ArenaLTE.com – Merebaknya layanan video streaming show di Tanah Air mendapat respon beragam. Ada yang menyambut positif sekaligus negatif. Beberapa platform bahkan terlanjur mendapat stempel negatif. Seperti dialami oleh layanan live video streaming Nonolive.

Bahkan kesan ini kerap kali didapatkan ketika mencari seorang talent untuk dijadikan host atau penyiar. Hal itu diungkapkan oleh Andryan Gouw, General Manager Nonolive Indonesia. Ia mengakui cap negatif kerap dirasakannya dalam pencarian host official yang menerima sindiran dari banyak kalangan. Pun demikian, stigma ini tidak menghambatnya untuk mencari penyiar yang bisa ‘memikat’.

Andryan bercerita, saat pertama kali mengenalkan layanan ini di Indonesia, banyak yang mengira tidak berbeda jauh dengan Camfrog. Layanan ini telah dikenal dengan reputasinya yang menghadirkan konten dewasa. Video streaming Nonolive pun dianggap seperti itu karena dari host yang ada terlihat menarik dan cantik-cantik.

“Makanya ketika pertama dikenalkan banyak yang komen nakal, orang-orang yang seperti ini yang kami blok. Karena selain dapat mengundang yang lain berbuat demikian, juga bisa mengganggu host yang sedang siaran menjadi tidak konsentrasi,” ujar Andryan, saat jumpa pers di Jakarta (25/8/2016).

nonolive

BACA JUGA:
* 6 Hal Positif yang Bisa Kamu Dapatkan di Layanan Live Video Streaming
* Hati-hati, Ini Dampak Negatif Layanan Live Video Streaming

Saat mencari seorang talenta untuk menjadi penyiar di video streaming Nonolive, pihaknya memang menggandeng pihak agency talent. Meskipun tak sedikit yang didapat juga dari pencarian langsung. Karea mendapat cap negatif, Andryan sering kali harus  melakukan edukasi atau pengenalan tentang layanan yang diberikan video streaming Nonolive.

”Tantangannya adalah edukasi, soalnya selain kesan negatif banyak yang mengira ini adalah layanan yang seperti radio padahal berbeda jauh. Karena Nonolive sendiri memiliki konsep dua arah yang tidak baku satu arah seperti radio,” jelasnya.

Andryan mengungkapkan bahwa saat ini di Indonesia telah mengantongi sebanyak 1,5 juta pengguna. Pihaknya optimis untuk meraih lebih banyak pengguna. Karena melihat aplikasi berbasis apps mobile ini akan semakin bertambah karena jumlah pengguna jaringan 4G ikut merangkak naik. Dari angka tersebut, sebagian besar pengguna yang rutin menonton adalah pria. “Ini karena kaum pria itu easy adopter yang selalu ingin mencoba hal baru, terutama di dunia teknologi,” kata Andryan.