ArenaLTE.com – Menurut penelitian terbaru dari lembaga riset pasar Counterpoint yang dilaporkan dalam Market Research untuk Q2 2016 (Juli-September), pasar ponsel secara keseluruhan (smartphone + ponsel fitur) di Indonesia tumbuh 5%. Sementara itu pertumbuhan smartphone sebesar 8% Q / Q setelah pulih dari penurunan curam sebesar 16% di Q1 2016.

Mengomentari hasil riset dari lembaga yang berbasis di Hong Kong tersebut, Jim Lee, analis senior Counterpoint Analis Senior, mengatakan bahwa pasar smartphone telah kembali pulih di satu digit. “Namun masih ada ketidakjelasan tentang aturan TKDN yang berdampak pada melambatnya pertumbuhan smartphone di pasar Indonesia,” ujarnya.

Peraturan TKDN yang tidak konsisten karena pemerintah terus bimbang mengenai aturan “Make in Indonesia”, membuat beberapa produsen memilih untuk wait and see. Jika sebelumnya pemerintah merancang lima skema, sekarang disederhanakan menjadi dua skema, yaitu investasi 100 persen software dan investasi 100 persen hardware. Masing-masing skema tersebut memiliki syarat turunan yang berbeda dan masih dalam proses pembahasan lebih lengkap.

Dalam skema baru ini, vendor yang memilih 100 persen investasi software diizinkan untuk mengimpor ponsel dalam bentuk complete build up (CBU) seperti mobil dari luar negeri. Namun ponsel yang diperbolehkan impor itu hanya yang memiliki harga mahal.

perkembangan smartphone 4GPeraturan seperti ini tentu akan diterima oleh pelaku industri ponsel premium seperti Apple yang memiliki hampir 1% pangsa pasar. Namun, ini juga akan memicu perdebatan yang bahkan lebih kompleks untuk menghitung penambahan nilai riil dari merek untuk produksi secara keseluruhan di negara ini.

Sementara itu Tarun Pathak, analis senior CounterPoint dalam pernyataan resminya yang diterima ArenaLTE.com mengatakan meskipun seacara keseluruhan penetrasi ponsel cukup tinggi, penetrasi smartphone di Indonesia masih di bawah 50%. Selain itu, sebagian dari smartphone ini adalah 2G atau 3G smartphone. Meski demikan, ia melihat ada potensi besar dari hadirnya layanan 4G LTE.

“Ada peluang yang signifikan di sini untuk pertumbuhan LTE dalam hal perangkat maupun jumlah pelanggan yang diperkirakan tumbuh lima kali pada tahun 2016 dibandingkan dengan tahun 2015. Sebagai contoh, penjualan smartphone LTE tumbuh besar 900% per tahun di Q2 2016 yang sebagian besar didorong oleh Samsung, Oppo dan Asus,” ujarnya.

Pathak menambahkan, dorongan pemerintah untuk 30% konten lokal untuk smartphone LTE telah memicu produksi lokal smartphone 4G LTE. Karena produsen terus bergerak untuk meningkatkan jumlah model LTE dalam portofolio mereka. “Hampir 88% dari smartphone LTE kini diproduksi secara lokal di Indonesia,” ungkapnya.