ArenaLTE.com – Tiga operator Indonesia (Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata) memang telah mengumumkan bekerja sama dalam Project Loon Google di Tanah Air. Namun semua operator yang ikut dalam proyek tersebut dikenal sebagai operator berbasis GSM. Lalu, bagaimana dengan reaksi Smartfren yang notabene menggunakan teknologi CDMA dan belum bergabung dalam proyek balon internet ini?
Baca: Gulirkan Project Loon di Indonesia, Google Alphabet Gandeng Tiga Operator Seluler

Sukaca Purwokardjono, Division Head Smartphone & Data Service Smartfren, mengungkapkan bahwa kemungkinan kerja sama dengan raksasa internet Google belum bisa dikonfirmasinya dengan lebih detail. Pasalnya, perusahaan harus melihat dengan detail yang baik dari kerja sama yang akan dilakukan nantinya.

“Saya tidak bilang tidak ikut, saya perlu double check ke bagian lain. Cross check dengan bagian yang mengurusi perihal kerja sama tersebut,” jelas Sukaca saat dihubungi ArenaLTE.com via pesan WhatsApp, di Jakarta, Senin (2/11/2015).

Dia menuturkan, perihal tentang ajakan Google memang belum diketahui persis olehnya. Karena hal tersebut masih dalam lingkup yang dilakukan Departemen Pos dan Telekomunikasi (Postel). ”Mungkin hal ini bisa ditanyakan ke Postel Mas, karena gate-nya untuk case ini di sana. Karena menyangkut perihal frekuensi dan lainnya,” kilahnya.

Meski demikian, dirinya mengungkapkan bahwa jika memang nantinya ada arah dalam kerja sama Project Loon Google di Indonesia, pastinya akan perlu banyak pertimbangan, serta perhitungan yang matang baik dari pihak perusahaan maupun Pemerintah sendiri.

“Ada tiga hal mas yg perlu dipertimbangkan, untuk aspek teknis apakah comply dengan spektrum kita atau nggak. Kemudian untuk aspek regulasi apakah pemerintah siap dengan perangkat regulasinya, serta aspek bisnis apakah secara kajian bisnis ini oke,” jelas Sukoco menuturkan.

Untuk diketahui, Project Loon Google sendiri dikabarkan akan berjalan pada 2016 mendatang, dan diungkapkan akan melakukan ujicoba bersama tiga operator Indonesia. Dalam perihal uji jaringan yang dilakukan melalui balon udara tersebut, kabarnya para penyelenggara komunikasi atau operator menggunakan pita spektrum 900MHz dengan teknologi netral.

Dengan Project Loon Google di Indonesia, diharapkan balon udara ini bisa menjadi solusi terbaik sebagai penyediaan jaringan di wilayah terpencil. Balon diungkapkan akan melintas pada lapisan stratosfer, dengan jarak ketinggian sekira 20 kilometer diatas permukaan laut dan diharapkan BTS udara ini bisa menjadi jawaban atas kebutuhan pembangunan infrastruktur yang sulit.


Baca perkembangan seputar artikel ini dengan topik: Project Loon