ArenaLTE.com – Kini dunia menjadi semakin pintar sejak meningkatnya adopsi penggunaan smartphone dan internet of things (IoT). Kini semua sistem bisa saling terkoneksi antara satu dengan lainnya termasuk sistem finansial digital seperti Ecommerce dan transportasi. Pemerintah memiliki target besar untuk meningkatkan pendapatan dari Ekonomi digital Indonesia, bahkan hingga tahun 2020 nanti Indonesia diharapkan mampu menjadi salah satu negara dengan ekonomi digital terbesar di wilayah Asia Pasifik.

Pertumbuhan adopsi internet dan smartphone ini jelas akan mendorong pertumbuhan ekonomi Digital Indonesia. Namun disisi lain melahirkan tantangan baru bagi para praktisi keamanan teknogi digital seperti dua mata pisau yang sama tajam. Di satu sisi, hal ini memberikan dorongan yang positif terhadap perkembangan dunia digital karena memungkinkan lebih banyak orang memanfaatkan teknologi digital.

Disisi lain tingginya tingkat adopsi berbagai perangkat pintar justru meningkatkan risiko keamanan bagi organisasi (pemerintah dan bisnis), penyedia layanan, hingga masyarakat umum (pengguna) yang melakukan aktivitas digital tersebut.

Dari kacamata penjahat siber, dunia yang semakin ‘pintar’ ini memberikan mereka kesempatan yang lebih besar untuk melancarkan aksinya. Pasalnya, menjamurnya berbagai perangkat pintar & internet segalanya / IOT (Internet of Things), serta sistem yang semakin ter-interkoneksi antar satu hal dengan lainnya, membuat mereka memiliki lebih banyak kanal yang dapat dimanfaatkan untuk mengeksploitasi dan menjebak korban mereka.

Fetra Syahbana adalah Country Manager F5 di Indonesia menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus, berbagai perangkat pintar ini dimanfaatkan untuk melancarkan serangan terhadap suatu organisasi. Hal ini sempat terjadi di penghujung tahun 2015. Pada waktu itu, 13 core internet server dunia menjadi target serangan DDoS tidak lagi berasal satu sumber serangan.

Selama serangan yang terjadi dalam kurun waktu dua hari tersebut, serangan DDoS mencapai hingga 5 juta query / permintaan data atau akses setiap detiknya – dengan total 50 miliar query selama 2 hari serangan. Jika tidak memiliki strategi keamanan yang mumpuni, jumlah ini tentunya dapat melumpuhkan server dan aktivitas di dalamnya.

Menelisik lebih dalam, salah satu alasan mengapa kedua hal tersebut terjadi karena penjahat siber menargetkan aplikasi. Mereka sadar bahwa perkembangan teknologi, dan penerapan berbagai platform (cloud, on-premise, hybrid) justru membuat sistem IT perusahaan menjadi lebih rumit sehingga menciptakan celah-celah keamanan baru.

Karena itu, keamanan aplikasi menjadi hal krusial yang perlu diperhatikan oleh organisasi pemerintah dan bisnis, hingga para penyedia layanan untuk memastikan bahwa keamanan dapat senantiasa terjaga. Mereka memerlukan sistem keamanan yang dapat memastikan bahwa aplikasi dikirimkan kepada pengguna atau berbagai perangkat secara aman, cepat, dan memiliki tingkat ketersediaan yang tinggi.