Arena LTE.com – Rencana penurunan tarif interkoneksi cukup menyedot perhatian berbagai kalangan. Namun, lepas dari berbagai polemik yang menyertainya, penurunan biaya ini sedikit banyak akan berpengaruh pada kinerja operator papan atas Tanah Air. Tak berlebihan, jika beberapa kalangan menakar untung rugi penurunan biaya tarif telepon terhadap operator papan atas.

Dalam riset saham yang ditulis Leonardo Henry Gavaza, CFA, analis saham dari PT Bahana Securities, dia memastikan bahwa beleid baru tersebut akan menguntungkan dua emiten telekomunikasi yaitu Indosat dan XL. “Dengan dua aturan baru tersebut Indosat dan XL bisa monetisasi jaringan serta menghemat tarif interkoneksi yang selama ini mereka keluarkan,” ujar Henry.

Dua emiten telekomunikasi, PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) akan jadi perusahaan telekomunikasi paling diuntungkan jika tarif baru interkoneksi diberlakukan per 1 September 2016. Sementara itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) akan jadi emiten BUMN telekomunikasi yang paling dirugikan.

Dari laporan keuangan 2015 tercatat Indosat membukukan pendapatan interkoneksi sebesar Rp 1,9 triliun. Namun beban interkoneksi yang dikeluarkan Indosat mencapai Rp 2,3 triliun atau tekor lebih dari Rp 400 miliar. Sedangkan XL mencatat pendapatan interkoneksi Rp 2,391 triliun. Sementara bebannya Rp 2,320 triliun atau untung Rp 70 miliar.

Pada pergerakan saham Selasa, saham ISAT ditutup tetap di level 6.600 per saham. Jika disetahunkan, maka saham ISAT sudah naik 57,14 persen, berdasarkan data Bloomberg. Sementara saham EXCL ditutup naik 1,68 persen di level 3.640 pada perdagangan Selasa. Jika disetahunkan, saham EXCL sudah naik 41,93 persen.

Bagaimana dengan Telkom? Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi PKS H Refrizal menilai potensi kerugian Telkom jika tarif interkoneksi baru diberlakukan di September 2016 akan mencapai Rp 50 triliun. Dia mengaku sudah melapor ke Menteri Keuangan Sri Mulyani adanya estimasi penurunan pendapatan dari BUMN telekomunikasi jika kebijakan ini dipaksakan.

“Jika pendapatan Telkom turun maka pendapatan negara dari pajak dan deviden Telkom juga turun. Dan tentu ini akan mengganggu APBN 2017 mendatang,” papar Refrizal. Sebagai infromasi, pada perdagangan Selasa, saham TLKM ditutup naik 1,22 persen ke level 4.140. Saham TLKM jika disetahunkan naik 47,95 persen dengan yield dividen 2,29 persen.

Seperti diketahui, dalam Surat Edaran yang dirilis Kementerian Kominfo, dengan pola perhitungan baru itu, tarif telepon untuk panggilan lokal seluler menjadi turun, dari sekitar Rp 250, maka per 1 September 2016 nanti, menjadi Rp 204 per menit.

Sebelumnya, Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Noor Iza memastikan pemerintah bersikukuh untuk menerapkan biaya interkoneksi yang baru di awal September 2016. Noor Iza memastikan keberatan dan pertimbangan operator tak akan menjadi halangan dan pertimbangan untuk diberlakukannya biaya interkoneksi yang baru.

“Karena interkoneksi adalah domainnya pemerintah, maka hak pemerintahlah untuk menetapkan biaya interkoneksi sebesar Rp 204, atau turun 26 persen, pada awal September nanti,” tegas dia.

Sementara pakar ICT Ibrahim Kholilul Rohman menilai, penurunan tarif interkoneksi justru bisa menguntungkan operator telekomunikasi dalam jangka panjang. Hal itu dicontohkan pernah terjadi di negara berkembang seperti Afrika Selatan, Namibia, dan negara maju seperti Eropa.

“Oleh karena itu, operator tak perlu takut kehilangan revenue jangka pendek. Berdasarkan penghitungan, penurunan tarif telepon satu persen, bisa jadi ada kenaikan net usage sampai empat puluh persen. Itu artinya, operator malah untung,” pungkas Ibrahim.