ArenaLTE.com – Rencana penurunan biaya interkoneksi yang akan ditetapkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Mekominfo), Rudiantara, kian menuai kontroversi banyak pihak. Tak terkecuali oleh operator Tanah Air sendiri, terlebih ada yang meyayangkan tiada kepastian yang jelas tentang penetapannya. Hal demikian menurut, Heru Sutadi, mantan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) adalah karena kurang pahamnya tentang manfaat penerapan biaya interkoneksi.

“Ya ini karena banyak yang tidak mengerti apa itu manfaat dan bagaimana interkoneksi. Sebab, biaya interkoneksi itu adalah jantung kompetisi dan diamanatkan dalam UU telekomunikasi No.36/1999,” jelas Heru Sutadi, yang saat ini menjabat sebagai Executive Director Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute.

Ia menuturkan bahwa sebenarnya pengaturan biaya interkoneksi sudah tertuang dalam aturan di Permenkominfo No.8/ 2006. “Interkoneksi merupakan komponen terbesar dalam penentuan tarif ritel, Hal itu karena formula terif retail adalah = biaya interkoneksi (originasi, transit dan terminasi) + retails service activity cost + margin,” tukasnya.

Heru sapaan akrabnya juga menjelaskan bahwa jika tarif turun maka tarif ritel ke pengguna juga akan turun, kecuali operator tersebut meningkatkan margin secara eksesif. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya, jika interkoneksi naik maka logikanya tarif juga naik. “kecuali operator menurunkan margin-nya,” tambah Heru.

Baca lengkap :
Menkominfo Agar Tak Gegabah Dalam Penetapan Biaya Interkoneksi
Dianggap Pro Asing, Kebijakan Biaya Interkoneksi Minta Dikaji Ulang

Dirinya menyebutkan tentang salah kaprah dari biaya interkoneksi, menurutnya hal tersebut karena operator masukkan sebagai pendapatan.”Hal ini karena biaya interkoneksi merupakan kewajiban bilamana ada sambungan offnet atau ke operator lain, jika tidak ya tidak akan ada kewajiban. Sementara untuk onnet, interkoneksinya diatur sendiri oleh operator bersangkutan, karena antar terminal dan originasi adalah dalam satu operator yang sama,” pungkas Heru

Penurunan biaya interkoneksi pun dianggapnya bukanlah sebuah kerugian yang akan didapatkan operator, karena hal itu tidak ada bukti dan belum ada catatan kuat sebagai dampak. Heru menjelaskan bahwa pendapatan utama dari operator adalah menjual produk layanan baik suara maupun SMS yang bersaing.

Namun, dikarenakan sekarang era konektivitas data dimana komunikasi suara dan pesan teks, seperti SMS bisa dilakukan dalam satu layanan aplikasi, tentu hal tersebut akan pula menghilang. “Apakah tarif yang harusnya lebih murah harus terus dijual dengan harga tinggi? Kan tidak,” tegasnya.

Heru mengungkapkan bahwa pendapatan operator bukan berkurang dari penerapan penurunan ibaya interkoneksi, tapi memang harga jual voice dan sms sekarang kini harus turun atau lebih murah. “Dari pengalaman yang sudah-sudah, meski interkoneksi turun, pendapatan telkomsel tidak pernah berkurang. Bahkan, dari laporan keuangan 2015, dari semua operator, hanya Telkomsel yang masih untung triliunan, sementara operator lain berdarah-darah merugi,” ujarnya.