Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Life Cycle Assessment menyerukan perombakan cara kontrak dan produksi perangkat mobile saat ini, untuk menghentikan efek berbahaya yang dapat ditimbulkan pada lingkungan.

Para peneliti dari University of Surrey menganalisis studi pada umur perangkat mobile, dari pembuatan, penggunaan hingga pembuangan untuk melihat apa dampak tiap tahap terhadap lingkungan. Mereka menyimpulkan bahwa model bisnis mobile saat ini, didorong oleh upgrade perangkat yang sangat sering, merugikan produsen juga lingkungan.

Studi ini menyatakan seringnya konsumen berganti perangkat untuk upgrade dan skema daur ulang pasif membuat bahan tambang integral dari komponen-komponen penting ponsel hilang, menyebabkan kerusakan lingkungan oleh limbah tambahan ke tempat pembuangan akhir serta dari dampak ekstraksi sumber daya alam yang terbatas.

Ponsel diproduksi dengan menggunakan logam mulia seperti emas, tembaga dan perak. Logam-logam ini selain harganya selangit juga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan saat penambangannya. Sebagai alternatif, para peneliti mengusulkan sistem layanan produk berbasis komputasi awan, di mana pengolahan dan penyimpanan memori perangkat mobile dipindahkan ke server, melalui internet. Tanpa perlu proses yang kompleks, perangkat mobile dapat menjadi kurang kompleks, bertahan lebih lama dan membutuhkan sumber daya alam lebih sedikit.

Ditambah dengan model bisnis tukar tambah ponsel setelah masa kontrak dengan provider habis atau saat konsumen ingin upgrade perangkat baru. Sehingga tidak ada lagi orang yang membuang-buang ponsel mereka ke tempat sampah.