ArenaLTE.com –Meledaknya kasus Indosat vs Telkomsel menyita perhatian kalangan industri telekomunikasi. Salah satu pemicu perang terbuka antara kedua operator raksasa di Tanah Air ini adalah belum kelarnya pembahasan mengenai biaya interkoneksi.

Telkomsel meminta penurunan dengan mempertimbangkan komitmen pembangunan jaringan dan perhitungan berbasis biaya. Sementara kubu Indosat Ooredoo menyakini biaya interkoneksi bisa turun lebih di atas 50% karena belanja jaringan makin murah. Karena polemik yang masih belum menemukan titik temu ini, para praktisi pun angkat bicara. Salah satunya adalah Garuda Sugardo yang dikenal sebagai salah satu tokoh perintis industri seluler di Indonesia.

Berkaitan dengan isu interkoneksi tersebut, Garuda yang pernah menjadi petinggi di Indosat sekaligus Telkomsel berpendapat pemerintah harus tegas dalam penetapan penurunan biaya interkoneksi dengan mempertimbangkan komitmen pembangunan jaringan dari setiap operator.

“Sebagai veteran praktisi seluler, saya justru menghimbau agar Pemerintah menugaskan operator memenuhi janjinya membangun jaringan sesuai lisensinya. Karena lisensi adalah kewajiban bukan hak,” tegas Garuda Sugardo yang kini menjadi anggota Dewan TIK Nasional, di Jakarta (28/6).

“Semua operator harus membangun jaringan secara nasional terlebih dulu, baru setelah itu menuntut interkoneksi murah secara resiprokal. Begitu baru adil dan bijaksana,” tambahnya. Garuda pun menjelaskan, bahwa makna interkoneksi adalah ‘siapa berbuat apa dan mendapatkan apa’. Telkomsel dianggapnya telah membangun jaringan di seluruh pelosok Nusantara, sehingga pantas menikmati hasilnya secara sejahtera. “Siapa yang membangun jaringan diirit-irit, pantaslah dapatnya sedikit,” tukasnya.

Garuda Sugardo
Garuda Sugardo

Melalui akun Facebook-nya, Garuda mengungkapkan rahasia kekuatan Telkomsel sehingga bisa menguasai pangsa pasar lumayan besar karena konsisten mengembangkan jaringan. Sebagai penguasa pasar, operator ini sejak dulu menerapkan strategi universal “RPA”. Retention berarti mempertahankan pelanggannya dengan program customer loyality. Penetrasi artinya ngrangsek pasar dengan penggelaran BTS ke segala penjuru berpopulasi. Dan Akuisisi, merebut pasar dengan cara membujuk pelanggan dari pesaing untuk berpaling.

“Indosat punya dua kesempatan mengimbangi  Telkomsel dulu, tapi disia-siakan. Pertama saat produk IM3 diluncurkan pada 2001. Kedua saat Satelindo merger dengan Indosat. Jumlah BTS dan pelanggan gabungan IM3 Indosat ditambah Matrix dan Mentari (Satelindo) sebenarnya hampir sama dengan Telkomsel. Bila saja manajemen Indosat saat itu faham doktrin seluler dan menggeber bisnisnya, pastilah kondisinya gak kedodoran seperti sekarang. Sayang sebagian besar saham Indosat sekitar 2014 dijual ke investor asing, maka jadilah pusing. Nasi telah menjadi bubur,” sindir Garuda.

Sementara itu, M Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB mengingatkan jika penurunan biaya interkoneksi terlalu besar, akan terjadi nanti fenomena operator ogah membangun jaringan dan memilih menumpang di milik pemain lain. “Sementara cost recovery operator dominan tidak akan mencapai titik impas. Soalnya mereka menderita kerugian karena dibayar di bawah biaya produksi. Ini jangka panjangnya yang dirugikan pelanggan juga,” katanya.
BACA: Perang Indosat vs Telkomsel Dapat Perhatian Serius Kominfo