ArenaLTE.com – Vendor smartphone dan pengembang  aplikasi rasanya mulai merasakan efek ‘knock on’ pasca seranngan teroris di Paris, Perancis pada 13 November 2015 lalu. Pasalnya, pihak otoritas keamanan Amerika Serikat mengungkapkan keluhan akan sistem enkripsi mobile modern yang di bangun pada perangkat smartphone, dan itu membuat penegak hukum berada dalam situasi gelap untuk menelusuri komunikasi teroris.

Dikutip dari lithreading, Minggu (16/11/2015), Komisaris Polisi New York, William Bratton menjadi yang paling vocal menyikapi masalah ini. Dalam acara talk show Sunday Politics, ia mengungkapkan rasa frustasinya tentang penegakan hukum, yakni tiadanya celah untuk membuka komunikasi yang terenskripsi, seperti pada perangkat Apple iPhone atau aplikasi messaging seperti Facebook Messaging dan WhatsApp. “Aplikasi dan perangkat tersebut memungkinkan teroris untuk beroperasi tanpa rasa khawatir diendus oleh dinas intelijen,” ujar Bratton saat berbicara di saluran televisi CBS.

Model enkripsi end to end artinya komunikasi teracak pada satu perangkat, dan kemudian ditransmisikan secara acak di ujung perangkat lain. Namun sayangnya Bratton juga belum menyebutkan pasti perangkat dan aplikasi apa yang ikut digunakan untuk koordinasi dalam serangan di Paris.

Sebelum serangan Paris terjadi, CEO Apple Tim Cook telah mengecam Inggris yang berencana untuk membuka komunikasi terenkripsi. “Jika Anda menghentikan atau melemahkan enkripsi, maka juga akan banyak orang-orang yang akan dirugikan,” kata CEO Apple dalam sebuah pernyataan di The Daily Telegraph.

Lepas dari itu, klaim Daesh sebagai pentolan ISIS mengumbar bahwa telah menggunakan web illegal untuk mengkoordinasikan serangan Paris. Kelompok teror ini juga diduga telah mengembangkan perangkat lunak enkripsi sendiri.