ArenaLTE.com – Pada tahun lalu TP-Link pernah mengenalkan dua varian smartphone terbarunya yang membawa nama Neffos dalam dua seri C5 dan C5L. Namun sayangnya, karena alasan terkendala kebijakan penerapan TKDN (tingkat kandungan dalam negeri) yang ditetapkan Pemerintah, maka perusahaan akhirnya melakukan pending dan diprediksi baru akan diterbitkan pada 2017 mendatang.

Ditemui di perhelatan pameran tahunan perangkat komputer BRIIndocomtech 2016, di Jakarta, Daniel Thian, Product Development & Marketing Head TP-Link, menjelaskan bahwa terkait produk yang pernah dikenalkan perusahaan beberapa waktu lalu, memang batal diluncurkan untuk pasar Indonesia.

“Seri yang akan diluncurkan itu sebelumnya memang ada C5, C5L tapi di pending tidak jadi diluncurkan. Sedang dalam penggodokan lagi mengenai kebijakan (TKDN) yang akan dihitung. Kalau varian produk, dihitung yang dulu memang ada dua, tapi kedepannya akan ada lebih banyak lagi,” jelas Daniel Thian.

Baca :
Kominfo Janji Permudah Sertifikasi TKDN 30% Smartphone 4G LTE
Mendag Pangkas Tiga Skema Regulasi TKDN 4G di Indonesia

Lanjutnya, memang meski di Indonesia dua produk ini batal diluncurkan dan dibawa ke pasar lokal, namun produk ini sudah resmi dihadirkan di beberapa negara lainnya, seperti Malaysia, Siangpura, Thailand, dan Rusia serta beberapa negara lainnya. Menurutnya, produk yang dikenalkan tersebut adalah smartphone kategori middle.

tp-link

“Segmen produk yang akan kita sasar nanti adalah produk untuk kelas middle, estimasi akan masuk nanti 2017 nanti. Hanya belum bisa diputuskan kapan tepatnya, hal itu masih menyangkut TKDN,” tambah Daniel. Dirinya juga mengungkapkan bukan mengalami deadlog, tetapi lebih kearah  bagaimana mempersiapkan bisnis berjalan panjang.

“Bisnis ini tidak sekali saja karena bisnis ini bukan hanya berjalan setahun, namun bisnis ini diharapkan bisa berjalan seterusnya. Karena peraturan TKDN ini juga bukan berjalan setahun. Kalau dihitung berapa persennya nantinya TKDN yang diikuti, saya tidak berani makesure berapa nilainya. Sifatnya lebih kearah investment, jadi apabila Investment sudah ditanamkan maka secara tidak langsung kita sudah mengikuti TKDN yang berjalan. Tapi, kita sampai saat ini sedang menggodok peraturan TKDN mana yang bisa diikuti, apa dari sisi aplikasi, manufakturing, atau sisi R&D nanti,” tegas Daniel.