ArenaLTE.com – Rencana Apple untuk membangun fasilitas riset dan pengembangan teknologi (R&D) di Indonesia disambut baik oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika. Namun Menkominfo Rudiantara mengungkapkan bahwa pembangunan kantor R&D Apple di Indonesia tersebut harus diungkapkan lebih detail, baik besaran maupun aktivitas yang akan dilakukan perusahaan.

Pria yang akrab dipanggil Chef Ra tersebut mengatakan pembangunan kantor R&D Apple di Indonesia memang sebagai komitmen perusahaan atas peraturan penetapan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Namun, aktivitas dan lain halnya harus bisa lebih jelas terungkap, dengan mengikuti rute yang telah ditentukan.
Baca juga: Menguak Latar Belakang Rencana Apple Investasi Timah di Indonesia

“Saya sudah ketemu Apple dua kali dan sudah bicara juga dengan menteri perindustrian, bahwa Apple akan membangun R&D activities yang akan menjadi bagian dari komitmen mereka untuk memenuhi TKDN. Hanya kita bicara perihal detailnya, besarannya berapa, dan aktivitasnya apa,” jelas Rudiantara di sela penandatanganan MOU Mastel dan US American-Council, di Jakarta, Jumat (13/11/2015).

Lelaki yang akrab disapa Chief RA ini, menjelaskan bahwa memang pada dasarnya penerapan aturan TKDN untuk brand global ada banyak jalan. Penentuan nilai tersebut tidak hanya berdasarkan pada penggunaan hardware maupun software saja, ada rute lain yang bisa diambil oleh perusahaan untuk bisa mengikuti aturan yang ditetapkan di Indonesia.

“Karena berdasarkan prinsip TKDN ini bagi global brand, mereka bisa mengambil rute kepada pengembangan, manufaktur software atau hardware. Saya selalu katakan, dalam aturan TKDN ini kita tidak hanya fokus pada perangkat keras. Karena mereka pasti akan mencari biaya terendah dan tidak peduli apakah manukfaktur itu dibuat di Indonesia atau negara lainnya,” jelas Chief RA.

Rudiantara melanjutkan, kalau hanya berfokus pada hardware saja tentunya produsen global tersebut akan mencari yang murah. Sehingga jika hal tersebut telah menjadi fokus dalam TKDN baru nanti, kemungkinan Indonesia bisa rugi.

“Dimana pun mereka ujungnya ingin paling murah. Kalau lama-lama paling murah dimana yang ditekan adalah kita dan kita akan jadi blue color saja. Saya ingin, waktu ke depan dimana 5, 10, maupun 15 tahun kita tidak hanya jadi blue color saja. Tetapi dalam konteks ini, kita bisa memanfaatkan teknologi untuk bisa menjadi white color,” pungkasnya.