ArenaLTE.com – Untuk menghasilkan produk terbaik membutuhkan campur tangan banyak pihak. Hal itu yang kini dilakukan oleh Advan lewat smartphone Advan G1 (Gold 1) yang diklaim dikembangkan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Untuk mengembangkan perangkat tersebut, Advan menggandeng beberapa pihak untuk menemukan formulasi karakter smartphone yang dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah lembaga Riset MARS, produsen chipset MediaTek, produsen komponen Samsung dan pakar telekomunikasi sekaligus mantan bos XL Axiata, Hasnul Suhaimi.

Belum ada informasi resmi mengenai tanggal peluncuran. Namun beberapa spesifikasi sudah terkuak seperti Advan G1 yang akan memiliki dimensi body lengkung sesuai karakter genggaman tangan orang Indonesia disertai desain sisi simetris dengan tampilan layar 5 inci, ketebalan 8,6 mm dan tombol samping setinggi 6 mm untuk menyesuaikan dengan ibu jari orang Indonesia.

Advan G1 akan tampil premium dengan body menggunakan metal AL 6000 series yang memiliki ketahanan kuat dalam desain unibody. Pembuatan desain ini membutuhkan 128 kali proses untuk menghasilkan punggung metal berkualitas.

Aspek lain yang diperhatikan adalah kualitas kamera yang kemungkinan akan memakai sensor dari Samsung Lens yang dikenal berkualitas. Kamera nantinya akan memiliki fitur LUT (Look-Up Table) yang berkesesuaian dengan warna wajah orang Indonesia. Juga Shake to Selfie yang cukup menggoyangkan perangkat untuk mengaktifkan fitur swafoto.

Ilustrasi smartphone Advan
Ilustrasi smartphone Advan

Modul Samsung

Senior Manajer Semikonduktor Samsung Indonesia, Edward Sutanto, mengungkapkan perusahaannya saat ini banyak bekerja sama dengan produsen lokal di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. “Kami memang ada arahan pembicaraan kerja sama dengan Advan. Kerjasama untuk penggunaan modul belum bisa dijelaskan, namun pembicaraan untuk pemasangan piranti yang ada sedang berjalan,” jelas Edward kepada ArenaLTE.com di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa Samsung memiliki dua perusahaan yang bergerak di bidang yang sama. Jika perusahaan yang satu lebih fokus pada produksi smartphone langsung, perusahaan lainnya hanya fokus pada memproduksi modul untuk smartphone.

“Kantor kami ada di Singapura, namun sudah mensupport untuk wilayah Asia Tenggara termasuk Taiwan, Philipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Untuk Indonesia sendiri, yang kami dukung adalah panel Display, kamera, memori, sensor, dan aplication prosesor dan ini yang kami tawarkan kepada produsen lokal,” jelasnya.

Menurut Edward, Advan selama ini dikenal dengan produk menengah ke bawah, dan mungkin saat ini sedang melakukan penjajakan untuk kelas menengah atas. Samsung sendiri untuk perusahaan semi konduktor berada di level itu. Karena perusahaan hanya menyediakan modul untuk ponsel kelas menengah ke atas.

“Sekadar sharing saja, ada dua perusahaan yang saat ini menjadi pendukung modul kamera. Salah satunya adalah Samsung dan Sony. Kalau Sony fokus mendistribusikan ke Apple sedangkan Samsung kerja sama dengan banyak pihak lokal dan produknya sendiri,” tambah Edward.

Ia menuturkan bahwa perusahaan menghasilkan modul kamera dengan sensor untuk ponsel kelas menengah atas, dari piksel 8, 13, dan 16MP. Sedangkan Advan selama ini hanya menggunakan sensor 5MP, spesifikasi untuk ponsel kelas menengah bawah sehingga kemungkinan produk barunya nanti yang disebutkan akan dikenalkan dengan nama G1 menggunakan sensor besar.

Dirinya tak memungkiri ada kerja sama dengan pihak produsen lokal Indonesia, meski belum bisa disebutkan kerja sama untuk modul apa. Edward menjelaskan bahwa piranti dalam smartphone memang terlalu kompleks, dan hal tersebut bisa terindikasi dari satu modul saja seperti kamera.