ArenaLTE.com – Salah mengambil kebijakan penggunaan pita frekuensi 4G LTE dari Pemerintah sebelumnya, memang bisa menjadi kendala atas lambannya penerapan teknologi 4G LTE di Indonesia. Kebijakan awal penggunaan frekuensi 900MHz, kini harus diganti dengan penggunaan di pita frekuensi 1.800MHz yang lebih lebar namun dibutuhkan waktu pembangunan yang lebih lama.

“Adopsi teknologi 4G di Indonesia lamban, karena di era Menteri sebelumnya salah mengambil kebijakan dimana frekuensi 900MHZ dipakai untuk LTE. Kalau dari awal kebijakan itu ada di 1.800MHz, mungkin akan lebih cepat. Meski memang diakui ada juga beberapa ‘pemain’ yang menahan agar LTE tidak dibuka di 1.800MHz, karena semua operator akan masuk,” jelas Heru Sutadi, Pengamat Telekomunikasi, kepada ArenaLTE, Selasa (6/10/2015).

Dirinya menuturkan bahwa penataan kembali frekuensi 1.800MHz adalah untuk merapihkan spektrum, alokasi frekuensi yg tadinya tidak beruratan atau bersebelahan diharapkan menjadi contingous atau berdampingan. Sehingga hal ini memungkinkan penggunaan bandwidth akan menjadi lebih efisien.

“Keuntungannya itu lebih efisien,  namun kerugiannya adalah butuh waktu yang lebih lama dan biaya untuk membuat alokasi frekuensi itu ditata agar satu operator alokasi frekuensinya berdampingan,” tambah Heru menegaskan.

Menurutnya, melihat dari penerpan teknologi jaringan 3G dahulu di Indonesia, dibutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun, untuk adopsi sebuah teknologi baru untuk menjadi matang.”Jadi waktu 3G kita adopsi pada 2006, namun baru bisa diadopsi matang di 2008,” jelas Heru yang dahulu pernah menduduki jabatan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Meski secara teoritis penerapan teknologi 2G ke teknologi 3G lebih mudah, namun hal itu tidak bisa serta merta diakui bisa dirasakan diadopsi teknologi terbaru lagi.
Baca juga : Koneksi 4G LTE lebih maksimal di jaringan 1.800MHz

“Secara teoritis mudah, tetapi tetap saja harus ganti perangkat BTS, antar BTS kan sudah tidak mencukupi jika pakai microwave jadi harus ganti dengan serat optik. Penggantian BTS kan tidak serta merta harus semua kota tapi yang memang kebutuhannya dahulu, dan kecepatan data yang sekarang ada sudah berat,” lanjutnya Heru menjelaskan.

Dirinya meyakinkan, adopsi teknologi 4G LTE di spektrum 1.800MHz, memang telah menjadi opsi paling prioritas di Indoneis, bahkan termasuk prioritas di dunia. “Produk BTS nya banyak begitu juga handset-nya,” tambah Heru.

Untuk diketahui, saat ini Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan para penyelenggara telekomunikasi (operator), sedang mengebut pengerjaan 4G LTE yang kabarnya akan serentak digelar pada November 2015 di Indonesia.

Comments

  1. […] Gong peluncuran serentak operator telekomunikasi ini sendiri ‎dilakukan bertepatan dengan peresmian lisensi 4G LTE 1800 MHz. Empat operator telekomunikasi di Indonesia terhitung mulai hari ini (6/7) resmi mengantongi izin operasi layanan 4G LTE di 1800 MHz. Penyerahan sertifikat kelaikan operasi (SKLO) layanan 4G LTE di frekuensi 1800 MHz dilaksanakan secara simbolis di kota Makassar oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Kominfo Kalamullah Ramli kepada  lima operator telekomunikasi di Indonesia yaitu Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Hutchison 3, dan Smartfren. Diresmikan secara langsung oleh Menkominfo Rudiantara melalui video conference dari Jakarta. Baca: Ini Penyebab Adopsi Teknologi 4G LTE di Indonesia Lamban […]

  2. […] “Ledakan layanan broadband di seluruh benua, dari fixed broadband, mobile broadband yang terkonvergensi layanan adalah untuk menjembatani kesenjangan teknis, sosial, dan ekonomi di seluruh Afrika sehingga akses dan percepatan pertumbuhan di semua lini mendapat proporsi tepat,” jelas Thomas Allen, COO dari Smile, salah satu operator telekomunikasi Afrika. Baca: Ini Penyebab Adopsi Teknologi 4G LTE di Indonesia Lamban […]