menjadi pelayanan jasa,” jelas Denny Setiawan.

Baca artikel lengkap : Esia resmi tutup perlahan layanan komunikasinya

Namun sayangnya, Denny tidak menjelaskan lebih lanjut perihal ketentuan dan kewajiban yang harus dilakukan pihak Esia, jelang penutupan layanan komunikasi yang dilakukannya. Dirinya juga tidak menginformasikan lebih lanjut perihal kerja sama dan pengalokasian spektrum terhadap Smartfren.

Seperti diketahui sebelumnya, informasi penutupan layanan resmi Esia baru dikonfirmasi perusahaan kepada pelanggan hanya melalui SMS dan pengumuman langsung di gerai. Informasi penutupan tersebut juga tidak disiarkan secara terbuka oleh perusahaan, sehingga publik belum banyak mengetahui apakah layanan tersebut tutup sepenuhnya atau hanya untuk beberapa wilayah.