ArenaLTE.com – Walapun pencapain bisnis sepanjang 2015 diklaim memperlihatkan hasil positif, namun XL Axiata masih enggan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham. Karena pada dasarnya kondisi keuangan masih merugi. Hal ini terungkap saat perusahaan menggelar RUPS XL (Rapat Umum Pemegang Saham) yang digelar hari ini (10/3/2016) di Raffless Hotel, Jakarta.

RUPS XL menyetujui seluruh normalized net profit untuk dijadikan laba ditahan. Karena tidak signifikannya nilai tersebut untuk dijadikan dividen per lembar saham dengan mengacu kepada kebijakan Dividen Perseroan dan besaran nilai laba tahun berjalan setelah penyesuaian (normalized net profit) yang telah dibukukan Perseroan.

Tak hanya itu, perusahaan juga mencari cara untuk menggalang dana yang akan digunakan untuk membayar kembali pinjaman dari pemegang saham Axiata Group sebesar USD 500 juta. Dana tersebut dulunya dipakai untuk membeli operator Axis Telekomunikasi Indonesia pada 2014 silam. Setidaknya ada dua langkah strategis yang dilakukan.

Pertama, operator ini akan menjalankan monetisasi aset dengan menjual menara telekomunikasi yang dimiliki. Untuk hal ini, XL telah mengumumkan untuk menjalankan proses tender. Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin, Direktur and Chief Financial Officer XL mengatakan sudah ada beberapa perusahaan yang mengambil dokumen tender. Namun ia masih menolak untuk membeberkan detailnya. “Kami akan melepas sekitar 2.500 menara saja. Tidak akan menjual lagi 4.000 menara yang tersisa karena sangat krusial bagi core jaringan kami,” jelas Adlan.

Direksi XL AxiataLangkah berikutnya, RUPS XL memutuskan rencana penambahan modal melalui mekanisme penawaran umum terbatas II dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sebanyak-banyaknya 2.750.000.000 (dua miliar tujuh ratus lima puluh juta) Saham Biasa Atas Nama dengan nilai nominal Rp 100 (seratus Rupiah) per saham. Axiata yang akan mengambil bagian atas saham baru tersebut serta menggunakan hak tagihnya sebagai kompensasi setoran modal untuk menghapus kewajiban utangnya. Selain itu, perusahaan juga akan menjalankan program LTI (Long Term Incentive) 2016-2020 dengan menerbitkan saham baru (rights issue) sebanyak-banyaknya 265.000.000 (dua ratus enam puluh lima juta) lembar saham melalu mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Sementara itu Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini pada sesi Paparan Publik (Public Exposure) RUPS XL memaparkan pencapain bisnis perseroan sepanjang 2015 yang memperlihatkan hasil positif. Hal ini ditandai dengan antara lain ARPU pelanggan yang terus meningkat, serta trafik Data yang tumbuh signifikan lebih dari 35% pada kuartal 4 2015.

Pencapaian XL pada 2015 juga menunjukkan secara jelas kontribusi signifikan layanan Data terhadap pertumbuhan pendapatan. Hal ini terlihat dari trafik Data yang meningkat sebesar 54% di tahun 2015 dibanding tahun sebelumnya. Hal ini juga mendorong meningkatnya pendapatan layanan Data sebesar 14% di tahun 2015 dibanding tahun lalu. Peningkatan ini adalah yang terbesar dibandingkan layanan lainnya. Dilihat dari komposisi pendapatan layanan seluler, pendapatan dari layanan Data meningkat menjadi 32% dari jumlah pendapatan seluler.

Dari sisi infrastruktur, XL berkomitmen terus menjaga dan meningkatkan kualitas jaringan. Hingga akhir 2015, XL telah memiliki 58.879 BTS, meningkat 13% dari tahun sebelumnya. Jangkauan jaringan XL juga semakin luas, di mana lebih dari 92% untuk layanan 2G, dan lebih dari 50% untuk layanan 3G. XL juga terus menjalankan program modernisasi secara berkelanjutan dengan meningkatkan kualitas jaringan 2G dan 3G di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kecepatan jaringan, kapasitas, dan efisiensi energi yang lebih baik. Untuk menopang layanan 4G LTE pada spektrum 1800MHz yang telah diluncurkan secara komersial pada November 2015, XL telah membangun sebanyak 3.134 BTS 4G per akhir tahun 2015. Layanan internet cepat 4G LTE XL hingga saat ini tersebar di 36 kota. Perusahaan menargetkan 85 kota hingga akhir tahun 2016.

Dari sisi pengelolaan keuangan, seiring dengan transformasi, manajemen XL juga secara proaktif menjalankan rencana yang jelas dan konkret dalam memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui rangkaian program inisiatif “Balance Sheet Management“. Program ini mencakup percepatan pelunasan dan konversi hutang ke mata uang Rupiah senilai USD 590 juta. Langkah ini merupakan bagian dari upaya XL untuk melunasi semua portofolio hutang dalam US Dollar yang tidak disertai fasilitas lindung nilai. Pendapatan perseroan tetap tumbuh dan peningkatan terbesar dilihat pada EBITDA dan profitabilitas. Pada sisi pendapatan, XL juga berhasil mencetak pertumbuhan secara beruntun untuk tiga kuartal terakhir 2015. Pertumbuhan beruntun juga terjadi pada EBITDA dan EBITDA marjin. Namun, seperti disebutkan di atas, pemegang saham masih belum bisa memperoleh cuan (dividen) atas kinerja perusahaan.